Karomah Syaikhona Kholil Bangkalan | Barokah Paku Bekas, Bisa Melaksanakan Haji

oleh -455 views

Syaichona.net– Haji adalah rukun Islam yang terakhir, dengan syarat-syarat yang telah ditentukan oleh para ulama, yang diantaranya ialah mampu menanggung semua biaya dalam pelaksanaan haji, kata mampu bukanlah berarti kaya, orang pas-pasan saja bisa, jika orang tersebut mempunyai kemauan yang kuat dan dekat dengan orang yang disenangi Allah SWT, Seperti kisah yang terjadi pada zamannya Syaichona kholil Bangkalan.

Al-kisah ada sepasang suami istri yang kerjanya cuma bertani ingin pergi naik haji, suatu hari si istri menyuruh sang suami untuk sowan ke Syaichona Kholil untuk meminta barokah dari Syaichona Kholil agar bisa naik haji, setelah sampai di dalemnya Syaichona Kholil, sang suami langsung mengutarakan hajatnya pada beliau.

“kiyai saya minta barokahnya agar bisa ke mekah” tuturnya polos, mendengar pengaduan orang tersebut Syaikhona Kholil berguman “kalau dipikir-pikir naik haji itu harus dengan uang”, setelah itu Syaichona Kholil langsung pergi ke kamarnya lalu mencari sesuatu yang bisa diberikan, karena beliau tidak menemukan sesuatu apapun di dalam kamarnya hanya paku bengkok yang biasa digunakan untuk menggantung baju oleh beliau, tanpa pikir panjang Syaikhona pun mencabutnya dan menemui tamunya.

Sebelum Syaikhona Kholil memberikan paku tersebut beliau menyuruh tamunya untuk menghabiskan hidangan yang disuguhkan, ketika suguhannya dihabiskan Syaikhona Kholil menyerahkan paku bengkok seraya berkata: “Ini genggam dan bawa pulang jangan kamu buka sebelum sampai ke rumahmu”  dengan rasa senang yang sangat luar biasa orang tersebut pulang ke rumahnya, dia menyangka bahwa yang dibeikan oleh Syaichona Kholil adalah mutiara ataupun sebatang emas, setelah sampai di rumah dia membuka genggamannya dia kaget, karena yang digenggam hanyalah sebatang paku bengkok, berhubungan paku tersebut merupakan pemberian dari Syaichona Kholil orang tersebut menyimpan paku tersebut.

Tidak lama dari kejadian itu, waktu sang petani tadi pergi mencari rumput di pinggiran pantai, ada sebuah kapal yang sandar, dan banyak orang yang menggerombolinya, dia mendekat pada kapal tersebut lalu bertanya pada orang yang ada di sana, usut punya usut ternyata kapal tersebut milik Amerika yang sandar diakibatkan kunci peti harta simpanan mereka jatuh ke laut dan tidak ada satupun yang dapat menemukannya, sehingga orang Amerika tersebut mengadakan sayembara, “barang siapa yang bisa membuka peti ini maka separuh dari isinya boleh di ambil” mendengar pengumuman tadi sang petani tadi langsung lari ke rumahnya karena dia ingat akan paku yang pernah diberi Syaichona Kholil, singkat cerita petani tadi langsung menemui orang Amerika yang telah memberikan sayembara dan mengutarakan keinginannya untuk membuka peti mereka seraya mengeluarkan paku bengkok pemberian Syaichona Kholil, melihat kejadian itu orang amerika tertawa terbahak-bahak, seraya berkata “sebagus-bagusnya kunci tidak bisa membuka peti ini apalagi paku bengkok nan karat ini!”, dengan keyakinannya petani tersebut maju dan membuka peti  dengan mudah, semua orang yang melihatnya terbelalak kagum padanya.

Setelah berhasil, orang Amerika memberikan setengah dari isi petinya seperti yang telah dijanjikan, karena saking banyaknya pemberian tersebut si petani tidak menemukan wadah untuk membawanya pulang, tanpa pikir panjang petani tersebut langsung membuka pakaiannya untuk dijadikan wadah dan dia pulang dalam keadaan telanjang,

Setelah sampai dirumahnya dia berkata pada istrinya “Kita haji buk” si istri melihat suaminya pulang telanjang mengira bahwasanya dia kerasukan, sehingga si istri ngomel tak karuan, mendengar omelan sang istri petani tersebut menjatuhkan dolar pemberian orang Amerika di hadapan sang istri, sehingga sang istri terkejut dengan apa yang di bawa oleh sang suami.

Selang berapa hari keduanya pergi mendaftarkan dirinya tak lupa mendaftarkan Syaichona Kholil untuk melaksanakan ibadah haji bersama.

Dari kisah diatas bisa disimpulkan “orang yang senang terhadap ulama seraya memiliki keinginan yang kuat insyaallah dimudahkan oleh Allah”

 

Penulis: Fachrun As

Editor: ACH. SHOIM KARIM