Biografi Pendiri Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil

oleh -14 Dilihat

A. Kelahiran Syaikhona Moh. Kholil 
Syaikhona Moh. Kholil merupakan salah satu ulama besar yang berasal dari Bangkalan Madura Jawa Timur. Ia berperan penting dalam penyebaran Islam di Nusantara, para santrinya menyebar di nusantara. Beliaulah maha guru yang melahirkan alim ulama, cendekiawan, dan pahlawan nasional yang memberikan kontribusi yang luar biasa bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan jam’iyah nahdlatul ulama didirikan atas rekomendasi Syaikhona Moh. Kholil Bangkalan untuk mengumpulkan pengaruhnya dan membentuk organisasi sosial masyarakat terbesar di Indonesia.

Syaikhona Moh. Kholil lahir pada Hari Rabu, malam Kamis Tanggal 9 Safar  Tahun 1252 H. bertepatan dengan Tanggal 25 Mei 1835 M di Kampung Senenan, Desa Kemayoran, Kecamatan Bangkalan, Pulau Madura Jawa Timur dari pasangan KH. Abdul Latif dan Nyai Siti Khadijah. KH. Abdul Latif yang merupakan seorang ulama besar dan terkenal di Bangkalan merasakan kegembiraan yang teramat sangat. Karena hari itu, dari rahim istrinya yaitu Nyai Siti Khadijah lahir seorang anak laki-laki yang sehat.

Bayi yang sangat diharapkan kehadirannya ini, dalam benak KH. Abdul Latif diharapkan akan mengikuti jejak leluhur nenek moyangnya. Nenek moyangnya sangat berkhidmad kepada Islam di Tanah Jawa, yaitu Kanjeng Sunan Gunung Jati. Doa demi doa selalu dipanjatkan, dengan penuh harapan mudah-mudahan bayi ini kelak melanjutkan jejak perjuangan nenek moyangnya yang memimpin dan memandu umat. Seusai mengadzani telinga kanan dan mengqamati telinga kiri sang bayi, KH. Abdul Latif memohon kepada Allah agar mengabulkan permohonannya. Setelah diaqiqahi tujuh hari dari kelahirannya, kemudian diberi nama Moh. Kholil.

B. Silsilah Nasab Syaikhona Moh. Kholil
Berdasarkan manuskrip tulisan tangan Syaikhona Moh. Kholil bahwa beliau menulis silsilah keluarganya hanya sampai 4 generasi diatasnya, yaitu:
1. KH. Muharrom
2. KH. Abdul Karim
3. KH. Hamim
4. KH. Abdul Latif
5. Syaikhona Moh. Kholil.

Baca Juga : Syaikhona Moh. Kholil Menyemai Nasionalisme dengan Mendidik Para Santrinya

Sementara itu, dalam Buku Biografi Syaikhona Moh. Kholil Bangkalan yang ditulis oleh Syaifur Rahman yang berjudul “Surat Kepada Anjing Hitam” silsilah Syaikhona Moh. Kholil adalah sebagai berikut:
1. Nabi Muhammad Rasulullah Saw.
2. Sayyidah Fatimatuz Zahra r.a.
3. Sayyidina Husein bin Ali
4. Sayyidina Ali Zainal Abidin
5. Sayyidina Muhammad Baqir
6. Sayyidina Jafar Shodiq
7. Sayyidina Ali Al Uraidi
8. Sayyidina Muhammad Tsaqib
9. Sayyidina Isa
10. Sayyidina Ahmad Muhajir
11. Sayyidina Al Ardibur
12. Sayyidina Alwi
13. Sayyidina Muhammad
14. Sayyidina Alwi
15. Sayyidina Ali Kholi Qosim
16. Sayyidina Muhammad Shahib Mirbad
17. Sayyidina Ali
18. Sayyidina Abdul Malik
19. Sayyidina Abdullah Adhimah kham
20. Sayyidina Ahmad Syah Jalal
21. Maulana Jamaluddin Akbar
22. Maulana Ali Nuruddin
23. Maulana Umadaduddin Abdullah
24. Syarif Hidayatullah, Sunan Gunung Jati, Cirebon
25. Syarifah Khodijah (istri Sayyid AbdurRahman Baasyaiban)
26. Sayyid Sulaeman, Mojoagung, Jombang
27. KH. Abdullah
28. KH. Asror Karamah
29. KH. Muharram
30. KH. Abdul Karim
31. KH. Abdul Hamim
32. KH. Abdul Latif
33. Syaikhona Moh. Kholil

C. Riwayat Pendidikan Syaikhona Moh. Kholil
Semasa kecil Syaikhona Moh. Kholil belajar kepada sang ayah, KH. Abdul Latif berbagai pendidikan dasar agama dan akhlak yang mulia diajarkan oleh KH. Abdul Latif kepada Syaikhona Moh. Kholil.
Bakat Istimewa Syaikhona Moh. Kholil sudah tampak sejak kecil. Diantaranya beliau sudah mampu menghafal seribu bait nadzam kitab Alfiyah Ibnu Malik. Disamping itu beliau sangat cepat menguasai ilmu Fiqih dan Nahwu.
Setelah di didik dilingkungan keluarga sendiri, KH. Abdul Latif menyadari bakat yang dimiliki anaknya. Sehingga mengirim Syaikhona Moh. Kholil ke Berbagai Pondok Pesantren. Beliau dalam menuntut ilmu dibagi menjadi dua periode yaitu yang pertama periode Madura dan Jawa, kedua periode Makkah.

A. Periode Madura dan Jawa
Setelah mendapatkan pendidikan dari sang ayah Syaikhona Moh. Kholil melanjutkan pengembaraannya dalam mencari ilmu yang dimulai dari kota kelahirannya sendiri yakni Bangkalan, Madura. Diantara guru Syaikhona Moh. Kholil:

1. Guru Dawuh
Guru Dawuh ini juga dikenal dengan Bujuk Dawuh, bermukim di Desa Mlajah Bangkalan. Sistem yang diajarkan oleh Guru Dawuh ini bisa dibilang unik karena dilakukan secara nomaden, (tidak menetap pada satu tempat) dan kondisional.

2. Guru Agung
Beliau dikenal dengan Bujuk Agung, sewaktu Syaikhona Moh. Kholil belajar kepada Guru Agung ia tak kenal lelah belajar dengan konsisten

Sekitar tahun 1850-an ketika usia Syaikhona Moh. Kholil mau menjelang dewasa, beliau melanjutkan pengembaraan ilmunya ke beberapa Pondok Pesantren yang menjadi tempat Syaikhona Moh. Kholil menuntut ilmu antara lain :

1. Pondok Pesantren Langitan Tuban

Tepatnya di Desa Mandungan, Widang, Tuban, Jawa Timur. Syaikhona Moh. Kholil mondok di Pondok Pesantren Langitan untuk memperdalam ilmu Nahwu dan Shorrof. Pada saat itu Pondok Pesantren Langitan Tuban diasuh oleh KH. Mohammad Noer (wafat 1870 M). Sejak didirikan sampai sekarang, pondok pesantren ini tetap memegang teguh metode salaf dengan motto: “Al-muhafadzatu ala al-qadimi as-sholeh wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah” yang artinya adalah “menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik lagi”

2. Pondok Pesantren Canga’an Bangil, Jawa Timur

Setelah selesai belajar dari Pondok Pesantren Langitan Tuban, Syaikhona Moh. Kholil pindah ke Pondok Pesantren Canga’an Bangil, Jawa Timur. Pada saat itu pesantren tersebut diasuh oleh KH. Abdul Lathif. Di tempat tersebut Syaikhona Moh. Kholil memperdalam ilmu alat dan Fiqih.

