Kitab Ja’ah Zaidun

oleh -452 Dilihat

Dulu pernah menemukan kitab yang berjudul “Kitab Ja’a Zaidun”. Nama yang unik untuk sebuah kitab karya ulama. Belakangan teringat akan kitab itu lagi dan penasaran isi di dalamnya. So saat browsing di Internet, ternyata nama aslinya Risalah fi ‘irabi Ja’zaidun wa Ma Yata’alaku bI Hadza at-Tarkib min Sa’iri al-Ulum. Dalam cetakan yang lain, kitab itu diberi nama Risalah fi ‘irabi Ja’zaidun wa Masaili Tathbiqati fi an-Nahwi wa al-Lughah karya Syaikh Aḥmad bin Zaini Dahlan (W. 1304 H).

Menurut catatan Doktor Umar Sulaiman al-Baruni dalam Scientific Journal of Faculty of Education, Misurata University-Libya, Vol. 1, No. 10, Mar. 2018. Atau sebuah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Fakultas Pendidikan di Universitas Misurata, Libya. Volume 1, Nomor 10, Maret 2018. Menuliskan:

“Pembahasan mengenai risalah ini akan mencakup aspek-aspek berikut:

1. Judul Risalah:

Judul risalah muncul dengan beberapa penamaan yang sangat mirip. Pada sampul naskah manuskrip, judulnya tertulis (Risalah fi I’rab Ja’a Zaid). Di beberapa sumber lain, tertulis (Risalah Tata’allaqu bi-Ja’a Zaid), ada pula yang menyebutnya (Risalah I’rab Ja’a Zaid), serta (Risalah Tata’allaqu bi-Ja’a Zaid min I’rab wa Tashrif). Tampaknya judul terakhir diambil dari apa yang tercantum dalam mukadimah penulis, di mana beliau menyatakan:

” فهذه كلمات…. تتعلق بقولك: (جاء زيد)، من إعراب و تصريف وغيرهما

Artinya: “Ini adalah beberapa kata… yang berkaitan dengan ucapanmu: (Ja’a Zaid), baik dari segi i’rab, tashrif, maupun selain keduanya.” Di antara judul-judul tersebut, saya memilih judul (Risalah Muta’alliqah bi-Ja’a Zaid).

2. Keabsahan Penisbatan kepada Penulis:

Tidak ada keraguan mengenai penisbatan risalah ini kepada Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan. Namanya tercantum pada sampul naskah manuskrip dan pada bagian penutup penyalinnya. Selain itu, As-Saqathuni juga menisbatkannya kepada beliau dalam hasyiyahnya yang berjudul Tasywiq al-Khallan ‘ala Syarah As-Sayyid Ahmad Dahlan atas Al-Ajurrumiyyah, dan Al-Baghdadi menisbatkannya kepada beliau dalam kitab Hadiyyat al-‘Arifin, serta dalam Khizanat at-Turats karya Pusat Studi dan Penelitian Islam Raja Faisal.

3. Kandungan Risalah:

Syekh Ahmad Dahlan menyebutkan dalam pengantar risalahnya ini bahwa beliau akan membahas hal-hal yang berkaitan dengan kalimat (Ja’a Zaidun) dari segi I’rab, Sharf, dan lainnya. Beliau pun membahas dalam risalahnya apa yang telah beliau tegaskan tersebut, sehingga rincian pembahasan yang beliau sebutkan adalah sebagai berikut:

• I’rab kalimat (ja’a Zaidun), serta pentingnya I’rab dalam memperjelas makna yang berbeda-beda dalam satu kalimat yang sama, sebagaimana halnya pada kalimat:

ما أحسن زيدا

“Betapa baiknya Zaid”.

Dan kalimat:

لا تأكل السمك وتشرب اللين

“Janganlah kamu makan ikan dan minum susu.”

• Asal fi’il (ja’a), derivasinya (ishtyiqaq), serta apakah asal derivasi itu berasal dari Isim (kata benda) atau Fi’il (kata kerja).

• Fi’il Madhi (kata kerja lampau), apakah ia bersifat Lazim (intransitif) atau Muta’addi (transitif), serta hal-hal yang berkaitan dengan transitif dan intransitif tersebut.

• Jenis Mad (panjang bacaan) pada fi’il (ja’a), serta pemaparan hal-hal yang berkaitan dengan jenis-jenis Mad dan durasi suaranya menurut para ulama Tajwid.

• Fa’il secara Nahwu, hukum Rafa’-nya, serta alasan (‘illat) hukum Rafa’ tersebut.

• Ma’rifah dan Nakirah, serta hukum-hukum yang berkaitan dengan keduanya.

• Al-Jumlah (secara Nahwu dan Balaghah), beserta jenis-jenisnya.

• Al-Qadhaya al-Mantiqiyah (Isu-isu logika), ucapan-ucapan para ahli hikmah, serta hal-hal yang berkaitan dengannya.

