Kisah Nabi Sulaiman: Semut, Kayak dan Rezeki Ulat Dasar Laut

oleh -13 Dilihat

Allah ﷻ memilih manusia menjadi makhluk yang paling sempurna dan di antara manusia itu, Allah ﷻ memilih umat Nabi Muhammad ﷺ manjadi umat terbaik dan istimewa dari semua umat manusia. Allah ﷻ berfirman:

  كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ (آل عِمْرَان: ١١٠)

Artinya: “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia, karena kalian menyuruh berbuat kebaikan dan mencegah dari kemungkaran serta beriman kepada Allah” (QS. Ali ‘Imran: 110).

Rasulullah ﷺ bersabda:

  أَنْتُمْ مُتِمُّوْنَ سَبْعِيْنَ أُمَّةً أَنْتُمْ خَيْرُهَا وَأَكْرَمُهَا عَلَى اللهِ (رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي الْمُعْجَمِ الْكَبِيْرِ)

Artinya: “Kalian menjadi penyempurna tujuh puluh umat, kalian adalah umat terbaik dan termulia menurut Allah” (HR ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir).

Konon, karena istimewanya umat Nabi Muhammad ﷺ, para malaikat, penghuni langit dan bumi, hingga semut di lubangnya dan ikan di lautan senantiasa mendoakan kebaikan dan memohonkan ampunan.

Syaikh Abdurrahman bin Abdussalam bin Abdurrahman bin Utsman ash-Shufuriy asy-Syafi’i dalam kitabnya Nuzhatu al-Majalis wa Muntakhabi an-Nafais mengisahkan:

“Suatu hari Nabi Sulaiman As pergi ke tepi laut. Di sana beliau menemukan seekor semut yang di mulutnya ada sehelai daun hijau, berjalan menuju ke arah laut. Sesampai di laut ada seekor katak keluar lalu membawa semut itu di punggungnya dan menyelam perlahan ke dalam air. Kemudian katak itu muncul dari permukaan air mengembalikan semut tadi ke tempat semula.

Syahdan, lantas Nabi Sulaiman bertanya kepada semut itu perihal apa yang baru saja dilakukannya.

Semut itu menjawab: “Wahai Nabiyullah! Di dalam dasar laut itu ada batu besar dan di dalamnya ada seekor ulat. Sungguh Allah ﷻ telah memberikan aku tugas untuk mengantarkan rezeki kepadanya setiap dua hari sekali dan Allah ﷻ telah menciptakan malaikat yang berwujud seekor katak yang mengantarku ke batu besar itu. Setelah aku sampai, batu itu terbelah dan ulat itu mengambil (makanan) dariku lalu ulat berkata:

سُبْحَانَ مَنْ خَلَقَنِي وَفِي الْبَحْرِ أَسْكَنَنِي وَمِنَ الرِّزْقِ لَمْ يَنْسَنِي، اللَّهُمَّ كَمَا لَمْ تَنْسِنِي مِنْ رِزْقِكَ لَا تَنْسَ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ ﷺ مِنْ عَفْوِكَ وَرَحْمَتِكَ

“Maha Suci Allah yang telah menciptakanku, menempatkanku di dalam lautan, dan tidak melupakanku dari rezeki-Nya. Ya Allah, sebagaimana Engkau tidak melupakanku dari rezeki-Mu, maka janganlah Engkau melupakan umat Nabi Muhammad ﷺ dari ampunan dan rahmat-Mu.”

Penulis: Abdul Adzim

Publisher: Fakhrul

Referensi:

✍🏻 Syaikh Abdurrahman bin Abdussalam bin Abdurrahman bin Utsman ash-Shufuriy asy-Syafi’i| Nuzhatu al-Majalis wa Muntakhabi an-Nafais| Daru al-Kutub al-Ilmiyah juz 1, halaman 37-38.