3. Pondok Pesantren Darussalam, Kebon Candi, Pasuruan

Sepulangnya dari Pondok Pesantren Canga’an Bangil, Jawa Timur, rihlah pencarian ilmu Syaikhona Moh. Kholil pindah ke Pondok Pesantren Darussalam, Kebon Candi, Pasuruan. Waktu Syaikhona Moh. Kholil belajar di sana, pondok ini diasuh oleh KH. Arif.

4. Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan

Saat Syaikhona Moh. Kholil mondok di Pondok Pesantren Kebon Candi, beliau belajar pula kepada KH. Noer Hasan yang menetap di Sidogiri. KH. Noer Hasan dan Syaikhona Moh. Kholil masih mempunyai pertalian nasab. Jarak antara Kebon Candi dan Sidogiri sekitar 7 KM. Namun, untuk mendapatkan ilmu, Syaikhona Moh. Kholil muda rela melakoni perjalanan yang terbilang lumayan jauh setiap harinya. Setiap perjalanan dari Kebon Candi hingga ke Sidogiri, beliau tidak pernah lupa membaca Surah Yasin. Ini terus dilakukannya, sehingga beliau dalam perjalanan tersebut menyelesaikan Surah Yasin berkali-kali, konon ada yang menceritakan juga sampai selesai 41 kali.

5. Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Setail, Genteng Banyuwangi

Pesantren terakhir di Pulau Jawa yang dituju Syaikhona Moh. Kholil muda selanjutnya adalah Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Setail, Genteng Banyuwangi yang diasuh oleh KH. Abdul Bashar (wafat1915 M). Kisah Syaikhona Moh. Kholil muda yang mandiri dimulai dari pesantren ini. Pengasuh memiliki kebun kelapa yang cukup luas dan banyak. Syaikhona Moh. Kholil muda menjadi buruh pemetik kelapa.
Sesudah cukup di pesantren ini, gurunya menganjurkan Syaikhona Moh. Kholil belajar ke Makkah. Uang dalam peti yang dihaturkan kepada kiainya, diserahkan kembali pada Syaikhona Moh. Kholil agar dijadikan bekal dalam menuntut ilmu ke tanah suci Makkah.

B. Periode Makkah
Catatan manuskrip yang ditulis oleh Syaikh Mohammad Yasin bin Isa al-Padany, menyebutkan bahwa Syaikhona Moh. Kholil pertama kali berangkat ke Makkah pada tahun 1260 H/1843 M. Namun, dalam manuskrip kitab Alfiyah yang ditulis oleh beliau sendiri menyatakan bahwa beliau pergi ke Makkah berkali- kali, bahkan tercatat sampai 7 kali. Maka tidak heran jika dalam banyak sejarah yang lain menyebutkan bahwa Syaikhona Moh. Kholil muda juga menimba ilmu ke Makkah setelah dinikahkan dengan seorang putri bangsawan yang bernama Nyai Assek binti Lodrapati.

Pada masa itu belajar ke Makkah merupakan cita- cita semua santri. Untuk mewujudkan impiannya kali ini, Syaikhona Moh. Kholil tidak menyatakan kepada orang tuanya, apalagi meminta ongkos kepada kedua orang tuanya. Kemudian, setelah Syaikhona Moh. Kholil memutar otak untuk mencari jalan keluar, akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke sebuah pesantren di Banyuwangi, karena pengasuh pesantren itu terkenal mempunyai kebun kelapa yang cukup luas. Selama nyantri di Banyuwangi ini, Syaikhona Moh. Kholil menjadi “buruh” pemetik kelapa pada gurunya untuk setiap pohonnya, dia mendapat upah 2,5 sen. Uang yang diperolehnya tersebut dia tabung. Sedangkan untuk makan, Syaikhona Moh. Kholil muda menyiasatinya dengan mengisi bak mandi, mencuci dan melakukan pekerjaan rumah lainnya, serta menjadi juru masak teman-temannya. Dari situlah Syaikhona Moh. Kholil muda bisa makan gratis.

Pada tahun 1859 M, saat usia Syaikhona Moh. Kholil mencapai 24 tahun ia memutuskan untuk kembali pergi ke Makkah. Sebelum berangkat, Syaikhona Moh. Kholil menikah dahulu dengan Nyai Assek binti Lodrapati. Setelah menikah berangkatlah beliau ke Makkah. Sedangkan ongkos pelayarannya diambil dari hasil tabungannya selama menjadi santri di Banyuangi, dan selama perjalan beliau berpuasa dan berdzikir untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Siang hari Syaikhona Moh. Kholil membaca al-quran dan shalawat sedangkan malamnya membaca wirid bertaqarrub mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dan setelah tiba di Makkah beliau langsung bergabung Bersama teman-teman santri yang berasal dari Indonesia.

Syaikhona Moh. Kholil belajar kepada Syaikh Nawawi al-Bantani yang juga berasal dari Indonesia. Diantara gurunya di Makkah ialah Syaikh Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syaikh Mushthafa bin Mohammad Al-Afifi Al-Makki, Syaikh Abdul Hamid bin Mahmud Asy-Syarwani.
Beberapa sanad hadits musalsal diterima dari Syaikh Nawawi Al-Bantani dan Syaikh Abdul Ghani bin Subuh bin Ismail Al-Bimawi (Bima, Sumbawa).

