Kenapa Setiap Ada Pertanyaan dalam al-QuranKebanyakan di Jawab Menggunakan Kata “Qul” Tanpa Disertai Fa’ Jawab?

oleh -8 Dilihat

Bagi orang terbiasa membaca dan mengkaji al-Qur’an, pasti akan timbul satu pertanyaan: “Kenapa setiap ada pertanyaan dalam al-Qur’an, kebanyakan dijawab menggunakan kata “Qul” tanpa disertai “Fa'” jawaban. Berikut jawabannya:

Syaikh Sulaiman bin Umar al-Ujailiy asy-Syafi’iy atau yang dikenal dengan sebutan al-Jamal dalam kitab al-Futuhat al-Uluhiyah bi Taudhihi Tafsir al-Jalalain li Daqaiqi al-Khafiyah menuliskan:

فائدة: كل ما جاء في السؤال في القرآن أجيب عنه بقل بلا فاء إلا في قوله في طه ويسألونك عن الجبال فقل ) [طه: ۱۰۵] فبالفاء لأن الجواب في الجميع كان بعد وقوع السؤال، وفي طه كان قبله إذ تقديره إن سئلت عن الجبال فقل كما أشار إليه الشيخ فيها

“(Sebuah Faidahah) Setiap datang pertanyaan dalam al-Qur’an, (selalu) dijawab dengan kata “Qul” tanpa disertai “Fa'” kecuali dalam firman-Nya dalam surat Thaha. Yaitu:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنسِفُهَا رَبِّي نَسْفًا

[ طه: 105]

Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah: “Tuhanku akan menghancurkannya (di hari kiamat) sehancur-hancurnya, [TaHa: 105]. Menggunakan “Fa'” Jawab. (Alasannya) karena semua pertanyaan yang datang dalan al-Qur’an terjadi setelah adanya pertanyaan sementara dalam surat Thaha (sebagaimana yang telah disebutkan) jawab yang ada terjadi sebelum adanya pertanyaan dan jika diperjelas pertanyaannya adalah: “Kalau kamu bertanya tentang Gunung, maka katakanlah…”. Sebagaimana yang disinggung oleh Syaikh (Jalaluddin as-Suyuthiy) tentang hal itu dalam surat Thaha.

Sementara al-Qadhi Syihabuddin Aḥmad bin Muhammad bin Umar al-Khafajiy dalam Hasyiyahnya yang diberi nama ‘imayatu al-Qadhi wa Kifayatu ar-Radhi ala Tafsiri al-Baidhawiy menuliskan:

قال النسفي وغيره: الفاء في جواب شرط مقدر أي إذا سألوك فقل وهذا بناء على أنه لم يقع السؤال عنه كقصة الروح وغيرها فلذا استؤنف الجواب ثمة بدون فاء وقرن بها هنا لأن هناك استشراف النفس للجواب فيسألونك بمعنى سيسألونك واستبعده أبو حيان وكلام المصنف يخالفه أيضاً فالفاء عنده متمحضة للسببية للدلالة على أن أمر قل تسبب عن سؤالهم والظاهر أنه إنما قرن بها هنا، ولم يقرن بها ثمة للإشارة إلى أنه معلوم له قبل ذلك فأمر بالمبادرة إليه بخلاف ذاك

“Syaikh an-Nasifiy dan lainnya berkata: “Huruf Fa’ (ف) pada kalimat jawaban syarat dikira-kirakan (muqaddar), Yaitu:

إذا سألوك فقل

“Jika mereka bertanya kepadamu (Muhammad), maka katakan.”

Ini didasarkan pada asumsi bahwa pertanyaan tersebut belum benar-benar terjadi saat itu, seperti halnya kisah tentang ruh dan masalah lainnya. Oleh karena itu, jawabannya di ayat tersebut tanpa huruf Fa’ dan di ayat ini disertai huruf Fa’ karena di sana bertujuan agar membuat hati penasaran dengan jawabannya. Sehingga frasa:

يسألونك

“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad).”

Bermakna kata:

سيسألونك

“Meraka akan bertanya kepadamu (Muhammad).”

Sedangkan menurut Syaikh Abu Hayyan menganggap pendapat tersebut terlalu dipaksakan dan didukung oleh pernyataan penulis (kitab asal) yang juga tidak sependapat. Menurutnya, bahwa tidak ada makna lain dari Fa’ kecuali Sababiyah (hubungan sebab-akibat) dengan indikasi bahwa pada perintah yang terkandung dalam kata “Qul” (katakan) timbul sebagai akibat dari pertanyaan mereka. Jelasnya, bersamaannya Fa’ di sini dan tanpa disertai Fa’ di tempat lain sebagai isyarat bahwa pertanyaan tersebut sudah maklum diketahui oleh Beliau (Nabi Muhammad ﷺ) sebelumnya. Maka dari itu Beliau diperintahkan untuk segera melakukannya, berbeda dengan keadaan yang di tempat lain.”

Penulis: Abdul Adzim

Publisher: Fakhrul

Referensi:

✍🏻 Syaikh Sulaiman bin Umar al-Ujailiy asy-Syafi’iy| Al-Futuhat al-Uluhiyah bi Taudhihi Tafsir al-Jalalain li Daqaiqi al-Khafiyah| Daru al-Kutub al-Ilmiyah, Juz 1, halaman 228.

✍🏻 Al-Qadhi Syihabuddin Aḥmad bin Muhammad bin Umar al-Khafajiy| Hasyiyah ‘imayatu al-Qadhi wa Kifayatu ar-Radhi ala Tafsiri al-Baidhawiy|Daru al-Kutub al-Ilmiyah, Juz 6, halaman 292.