4. Sebab Penyusunan Risalah:

Penulis menyebutkan sebab penyusunan risalah ini dalam pengatarnya:

“فهده كلمات جمعتها يقصد التمرين للأطفال المتعلمين، تذكرهم كثيراً من القواعد، وتحتهم على تحصيل الفوائد

“Maka ini adalah kalimat-kalimat yang aku kumpulkan dengan maksud sebagai latihan bagi anak-anak yang sedang belajar, guna mengingatkan mereka pada banyak kaidah, serta mendorong mereka untuk meraih faedah-faedah ilmu.”

• Karya-karya Sejenis:

Saya tidak menemukan karya yang serupa mengenai risalah yang khusus berkaitan dengan (ja’a Zaidun) kecuali satu risalah saja yang tidak diketahui penulisnya (anonim), berjudul: (Risalah fi ma Yata’allaqu bi Jumlati Qama Zaidun).

Risalah tersebut dimulai dengan perkataannya:

فاعلم جعلني الله وإياك من العصابة الناحية، ومنحنا يفضله العطف والعافية، إن الخوض في العلوم من أفضل القربات

“Maka ketahuilah, semoga Allah ﷻ menjadikan aku dan engkau bagian dari golongan yang selamat, serta menganugerahkan kepada kita dengan karunia-Nya kelembutan dan keselamatan, bahwasanya mendalami ilmu merupakan salah satu bentuk mendekatkan diri yang paling utama.” Dan diakhiri dengan perkataannya:

“وقال الرضى جملة الشرط كلام، والأول للمعول عليه، وهي جملة صغرى لكونها تقع خيرا عن مبتدأ، سواء كان الفاعل مضمرا أو ظاهرا”

“Dan Ar-Radhi ( Abu al-Hasan al-Sayyid Muhammad ibn al-Husayn ibn Musa al-Musawi al-Hashimi al-Qurashi, yang dikenal sebagai al-Sharif al-Radhi) berkata: Jumlah syarat (conditional sentence) adalah tergolong sebuah kalam, dan yang pertama adalah yang menjadi pegangan, yaitu merupakan jumlah sughra karena berkedudukan sebagai khabar dari mubtada, baik fa’il-nya berupa dhamir (kata ganti) maupun dzhahir (jelas) seperti contoh:

زيدٌ إن يقمْ أقمْ معه

Artinya: “Adapun Zaid bila ia berdiri, maka aku akan berdiri bersamanya.”

Kandungannya mirip dengan isi risalah Syekh Dahlan (mencakup Nahwu dan Sharf), terdiri dari 10 lembar termasuk lembar sampul, dan merupakan salinan koleksi Perpustakaan Al-Azhar, nomor salinan: (322916).

6- Naskah-naskah Risalah:

Meskipun saya telah berupaya mencari naskah-naskah dari risalah ini secara terus-menerus, saya hanya menemukan satu naskah manuskrip dan dua naskah cetak. Naskah-naskah ini sangat mirip satu sama lain, terutama naskah cetaknya. Berikut adalah deskripsi dari ketiga naskah tersebut:

1- Naskah Manuskrip:

Merupakan naskah milik Universitas King Saud. Terdiri dari 10 lembar (kertas manuskrip), dan di setiap halamannya terdapat 25 baris dengan ukuran 24,5×17 cm. Naskah ini tergolong baik dan ditulis dengan khat (gaya tulisan) yang biasa. Disalin oleh Ahmad bin Muhammad bin Husein bin Abdullah bin Abi Bakar Al-Habsyi Alawi pada tahun 1270 H. Tidak ada koreksi padanya kecuali di satu tempat saja, serta tidak terdapat catatan pinggir (komentar).

Penyusunan risalah ini selesai pada tanggal 13 Dzulhijjah tahun 1269 H, dan penyalinannya selesai pada hari Senin, 23 Sya’ban tahun 1270 H. Naskah ini disalin dari naskah asli milik penulis (wallahu ta’ala a’lam). Saya memberi simbol naskah ini dengan huruf (خ) sebagai penanda Al-Makhtuthah (manuskrip).

2- Naskah Cetak Pertama:

Terdaftar dalam satu maj’mu’ (kumpulan risalah) yang mencakup empat risalah, dicetak di Percetakan Al-Miriyyah di Makkah Al-Mahmiyyah pada tahun 1311 H, pada masa pemerintahan Sultan Abdul Hamid Khan. Saya memberi simbol naskah ini dengan (طق) sebagai penanda Al-Thab’ah Al-Qadimah (cetakan lama).

3- Naskah Cetak Kedua:

Dicetak pada hamisy (catatan pinggir) Syarah Al-Makudi ‘ala Al-Ajurumiyyah di Percetakan Mustafa Al-Babi Al-Halabi dan Anak-Anaknya di Mesir, cetakan kedua pada tahun 1355 H – 1936 M. Saya memberi simbol naskah ini dengan (طح) sebagai penanda Al-Thab’ah Al-Haditsah (cetakan baru).

Waallahu A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

Publisher: Fakhrul

Referensi:

✍🏻 Doktor Umar Sulaiman al-Baruni dalam Scientific Journal of Faculty of Education, Misurata University-Libya, Vol. 1, No. 10, Mar. 2018.