Baca Juga : Syaikhona Kholil Bagaikan Imam Sibawaih

Secara lebih detail, berikut nama-nama guru Syaikhona Moh. Kholil muda hingga menimba ilmu di Makkah:
1. KH. Abdul Latif bin Kiai Hamim (w.1806 М), Bangkalan
2. Nyai Hj. Siti Maryam bin KH. Abdul Latif (1831 M), Bangkalan
3. KH. Kaffal bin KH. Abbas bin Hamzah, Bangkalan
4. KH. Dawuh, Tokoh Agama Mlajah Bangkalan
5. KH. Muqoddas bin Abdul Karim bin KH. Abbas, Sembilangan Bangkalan
6. Syaikh KH. Muhammad Nur (w.1880 M), Perintis Pondok langitan Tuban Lasem Rembang Jawa Tengah
7. KH. Abdul Latif (1800 – 1850 M.), Pondok Canga’an Bangil Pasuruan
8. K. Abu Dzarrin bin Abi Husain (1760-an M), Tugu Winongan Pasuruan
9. KH. Arif, Pondok Darussalam Kebon Candi Pasuruan
10. KH. Noer Hasan bin Nur Khotim, Pondok Sidogiri Pasuruan
11.KH. Abdul Bashar (w. 1915 M), Pondok Salafiyah Syafi’iyah Banyuwangi
12. Sayyid Ahmad al-Hulwani (1813 M ), Damaskus
13. Syaikh Utsman bin Hasan al-Dimyathi (1782 M – 1848 M), Dimyath
14. Syaikh Abdul Hamid al-Syarwani (w. 1887 M), Dagistan Rusia
15. Sayyid Muhammad bin Husain al-Habsyi (1788 M 1854 M), Hadramaut
16. Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan (1811 M – 1885 M), Makkah
17. Ibrahim al-Bajuri (1784 M – 1859 M), Mesir
18. Syaikh Hasabullah al-Makki (1829 M – 1917 M), Makkah
19. Sayyid Umar Barakat al-Syami, Syam Syiria
20. Syaikh Nawawi Al-Bantani (1815 M – 1897 М), Tanara Serang
21. Abdul Jalil bin Abdussalam Barradan Afandi (1826 M – 1909 M), Madinah
22. Sayyid Abdulah bin Aqil Bin Umar Bin Yahya al- Alawy (1862 M – 1932 M), Hadramaut Yaman
23. Amir Abdul Qadir bin Musthafa al-Jazairi (1807 M – 1855 M), Qaythanah Aljazair
24. Syaikh Abdurrahman bin Ahmad Al-Dahhan al- Hanafi (1866 M – 1919 M), Makkah
25. Ahmad Ismail bin Zainal Abidin al-Barzanji, Madinah
26. Syaikh Mahmud bin Kinan al-Palimbani (w. 1884 M), Palembang
27. Sayyid Muhammad bin Ali as-Sanusi (1787 M – 1859 M), Mustagonim
28. Syaikh Muhammad Murad al-Qazani (1854 M – 1933 M)
29. Abdurrahman bin Sulaiman bin Yahya bin Umar Maqbul al-Ahdal (1765 M – 1835 M)
30. Syaikh Abdul Ghani al-Mujaddi ad-Dahlawi (1820 M – 1879 M), Delhi India
31. Syaikh Abdullah bin Abdul Baqi As-Sya’bi al- Madani, Madinah
32. Syaikh Abdul Ghani bin Subuh Bima (w. 1854 M), Bima
33. Muhammad al-Minsyawi (1920 M), Suhaj Mesir
34. Abdulah bin Abdurrahman Siraj (1786 M – 1848 M), Makkah
35. Muhamad Falih ad-Dhahiri al-Madani (1845 М), Madinah.
36. Abdurrahman al-Kusbari al-Hafid (1771 M-1846 M), Syam Syiria.
37. Husein bin Husein, Makkah
38. As’ad bin Ahmad ad-Dahhan al-Hanafi, Makkah
39. Ahmad bin Hasan al-Atthas (1841 M – 1916 M), Haridhah Haramaut Yaman.
40. Sayyid Hafiduddin Jamalullail, Yaman.
41. Zainuddin al-Sumbawi, Sumbawa NTB.
42. Syaikh Abdul Karim as-Sambasi.

Selain itu Syaikhona Moh. Kholil sering mendatangi ulama besar di Makkah untuk menimba ilmu, dan dalam hal itu dilakukan selama empat tahun dan ada yang unik dalam pembelajaran Syaikhona Moh. Kholil, mencatat Pelajaran yang diajari oleh gurunya ke pakaiannya kemudian dihafalkan setelah hafal maka dicuci bajunya sampai kering dan dipakai lagi, cara belajar unik dari Syaikhona Moh. Kholil ini merupakan salah satu keistimewaan yang dimiliki oleh Syaikhona Moh. Kholil.

Konon katanya Syaikhona Moh. Kholil sering memakan kulit Semangka dari pada makanan lain yang lebih layak, dan kebutuhan sehari-harinya disana Syaikhona Moh. Kholil bekerja mengambil upah dengan cara menyalin pelajaran kitab yang diperlukan oleh para penuntut ilmu disana.

Diriwayatkan bahwa pada waktu itulah timbul ilham antara Syaikh Nawawi al-Bantani, Syaikhona Moh. Kholil dan Syaikh Shaleh (Semarang) untuk menyusun kaidah penulisan huruf Pegon. Huruf Pegon ialah tulisan Arab yang digunakan untuk tulisan dalam bahasa Jawa, Madura dan Sunda. Huruf Pegon tidak ubahnya tulisan Melayu/Jawi yang digunakan untuk penulisan Bahasa Melayu.

Baca Juga : Karomah Syaikhona Moh. Kholil, Bekas Paku Bekas Bisa Naik Haji

Syaikhona Moh. Kholil di Makkah mempelajari banyak ilmu, baik ilmu zahir maupun batin. Beberapa ilmu dzahir yang dipelajarinya antara lain; Tafsir, Hadis, Fiqih dan Nahwu. Kemudian ilmu batin yang dipelajarinya dengan cara mendatangi guru- guru spiritualnya. Salah satu guru spiritualnya adalah Syaikh Ahmad Khatib Sambas ibnu Abdul Ghofar yang tinggal di Jabal Qubais. Dari gurunya inilah beliau mendapatkan pelajaran batin tarekat Qadariyyah dan Naqsyabandiyah.

Terbilang cukup lama Syaikhona Moh. Kholil belajar di Makkah. Sewaktu pulang dari Makkah, beliau terkenal sebagai pakar Nahwu, Fiqh, Tarekat, dan ilmu-ilmu lainnya. Dikisahkan bahwa Syaikhona Moh. Kholil adalah pribadi yang sangat mencintai ilmu, menangis di hari Selasa dan Jum’at, lantaran aktivitas mengaji di hari itu diliburkan. Kecintaanya pada ilmu juga tergambar pada suatu riwayat tentang Syaikhona Moh. Kholil muda yang tak sempat menjumpai Matahari selama 4 tahun karena sibuk menggeluti Kitab Alfiyah yang selalu selesai (khatam) ditulisnya setiap 2 hari.

D. Mendirikan Pondok Pesanren
Setelah dikira selesai dalam mencari ilmu di Makkah maka Syaikhona Moh. Kholil kembali ke Tanah Airnya, tepatnya di Desa Jengkebuan Kabupaten Bangkalan dan kemudian mendirikan Pondok Pesantren disana.
Dalam Buku “Surat kepada Anjing Hitam, Biografi Syichona Cholil Bangkalan” yang ditulis oleh Saifur Rahman menyubutkan bahwa kepulangan Syaikhona Moh. Kholil ke tanah airnya merupakan perintah langsung dari gurunya, yaitu Syaikh Ali Rahbini dan kepulangannya itu pada tahun 1863 M.

Syaikhona Moh. Kholil mendirikan pondok pesanren kemudian lambat laun banyak santri yang berdatangan dari Pulau Jawa dan desa-desa sekitarnya, setelah itu Syaikhona Moh. Kholil memasrahkan kepemimpinan pesantren tersebut kepada menantunya yaitu KH. Muntaha atau yang dikenal juga dengan KH. Thoha (nama haji) bin KH. Kaffal setelah menikahi Nyai Hj. Hatimah. Lalu Syaikhona Moh. Kholil sendiri pindah ke Desa Kademangan Menurut KH. Syamsuddin Kholily Jengkebuan bahwa asal usul nama Desa Demangan adalah Kademangan. Menjadi Demangan karena kebiasan masyarakat Madura menyingkat nama dengan pelafalan yang singkat. (selanjutnya disebut Demangan), desa yang terletak sekitar 200 meter sebelah barat Alun-alun Kota Bangkalan.

Baca Juga : Sejarah Sumur Syaikhona Kholil yang tidak Pernah Kering Meskipun Musim Kemarau

Di sana Syaikhona Moh. Kholil mendirikan pesantren lagi dan menetap disana sampai wafat.
Berdasarkan naskah surat tulisan tangan Syaikhona Moh. Kholil yang berada di Jengkebuan, bahwa Syaikhona Moh. Kholil bermukim pertama kali di Demangan tertulis tahun 1309 H/ 1892 M. Sedangkan pada tahun sebelumnya 1308 H/ 1891 M tertulis bahwa beliau masih bermukim di Desa Jengkebuan. Dari beberapa naskah tulisan Syaikhona Moh. Kholil baik yang tertulis dibeberapa surat maupun kitab beliau, tidak ditemukan catatan tahun bermukimnya.

