Jumat, 28 Oktober 2025, pembukaan Bathsul Masail Wustha ke-15 dikemas dengan acara seminar dan bedah kitab Matnus Syarif karya Syaichona Moh Cholil. Bertempat di halaman Pondok Pesantren dan dihadiri oleh KH. Toifur Ali Wafa sebagai pemateri dalam acara tersebut
Beliau dirasa sangat pantas untuk membedah kitab karya ulama besar Syaichona Moh Cholil ini, karena selain memiliki kapasitas ilmu yang mumpuni, beliau juga memiliki sanad yang dekat dan jelas dengan pengarangnya
Di antara materi yang disampaikan oleh beliau adalah tentang sanad atau mata rantai keilmuan yang bersambung kepada Syaichona Moh Cholil. Beliau menyampaikan bahwa ada dua jalur sanad kitab Matnus Syarif yang beliau miliki yang bersambung kepada Syaichona Moh Cholil Bangkalan
Dua sanad tersebut adalah sanad ‘alin (tinggi) dan sanad nazil (rendah). “Adapun sanad ‘alin, saya berguru kepada ayah saya sendiri yaitu KH. Ali Wafa, dan ayah saya berguru langsung kepada Syaichona Moh Cholil,” tutur KH. Toifur
“Sedangkan sanad nazil, saya berguru kepada Syeikh Ismail Usman Zain, Syeikh Ismail berguru kepada Syekh Yasin bin Isa Al-Fadani, Syekh Yasin Isa berguru kepada Syekh Baqir bin Nur Al-Jogjawi, Syekh Baqir berguru kepada Syekh Muhammad Mahfud At-Turmusi, dan Syekh Mahfud berguru kepada Syaichona Moh Cholil bin Abdul Latif,” imbuhnya
Beliau menjelaskan bahwa mencari sanad ilmu yang ‘alin itu juga dianjurkan, sebagaimana dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hambal bahwa tholabu uluwil isnad minad din. Di antara kelebihan sanad ‘alin adalah qillatu ihtimalil khata’, menyedikitkan kekeliruan, karena gurunya tidak banyak.
Cuman, dalam mustalah hadis, sanad rendah itu juga memiliki keistimewaan, sebab guru-guru yang disebut dalam mata rantai hadis, jika mereka orang siqah (terpercaya) yang sholeh dan terlebih seorang wali Allah maka akan menambah keberkahan.
“Akan tetapi, yang dipilih oleh mayoritas ulama adalah sanad ‘alin, karena sedikit potensi salahnya,” ungkap beliau
Author: Fakhrullah