Kemudian, terdapat sebuah naskah kitab yang ditulis oleh KH. Suhaimi Rofi’udin yang menjelaskan perihal awal-awal Syaikhona Moh. Kholil pindah dari Jengkebuan ke Demangan dan mendirikan pondok pesantren. Kitab tersebut bernama al-Qoulu as-Shoreh fi Manaqibi Syaikhi al-Masyayikhi Kiagus Muhammad Sholeh Lateng, kitab yang menjelaskan tentang biografi Kiagus Muhammad Sholeh Lateng santri Syaikhona Moh. Kholil asal Banyuwangi.

Kiagus Muhammad Sholeh Lateng merupakan santri aktif yang menjadi petugas pembangunan Pondok Demangan. Kiagus Muhammad Sholeh sendiri adalah santri Syaikhona Moh. Kholil sejak dari Jengkebuan. Semenjak Syaikhona Moh. Kholil pindah dari Jengkebuen ke Demangan, Kiagus Muhammad Sholeh ikut Syaikhona Moh. Kholil ke Demangan.

Di Pondok Demangan, Kiagus Muhammad Sholeh Lateng diberi amanah mengurus pembangunan pondok. Kemudian beliau diutus Syaikhona Moh. Kholil untuk menemui KH. Sabar di Kota Surabaya guna membeli bahan-bahan material pembanguan seperti kayu dan alat-alat perlengkapan pembangunan lainnya. Berkat Kiagus Muhammad Sholeh Lateng.

Pembangunan Pondok Demangan berhasil rampung dengan baik.
Di Pondok Demangan ini Syaikhona Muhammad Kholil mendidik dan mensyiarkan agama Islam. Di benak masyarakat, sosok Syaikhona Moh. Kholil tidak hanya sebagai guru, tetapi sekaligus pencetak kader para guru. Pernyataan ini terbukti dari munculnya ulama-ulama Nusantara yang mampu menjadi pendiri pesantren besar di Jawa dan Madura. Sebagian besar pendiri pesantren di berbagai daerah di Indonesia mempunyai sanad (silsilah pertalian) keilmuan dengan Syaikhona Moh. Kholil. Hal tersebut menjadi bukti nyata akan peran beliau dalam menyebarkan dakwah Islam.

Dalam mendidik santrinya, Syaikhona Moh. Kholil memiliki berbagai metode didikan yang unik dan beragam. Karakter dan kondisi santri yang tengah menimba ilmu di Demangan bermacam- macam. Santri-santri ini datang dari latar belakang yang berbeda-beda. Para santri ditempa oleh Syaikhona Moh. Kholil dalam mendidik dan mengajar di pesantren secara lahiriah dan juga batiniah.

E. Santri-santri Syaikhona Moh. Kholil
Syaikhona Moh.Kholil Menguasai banyak macam ilmu terlebih dalam bidang ilmu gramatika arab yakni dalam nahwu shorrof, ilmu hadits dan ilmu fiqih. Dikenal sebagai mahaguru ulama Jawa pada masanya, sehingga masyhur di khalayak ramai dengan julukan syaikh al-Jawiyyin (mahaguru orang-orang Jawa). Sesuai dengan rencana awalnya, ia menetap di Bangkalan setelah sebelumnya meninggalkan daerah tersebut dalam waktu yang lama. Lantas ia membangun Kobong (tempat ibadah dan belajar-mengajar) agar dapat digunakan masyarakat untuk mendalami ilmu.

Terdapat sekitar 500.000 santri yang telah lulus di bawah asuhannya, tiga ribu diantaranya menjadi pemimpin umat dan dijuluki sebagai ‘pendiri’ Pulau Jawa, Pulau Sumatra dan Pulau Madura.
Selain itu, mereka (para muridnya) bergelar Kiai yang berarti ‘Al-‘Allamah al-Kabir’ (guru besar yang sangat alim). Diantara muridnya, terdapat lebih dari dua ratus orang keturunan Arab yang setiap orangnya mendapat gelar al-‘Allamah (guru besar) atau al- ‘Arif billah (ulama yang sangat dekat kepada Allah) atau juga al-Faqih (ahli fiqih).

Adapun diantara beberapa murid-muridnya yang bisa penulis tulis adalah sebagaimana berikut:
1. KH. Hasyim Asy’ari, Rais Akbar organisasi Islam Nahdlatul Ulama
2. KH. Abdul Wahhab Chasbullah
3. Sayyid Ahmad bin Hasan bin Jindan Al-Alawy.
4. Sayyid Salim bin Jindan.
5. Syaikh Imam bin Baqir bin Abdussalam Blitar (Malang).
6. Syaikhah Ummu Kulstum Bin Idris Basyaiban.
7. KH. Badar bin Hasan Abdullah al-Kemboni.
8. Ustadz Mansur bin Ahmad bin Ahmad al Mişri Sawahan.
9. KH. Nawawi bin Abdullah Mojokerto.
10. KH. Ahmad Ma’sum Lasem.
11. Syaikh Yasin bin Rais Pasuruan.
12. KH. Hasanuddin bin Musa Kregenan, qādi (hakim agung) Kraksan.
13. Sayyid Jakfar bin Muhammad al Haddad.
14. KH. Abu Tayyib Hasbullah Kenjeran.
15. Encik Abdul Halim bin Musa al-Malakawy al-Malizy Surabaya.
16. Syaikh Abdul Muhith bin Ya’qub Panji Sidoarjo.
17. Syaikh Abdul Aziz bin Abdul Wahab bin Shalih Lekok Pasuruan.
18. Sayyid Umar bin Shalih bin Syekh bin Zein Assegaf Surabaya.
19. Syaikh Shaleh bin Abdul Hadi al-Falimbani Banyuwangi.
20. KH. Shiddiq bin Haji Husain bin Musa bin Ali Kenjeran Surabaya.
21. KH. Ahmad bin Shiddiq bin Abdullah bin Sholih al-Lasemi.
22. KH. Toha bin Ahmad Sawahan, Imam Masjid Ampel Surabaya.
23. KH. Toha bin Abdullah Bangkalan (menantu Syaikhona Moh. Kholil),
24. Syaikh Sayyid Abul Asror Qotbuddin Abdullahbin Ali bin Hasan bin Husein al-Haddad Bangil.
25. Syaikh Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad Bamazru’ Surabaya.
26. Syaikh Abdurrahman Lekok Pasuruan.
27. Sayyid Abdurrahman bin Muhammad bin Abdurrahman Banhasan Surabaya.
28. Syaikh Abdurrahim bin Muhammad Bajabir at-Tarimi Surabaya.
29. Syaikh Abdurrahim bin Munadi bin Abdurrahman Malang.
30. Sayyid Hasan bin Abdurrahman bin Smith al-Alawy, menyimak hadits musalsal yaum ‘asyura’ langsung Kiai Kholil.
31. Sayyid Idrus bin Hasan bin Umar al-Munawwar.
32. Sayyid Muhammad Ahmad al-Habsyi.
33. Syaikh Salim bin Said bin Sumair, mendengarkan langsung hadis musalsal yaum ‘asyura’ dari Kiai Kholil.
34. Syaikh Muzahim bin Salim Bawazir.
35. Al-Allamah Al-Musnid Nuruddin Azhari bin Ali As-Syaibani Surabaya.
36. Syaikh Iwadl bin Said bin Iwadl Bawasith Surabaya.
37. KH. Manab (Abdul Karim) Lirboyo Kediri, wafat 21 Ramadan 1372 Hijriah.
38. KH. Ramli Paterongan Jombang, Wafat 17 Ramadan 1377.
39. KH. Kholil bin Harun Rembang, pengarang l’anat at-tullab Nadm Qatr an Nada, wafat 2 Rabiul Awal 1358.
40. KH. Kholil Fattah Mangunsari Tulungagung.
41. KH. Ibrohim Haji Syamsuddin (Kiai As’ad Syamsul Arifin) Pendiri Pondok Pesantren Sukorejo.
42. KH. Khazin Panji Sidoarjo.
43. KH. Zubair bin Abdul Quddus Demak, menyimak langsung hadits musalsal yaum ‘asyurā dari Kiai Kholil.
44. KH. Nawawi bin Nur Hasan bin Hatim Sidogiri.
45. KH.Bahruddin Sidogiri.
46. KH. Ma’ruf Kedunglo Kediri.
47. KH.Sholeh Lateng Banyuwangi.
48. KH. Syarifuddin Kalisat Jember.
49. KH. Abdul Aziz Bangkalan Madura.
50. KH. Khatib Ketengan Bangkalan.
51. KH. Munir Jambu Bangkalan.
52. KH. Muhammad Yasin bin Ya’qub (menantu Kiai Kholil/suami Nyai Asma).
53. KH. Abdul Hamid (kakek Kiai Abdul Hamid Baqir bin Abdul Majid) Pamekasan Madura.
54. KH. Syarqawi Marasen Sampang Madura.
55. KH. Siraj Kajuk Sampang Madura.
56. KH. Makki bin Hasan Sampang Madura.
57. KH. Imam Karay Sumenep Madura.
58. KH. Zainal Arifin Sumenep Madura.
59. KH. Tubagus Bakri As-Sempuri.
60. Syaikh Abdullah bin Isa Az-Zabidi, menyimak hadits musalsal yaum ‘asyurā langsung dari Kiai Kholil.
61. Syaikh Abdullah bin Said Al-‘Amudi, menyimak hadits musalsal yaum ‘asyurā langsung dari Kiai Kholil.
62. Sayyid Umar bin Saleh Assegaf, menyimak langsung hadits musalsal yaum ‘asyurā dari Kiai Kholil.
63. Sayyid Alawy bin Muhammad Balfaqih, menyimak langsung hadits musalsal yaum ‘asyura Kiai Kholil.

F. Beberapa karya Tulis Syaikhona Kholil
Syaikhona Muhammad Kholil sangat menyukai kegiatan menulis, baik menyadur kitab lain maupun menyusun buah pikiran beliau sendiri ke dalam tulisan. Dikisahkan bahwa beliau menyalin kitab Alfiyah lalu menjualnya sebagai penghidupan selarna di tanah suci. Selain menyadur kitab, beliau juga suka menulis svair-syair maupun kisah-kisah yang penuh hikmah (Abdul Mun’im Cholil, 2018).

Adapun karya-karya Syaikhona Muhammad Kholil berdasarkan informasi dari Lajnah Turots Ilmi Syaikhona Moh. Kholil Bangkalan, yang dapat dilacak keberadaannya hingga saat ini adalah:

1. Al-Matnu as-Syarif (Panduan fikih ibadah). Kitab ini selesai ditulis oleh Syaikhona Moh. Kholil pada hari Rabu, tanggal 17 Rajab 1299 H. Kitab ini dicetak oleh Maktabah Musthafa al-Babi al-Halabi Mesir pada tahun 1934 Masehi, bertepatan dengan tahun 1353 Hijriyah. Kemudian karya ini ditashih dan diterjemahkan dengan cara pemaknaan Jawa pegon oleh KH. Ahmad Qusyairi bin Shidiq Pasuruan. Kitab ini juga dicetak oleh Maktabah Kholid bin Ahmad bin Nabhan Surabaya, juga diterjemahkan dengan menggunakan metode pegon berbahasa Madura oleh KHR Abdul Majid Tamim, dan ditulis oleh Habib Idrus bin Hasan al-Khirid pada tahun 1409 Н.

2. As-Silah fi Bayan al-Nikah merupakan buku panduan tentang pernikahan, dapat dilacak dari sebuah salinan manuskrip oleh KH. Ahmad Qusyairi bin Shidiq Pasuruan. Kemudian kitab ini dicetak di Surabaya.

3. Rotib Syaikhona Kholil. Pada awalnya disebarkan dalam bentuk selebaran oleh KH. Cholil bin KH. Moh Yasin Kepang pada tanggal 28 Ramadhan 1404 H., dan saat ini sudah dicetak ulang oleh Lajnah Turots Ilmy Syaichona Muhammad Kholil pada Tahun 2019 dan 2020.

4. Isti’dad al-Maut yang berisi panduan fiqih jenazah. Dalam kitab aslinya termaktub tanggal 3 Dzul Qa’dah 1309 H. Kemudian kitab ini disalin dan dicetak oleh Lajnah Turots pada tahun 2019 M.

5. Taqrirat Nuzhah Thullab (kaidah I’rob, gramatika Arab), dalam tulisan aslinya termaktub tahun 1315 H., lalu disalin dan dicetak oleh Lajnah Turots pada tahun 2019 M.

6. al-Bina’ Dhimna Tadrib wa Mumārasah (dalam ilmu Sharaf), termaktub tanggal 3 Syawal 1309 H. Kitab ini sudah disalin dan dicetak oleh Lajnah Turots pada tahun 2020 M.

7. Taqrirat Matn al-lzzi (dalam ilmu Sharraf), termaktub tahun 1309 H dan sudah disalin serta dicetak oleh Lajnah Turots pada tahun 2020.

8. Muktasahar Fiqh Ibadah, lengkap dengan makna Jawa pegon, bertahun 13 Ramadhan 1308 H.

9. Buku Khutbah (memuat satu khutbah Jumat, dan dua khutbah untuk dua Hari Raya), bertahun Jum’at 19 Ramadhan 1323 H.

10. Buku Dzikir dan Wiridan, bertahun Ramadhan 1323 H.

11. Al-Awamil, makna pego Jawa dan taqrir (Nahwu tingkat dasar). bertahun 1309 Η.

12. Jauharah al-Tauhid dan makna pego Jawa (ilmu tauhid).

13. Bad-u al-Amali dan makna pego Jawa.

14. Kitab Wasiat bi Taqwa Allah, dan makna pego Jawa, bertahun 1308 H.

15. Qashidah Hubbi li Sayyidana Muhanımad dan makna, bertahun 1309 H.

16. Taqrirat Nazham al-Jazariyyah (ilmu tajwid), bertahun 1314 Η.

G. Inspirator Berdirinya Nahdlatul Ulama
Berdirinya organisasi Nahdlatul Ulama, tidak bisa dilepaskan dari peran Syaikhona Moh. Kholil Bangkalan. Peran Syaikhona Moh. Kholil sangat vital sebagai insipirator dan penentu pendirian Nahdlatul Ulama. Meskipun pada saat Nahdlatul Ulama secara resmi berdiri, Beliau sudah wafat.

Tetapi nilai-nilai dan pemikiran Syaikhona Moh. Kholil terkait dengan sebuah Jam’iyah menjadi pondasi bagi pendiri Nahdlatul Ulama melalui KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, dan KH As’ad Syamsul Arifin. Nilai-nilai inilah kemudian ditransformasi dan diimplementasikan dalam ruh perjuangan dan dasar organisasi Nahdlatul, bermula pada tahun 1920, saat itu sebanyak 66 ulama se Nusantara datang ke Bangkalan Madura untuk sowan (Madura-red) ke Syaikhona Moh. Kholil Bangkalan yang merupakan Maha Guru Nusantara pusat peradaban islam pada masa itu.

Para ulama ingin menyampaikan keresahan mereka mengenai kemunculan kelompok Islam baru di Indonesia yang menolak ajaran ahlussunnah wal jamaah beraliran paham Wahabi. Aliran tersebut mencoba menggerogoti ajaran ahlussunnah wal jamaah yang sudah lama mengakar di bumi Nusantara.
Seperti yang sudah di ketahui bahwa agama islam masuk ke Indonesia melalui Wali Songo yang berpaham Ahlussunnah wal jamaah, dengan menganut salah satu empat bermazhab, yaitu Maliki, Hanafi, Syafii dan Hanbali akan tetapi kebanyakan Mazhab Syafii.

Aliran baru ini, meng-klim dirinya sebagai pembaharu, mereka mengatakan ajaran islam yang benar adalah murni langsung dari al-Quran dan as-Sunnah (hadis), mereka menuduh paham aswaja adalah bid’ah, syirik, dan sebagainya.

Apalagi mereka mereka di dukung dan di fasilitasi oleh Hindia Belanda, hal ini karena pemerintah kolonial Belanda merasa terancam dengan adanya para ulama yang menjadi tokoh masyarakat.

Dari hal itulah para ulama hawatir aliran tersebut akan menghancurkan ahlussunnah wal jamaah. Jalan satu-satunya mereka meminta petunjuk kepada Syaikhona Moh. Kholil sang wali Allah maha guru pada masa itu. tetapi para ulama tidak langsung menemui Syaikhona Moh. Kholil karena para ulama merasa sungkan untuk langsung menemui Syaikhona Moh. Kholil, mereka meminta bantuan pada KH. Muntaha di Desa Jengkebuen yang merupakan menantu Syaikhona Moh. Kholil.

Sebelum KH. Muntaha beranjak keluar untuk sowan, Syaikhona Moh. Kholil sang wali Allah sudah mengetahui akan datangnya para ulama tersebut, sehingga Syaikhona Moh. Kholil menyuruh utusan yang bernama Nasib untuk membacakan sebuah ayat al-Quran Surat as-Shaf ayat 8 ;

يُرِيدُونَ لِيُطْفِـُٔوا۟ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفْوَٰهِهِمْ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوْ كَرِهَ ٱلْكَٰفِرُونَ

Artinya: Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”.
Ayat itu ternyata jawaban dari keresahan para ulama yang berkumpul di rumah menantunya. lewat ayat itu, secara tersirat Syaikhona Moh. Kholil meminta para ulama untuk tidak khawatir atas kemunculan aliran baru dalam Islam itu. Sehingga membuat ulama puas dan kembali pulang ke daerah masing-masing.

Pada tahun 1922, para ulama sebanyak 46 berkumpul di surabaya kediaman KH. Mas Alwi Abd. Aziz untuk mencari solusi atas kemunculan kelompok Islam yang tidak senang pada ajaran ahlussunnah wal jamaah, dan membahas keberlangsungan rencana pembentukan jam’iyah ulama akan tetapi tidak menghasil apa-apa.
Kemudian salah satu kiai akhirnya memberanikan diri untuk menghadap Syaikhona Moh. Kholil di Bangkalan. dia bercerita pernah membaca tulisan Sunan Ampel sewaktu nyantri di Kota Madinah.

Isinya menceritakan Sunan Ampel yang pernah bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW. dalam mimpi itu Nabi Muhammad SAW berpesan agar ajaran ahlussunnah dibawa ke Indonesia karena orang-orang arab sendiri tidak mampu melaksanakannya.

Kemudian KH. Abdul Wahab Chasbullah (1888-1971) sekitar tahun 1924 menggagas pendirian Jam’iyah yang langsung disampaikan kepada KH. Hasyim Asy’ari untuk meminta persetujuan. namun, KH. Hasyim Asy’ari tidak lantas menyetujui terlebih dahulu sebelumnya, ia melakukan sholat istikharah untuk meminta petunjuk kepada Allah SWT.

Hasyim Asy’ari melakukan sholat istikharoh beberapa kali namun petunjukpun tak kunjung datang . rupanya, petunjuk Allah SWT terhadap berdirinya Nahdlatul Ulama tidak diberikan langsung kepada KH. Hasyim, tetapi datang melalui gurunya yaitu Syaikhona Moh. Kholil Bangkalan.

Ketika petunjuk Allah SWT datang, Syaikhona Moh. Kholil segera memanggil muridnya yang bernama As’ad Samsul Arifin, santri senior berumur 27 tahan (Pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo). “As’ad,” kata Syaikhona Moh. Kholil. “yaa… Kiai,” jawab As’ad dengan ta’dhim pada sang guru.
“As’ad, tongkat ini kamu antarkan kepada KH. Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang,’’pesan Syaikhona Moh. Kholil sambil menyerahkan tongkat tersebut pada As’ad. ‘’dan tolong kamu bacakan surat Thaha ayat 17-23 kepada Hasyim Asy’ari”, pesan Syaikhona Moh. Kholil menutup pembicaraannya.

Begitu menerima perintah As’ad segera berangkat ke Tebuireng, kediaman KH. Hasyim Asy’ari dengan menempuh jarak yang cukup jauh, ia berjalan kaki sambil memegang tongkat.
Setibanya As’ad di Tebuireng. Mendengar adanya utusan gurunya Syaikhona Moh. Kholil Bangkalan KH. Hasyim Asy’ari menduga pasti ada sesuatu yang sangat penting.

“Kiai saya di utus Syaikhona Moh. Kholil untuk mengantarkan dan menyerahkan tongkat ini, kepada kiai”, kata As’ad sambil menyerahkan tongkatnya. Tongkat itu di terima dengan penuh haru perasaan, kemudian KH. Hasyim bertanya kepada As’ad . “apa tidak ada pesan dari Syaichona Cholil As’ad ?”, As’ad kemudian langsung membaca :

وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى (١٧) قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى (١٨) قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى (١٩) فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى (٢٠) قَالَ خُذْهَا وَلا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الأولَى (٢١) وَاضْمُمْ يَدَكَ إِلَى جَنَاحِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ آيَةً أُخْرَى (٢٢) لِنُرِيَكَ مِنْ وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى (١٧) قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى (١٨) قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى (١٩) فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى (٢٠) قَالَ خُذْهَا وَلا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الأولَى (٢١) وَاضْمُمْ يَدَكَ إِلَى جَنَاحِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ آيَةً أُخْرَى (٢٢) لِنُرِيَكَ مِنْ آيَاتِنَا الْكُبْرَى

Artinya: “Apakah itu yang di tangan kananmu wahai Musa? “Ini adalah tongkat, aku bertelekan kepadanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya”. Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa! Lalu dilemparkanlah tongkat itu, tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah SWT berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengemabalikan pada keadaan semula. Dan Kepitlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia akan keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacat – sebagai mukjizat yang lain (pula) – untuk kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar.”
Mendengar ayat-ayat yang di bacakan As’ad, hati KH. Hasyim Asy’ari bergetar, matanya menerawang terbayang wajah Syaichona Moh. Cholil yang sangat tua dan bijaksana.
“Oh…iya, berati ini berkaitan dengan rencana untuk mendirikan Jam’iyah ulama itu’’, kata KH. Hasyim Asy’ari sambil terharu.

Hasyim Asy’ari Menangkap isyarat, bahwa gurunya Syaikhona Moh. Kholil tidak keberatan untuk mendirikan sebuah organisasi, jam’iyah. Sejak saat itulah keinginan KH. Hasyim Asy’ari tidak ragu lagi untuk mendirikan sebuah jamiyah. Kemudian dimusyawarahkan dan dirumuskan sesuatu yang berkenaan dengan organisasi tersebut.
Demikian hari demi hari, bulan demi bulan, organisasi yang di cita-citakan belum berdiri. sampai Syaikhona Moh. Kholil mengutus As’ad kembali untuk menyerahkan tasbih kepada KH. Hasyim Asy’ari.

Seperti hanya tongkat, tasbih inipun disertai pesan oleh Syaikhona Moh. Kholil pada As’ad berupa bacaan salah satu asmaul husna yaitu Ya Jabbar, Ya Qohhar sebanyak 3 kali.
Berangkatlah As’ad ke Tebuireng Jombang untuk mengantarkan tasbih yang diberikan Syaikhona Moh. Kholil kepada KH. Hasyim Asy’ari. Setelah As’ad menempuh perjalanan yang cukup panjang dengan berjalan kaki, yang tentu saja, suka duka dialaminya dalam tugasnya ini.

Seperti yang telah di tuturkan oleh As’ad sendiri, bahwa dalam perjalanannya di jumpai orang mengatakan bahwa di rinya adalah orang gila sebab berkalungkan tasbih sambil berjalan kaki akan tetapi ada juga yang mengatakan As’ad adalah seorang wali Allah SWT.

Akhirnya As’ad tiba di Tebuireng, kemudian berkata “Sesampainya di Tebuireng, saya bertemu dengan KH. Hasyim dan menyerahkan tasbih sambil membungkuk. KH. Hasyim Asy’ari sendiri yang mengambil tasbih itu dari leher saya’’, tasbih yang di serahkan kepada KH. Hasyim Asy’ari tidak berubah dari sisi semula sejak di kalungkan oleh Syaikhona Moh. Kholil.

“Saya tidak berani mengubahnya, meskipun di perjalanan banyak orang yang menertawakan dan mungkin saya di anggap gila”, kata As’ad mengenang perjalanan yang tidak bisa melupakan kejadian tersebut.
Lanjutnya, KH. Hasyim Asy’ari punya reaksi berbeda saat menerima kedua benda tersebut. Saat menerima tongkat, KH. Hasyim Asy’ari berujar bahwa dengan tongkat itu hatinya makin mantap untuk mendirikan organisasi bernama Jam’iyatul Ulama, nama awal NU sebelum berubah menjadi Nahdlatul Ulama.

Sejak saat itu dimatangkanlah persiapan untuk mendirikan organisasi tersebut, namun karena membutuhkan waktu yang lama dalam persiapannya, sampai Syaikhona Moh. Kholil wafat pada tahun 1925 jam’iyah tersebut belum resmi didirikan.

Kemudian pada tahun 1926 KH. Wahhab Chasbullah membuat sebuah panitia kecil. yang bernama Komite Hijaz, Panitia ini bertugas menemui Raja Ibnu Saud di Hijaz (Saudi Arabia) untuk menyampaikan beberapa permohonan. Hal ini disebabkan Semenjak Ibnu Saud, Raja Najed yang beraliran Wahabi, menaklukkan Hijaz (Mekkah dan Madinah) tahun 1924-1925, aliran Wahabi sangat dominan di tanah Haram.

Kelompok Islam lain dilarang mengajarkan mazhabnya, bahkan tidak sedikit para ulama yang dibunuh. Saat itu terjadi eksodus besar-besaran para ulama dari seluruh dunia yang berkumpul di Haramain, mereka pindah atau pulang ke negara masing-masing, termasuk para santri asal Indonesia.

Setelah Komite Hijaz ini, direstui oleh KH. Hasyim Asy’ari, maka pada 31 Januari 1926, Komite Hijaz mengundang ulama terkemuka untuk mengadakan pembicaraan mengenai utusan yang akan dikirim ke Muktamar Mekkah.
Para ulama dipimpin K.H Hasyim Asy’ari datang ke Kertopaten, Surabaya dan sepakat menunjuk KH. Raden Asnawi Kudus sebagai delegasi Komite Hijaz. namun, timbul pertanyaan siapa atau institusi apa yang berhak mengirim KH. Asnawi.

Dari situasi dan kondisi tersebut maka lahirlah Jam’iyah Nahdlatul Ulama, nama yang diusul KH. Mas Alwi bin Abdul Aziz pada 16 Rajab atau bertepatan dengan 31 Januari 1926. Riwayat-riwayat tersebut terkait satu sama lain, yaitu ikhtiar lahir dan batin. lalu didaftarkan pada Gubernur Hindia Belanda. Salah satu penyusun anggaran dasar organisasi Jam’iyah nahdlatul ulama, saat itu adalah KH Dahlan Nganjuk.

Peristiwa sejarah itu juga membuktikan lahirnya Nahdlatul Ulama tidak hanya untuk merespon kondisi rakyat yang sedang terjajah, persoalan keagamaan, dan persoalan sosial di Tanah Air, tetapi juga menegakkan warisan-warisan kebudayaan dan peradaban Islam yang telah diperjuangkan Nabi Muhammad dan para sahabatnya.

H. Gelar Syaikhona kepada KH. Moh. Kholil
Gelar “Syaikh” (Guru/red) dalam tradisi Islam disematkan kepada seseorang karena kedalaman ilmunya dibidang agama seperti fiqh, nahwu, tasawuf, tafsir dan lain sebagainya, maka penyematan gelar Syaikh kepada KH. Moh. Kholil Bangkalan atau yang lebih akrab disapa Mbah Kholil bukan hanya dikarenakan hal tersebut.

Gelar “Syaikhona” (Guru Kami/red) yang disandingkan dengan nama KH. Moh. Kholil bin KH. Abdul Latif itu selain karena kedalaman ilmunya juga karena kontribusinya mencetak ribuan bahkan jutaan santri dari berbagai penjuru Nusantara hingga yang berasal dari luar negeri sebagaimana yang dicatat dari manuskrip Syaikh Yasin bin Isa al-Fadani tentang biografi Mbah Kholil Bangkalan.

Bahkan dalam sebuah manuskrip KH. Qusyairi pasuruan, salah satu santri Syaikhona Moh. Kholil, sebagai pengantar atas diterbitkannya kitab As-Silah fi Bayan al-Nikah karya Mbah Kholil, KH. Ahmad Qusyairi menulis kesaksian tentang gurunya sebagai berikut.

هذا كتاب السلاح في بيان النكاح تأليف من هو في علم نحو سيبويه وفي الفقه مثل الإمام النووي وفي الولاية والكشف وكثرة الكرامات مثل القطب الجيلاني بل وفي سنه ايضا فإنه يكن من كراماته الا ان اغلب أهل جاوه مع اختلاف لغاته رضي الله عنه وعنهم ولد في نرغب ومات في كمال ولو لم يكن من كراماته الا ان اغلب أهل جاوه مع اختلاف لغاتهم من المريكي والمدوري والسندوي وشرذمة من الملايوي من تلاميذه شخصا وأبا على الأكثر بل وجدا أيضا على الأقل لكفى الا هو العلامة العمدة والصالح القدوة شيخنا الاستاذ العارف الرباني سيدي الشيخ خليل بن عبد اللطيف البنكلاني اعلى الله درجته في دار التهاني

Kitab ini adalah kitab As-Silah fi Bayan al-Nikah karangan seseorang yang dalam ilmu nahwu ibarat Imam Sibawaih, dalam ilmu fiqh ibarat Imam Nawawi, dalam hal kewalian kasyf dan karomah-karomah beliau ibarat Syaikh Abdul Qodir al-Jilani.

Pernyataan KH. Ahmad Qusyairi tentang Mbah Kholil dalam kutipan manuskrip diatas menunjukkan betapa Mbah Kholil memiliki andil besar dalam proses pendidikan di Nusantara dengan santri-santri mulai dari Madura, Jawa, Sunda dan Melayu sehingga dalam hal ada santri di Tanah Jawa yang merasa sudah mempuni ilmunya untuk mendirikan Pesantren sebelum mondok kepada Mbah Kholil maka akan segera direkomindasikan oleh gurunya untuk menuntaskan pengembaraan ilmiah dengan belajar kepada Mbah Kholil sebagai pemungkas.

I. Beberapa Masjid yang didirikan oleh Syaikhona Moh. Kholil

Diantara jejak kiprah Syaikhona Moh. Kholil adalah tegaknya Masjid namun penulis hanya mencantimkan beberapa masjid yang didirikan oleh Syaikhona Moh. Kholil di wilayah Bangkalan. Masjid peninggalan Syaikhona Moh. Kholil terletak di rempat-tempat yang strategis seperti diakses utama (jalan raya) dan wilayah pesisir. Tidak semua masjid yang penulis sebutkan dibangun langsung oleh Syaikhona Moh. Kholil karena ada beberapa masjid ada sudah dari awal, namun kemudian mengalami pemugaran yang diinisiasi oleh Syaikhona Moh. Kholil, diantara masjidnya adalah :
1. Masjid di Desa Lajing, Arosbaya
Terletak di sisi utara Kota Bangkalan, tepatnya di Dusun Banyuajuh, Desa Lajing Kecamatan Arosbaya, Bangkalan. Dinamai Masjid Al Moammar, terpahat pada gerbang masjid itu, keterangan beraksara Arab: المسجد شيخنا محمد خليل المعقر في بايواجوه
Di depan masjid adalah jalan raya yang menghubungkan Bangkalan-Sampang Pamekasan-Sumenep melalui jalur Pantura. Pada bedug besar di masjid itu terdapat keterangan “Masjid Al Moammar Syechona Mohammad Kholil bin Abdul Latif Th. 1324 Banyuajuh”. Kalau tahun tersebut merujuk kepada tahun pembangunan masjid, itu artinya masjid Al Moammar sudah berdiri sekitar 122 Tahun yang lalu menurut hitungan Hijriah 1324 s/d 1446.

2. Masjid di Desa Bulukagung, Klampis
Setelah Masjid Banyuajuh, kearah utara (sekitar 12 kilometer) terdapat Masjid Syaikhona Moh. Kholil yang dibangun kisaran tahun 1910 hingga 1912 Masehi. Terletak diakses utama jalan Pantura di Kecamatan Klampis.

3. Masjid di Desa Telaga Biru, Tanjung Bumi
Masih kearah utara, tepatnya 22 kilometer setelah Masjid Bulukagung Klampis Bernama Masjid al Mubarok, dan disekitar sini juga terdapat sebagian peninggalan Syaikhona Moh. Kholil berupa rumah, musholla dan benda artefak lainnya.

4. Masjid di Desa Bilaporah, Socah

Masjid ini didirikan sekitar tahun 1914 Masehi. Pada halaman masjid terdapat sumur peninggalan Syaikhona Moh. Kholil yang masih dimanfaatkan oleh masjid dan warga sekitar.

5. Masjid di Desa Keleyan, Socah
Gerbang Masjid yang memuat ornamen lukisan kaligrafi arab bertulis: Masjid Syaikhona Moh. Kholil “Nurus Sholihin” نور الصالحين Masjid ini terletak di selatan Kota Bangkalan sekitar Enam Kilometer.

6. Masjid di Desa Labang Baru, Labang
Masjid ini berada di Desa Labang Baru (dulunya Desa Morkepek) dan di Desa ini juga tempat kediaman istri Syaikhona Moh. Kholil yaitu Nyai Mesi. Masjid ini mengalami pemugaran di zaman KH. Kholil Yasin Kepang dan direnovasi oleh KH. Amin Kholil Yasin sekitar tahun 1991 Masehi.

7. Masjid di Desa Petapan, Labang
Masjid ini berada di desa paling utara Kecamatan Labang dan sudah ada jauh sebelum zaman Syaikhona Moh. Kholil. Pada 1909, sebagaimana yang tampak pada gambar, Syaikhona Moh. Kholil mengaktifkan masjid ini sekaligus melakukan pemugaran dan renovasi. Di komplek masjid terdapat pemandian atau yang biasa disebut sumber mata air Petapan.

8. Masjid di Desa Tebul, Kwanyar
Masjid ini berada di kawasan pesisir, persis di pinggir laut lepas.

9. Masjid Jengkebuan, Bangkalan
Masjid ini terletak di kecamatan Bangkalan (kota) dan berada di satu komplek dengan pesantren Jengkebuan, pesantren pertama yang didirikan oleh Syaikhona Moh. Kholil -yang setelahnya Syaikhona pindah ke Demangan hingga wafat. Sementara pesantren Jengkebuan diserahkan kepada menantunya, KH.i Muntaha (suami dari Nyai Hatimah, putri Syaikhona Moh. Kholil dari pernikahannya dengan Nyai Asik).

J. Wafatnya Syaikhona Moh. Kholil
Syaikhona Moh. Kholil wafat pada 29 Ramadhan 1343 Hijriah bertepatan dengan 1925 M. Saat itu, putrinya yang bernama Hatimah berusia 9 tahun. Pemakamannya dihadiri oleh pelayat yang berjumlah kurang lebih lima ratus ribu orang. la dikebumikan setelah shalat asar. Maqbarah-nya ditutupi kubah di atasnya, sampai saat ini didatangi oleh para peziarah.

Penulis: Fakhrul
Referensi:
Buku Pondhuk Demmangan yang ditulis oleh Tim Turots Ilmie MDS. Ma’arif PP. Syaichona Moh. Kholil.
• Buku Sirah Syaichona Moch. Cholil “Meneladani Jejak dan Perjuangan Sang Maha Guru” yang diterbitkan oleh Robithoh Ma’ahidil Islamiyah NU Cabang Bangkalan.
• Buku Ikhtisar Syaikhona Kholil diterbitkan oleh Lajnah Turots Ilmi Syaikhona Muhammad Kholil.
• Buku Surat Kepada Anjing Hitam “Biografi dan Karomah Syaichona Cholil Bangkalan”, yang ditulis oleh Syaifur Rahman.

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.