Syaikhona Kholil: Mata Rantai Sanad Keilmuan Islam di Nusantara

oleh -598 Dilihat

Mencatat perjalanan pulang seorang alim dari tanah suci sering kali menjadi penanda lahirnya babak baru dalam sejarah keilmuan sebuah daerah. Abdul Munim Kholil dalam karyanya Tasawuf Kiai Kholil menyebut tahun 1868 sebagai momentum kepulangan Syaikhona Muhammad Kholil ke tanah air setelah menempuh pengembaraan ilmiah di Haramain. Ia kembali ke tanah air sebagai seorang alim yang menguasai berbagai cabang ilmu keislaman, terutama hadis, fikih, serta ilmu-ilmu gramatika bahasa Arab yang menjadikannya dikenal sebagai salah satu ulama paling ungggul dan paling berilmu pada masanya.

Syaikhona Kholil kemudian menata pusat-pusat pendidikan yang kelak menjadi mata rantai penting dalam jaringan pesantren Nusantara. Ia mendirikan dua pesantren di Bangkalan. Pertama, Pesantren Jengkebuan yang kemudian diserahkan kepada menantunya, Kiai Muntaha.

Kedua, Pesantren Kademangan yang di kemudian hari dikenal luas sebagai Pondok Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan. Melalui majelis ilmu dan khidmat pendidikan di pesantren inilah ribuan santri ditempa, menerima ijazah keilmuan, serta membawa pulang sanad keilmuan yang kelak mereka sebarkan kembali di daerah masing-masing. Sejak saat itu, Bangkalan menjelma sebagai gerbang pendidikan Islam yang disinggahi para pencari ilmu dari berbagai penjuru.

Untuk memberikan gambaran tentang suasana intelektual pada masa itu, catatan Snouck Hurgronje, orientalis Belanda yang banyak mengamati kehidupan keagamaan di Jawa, menunjukkan bahwa pada penghujung abad ke-19 Madura, khususnya Bangkalan, telah menjadi salah satu pusat gravitasi keilmuan Islam di Nusantara. Snouck mencatat adanya tradisi pengembaraan santri yang dikenal dengan istilah ngetan. Istilah ini merujuk pada kebiasaan para santri dari wilayah barat Jawa yang bergerak ke arah timur untuk memperdalam ilmu agama.

Para santri memulai perjalanan dari daerah Banten, kemudian melintasi Bandung, Garut, Tasikmalaya, Kuningan, dan Cirebon. Setelah itu mereka bergerak menuju pusat-pusat keilmuan di Jawa Tengah seperti Magelang, Semarang, dan Kudus. Perjalanan kemudian berlanjut ke Pacitan, Madiun, Tuban, hingga Surabaya sebelum akhirnya menyeberang ke Madura. Dalam lintasan panjang itu, Bangkalan menjadi semacam pelabuhan ilmiah yang dinanti para pencari ilmu.

Jika Snouck Hurgronje hanya mencatat Madura sebagai tujuan akhir perjalanan intelektual para santri, beberapa keterangan lain memberikan gambaran yang lebih rinci. Hasan Mustapa, misalnya, dalam penelitiannya mengenai jaringan pesantren, menjelaskan bahwa setelah para santri merasa cukup menimba ilmu di wilayah Jawa Barat, mereka melanjutkan perjalanan ke Surabaya, khususnya daerah Sidosermo. Dari sana, mereka menyeberang ke Bangkalan untuk nyantri dan tabarukan kepada Syaikhona Kholil.

Kondisi tersebut menjadikan Bangkalan pada masa itu bukan sekadar tempat belajar, melainkan ruang pembentukan karakter keilmuan. Para santri yang datang dari berbagai latar belakang etnis dan bahasa menempa diri di bawah bimbingan Syaikhona Kholil sebelum melanjutkan pengembaraan mereka menuju Makkah. Kota suci itu dipandang sebagai pelabuhan ilmiah terakhir, tempat para santri mengukuhkan sanad keilmuan yang telah mereka bangun di Nusantara.

Otoritas yang paling kuat mengenai posisi keilmuan Syaikhona Kholil dapat ditemukan dalam manuskrip Al-Iqd al-Farid karya ulama besar asal Padang yang bermukim di Makkah, yaitu Syaikh Yasin al-Fadani. Dalam karya tersebut ia menegaskan bahwa jaringan sanad ulama Indonesia pada abad ke-19 banyak bermuara pada dua tokoh besar Nusantara, yakni Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan dan Syaikh Mahfuzh Termas.

Itu artinya Syaikhona Kholil tidak hanya berperan sebagai pengasuh pesantren lokal, melainkan sebagai simpul penting dalam mata rantai transmisi ilmu Islam di kawasan Asia Tenggara. Dalam catatan Syaikh Yasin al-Fadani disebutkan:

وتخرج على يديه أكثر من نصف مليون نفس من أنحاء إندونيسيا من بين هؤلاء ثلاثة آلاف أئمة أعلام يشار إليهم بالبنان في جزيرتي جاوا سومطرا وجزيرة مادورا، ويطلق عليهم اسم الكياهي بمعنى العالم الكبير، ومنهم أكثر من مائتي عربي يطلق على كل واحد منهم اسم العلامة أو العارف بالله أو الفقيه

Artinya, “Lebih dari setengah juta santri dari seluruh penjuru Indonesia pernah belajar kepada beliau. Di antara mereka terdapat tiga ribu orang imam alim yang menjadi panutan masyarakat di Jawa, Sumatera, dan Madura. Mereka dikenal dengan gelar ‘kiai’, yang berarti seorang alim besar. Di antara para santri itu terdapat pula lebih dari dua ratus orang keturunan Arab yang diberi gelar ‘allamah’, ‘arif billah’, atau ‘faqih’.”

Meski angka santri yang begitu banyak perlu diteliti kembali, tapi catatan ini memberikan gambaran utuh betapa luasnya pengaruh pendidikan yang dibangun oleh Syaikhona Kholil. Dari majelis ilmu beliau lahir ribuan ulama yang kemudian mendirikan pesantren, membina masyarakat, dan menjadi pilar penting dalam tradisi pesantren di Nusantara, khususnya Jawa. Sampai akhirnya orang-orang mengenalnya dengan gelar “Syaikh al-Jawiyyin”, yaitu guru besar bagi para ulama dan penuntut ilmu dari kalangan orang Jawa.

Pengakuan serupa juga disampaikan oleh Kiai Ahmad Qusyairi dalam manuskrip kitab as-Silah. Ia menyoroti luasnya jangkauan murid-murid Syaikhona Kholil yang berasal dari berbagai latar etnis dan bahasa. Dalam salah satu bagiannya ia menulis:

ولو لم يكن من كراماته إلا أن أغلب أهل جاوه مع اختلاف لغاتهم من المَرَكِيّ والسندوري والسندوي وشَرْذَمة من الملايوي من تلاميذه شخصًا وأنا على الأكثر، بل وجد أيضًا على الأقل لكفى

Artinya, “Seandainya tidak ada karamah lain yang dimiliki Syaikhona Kholil selain kenyataan bahwa sebagian besar penduduk Jawa, meskipun berbeda bahasa seperti bahasa Madura, Sunda, Jawa, serta sebagian kecil orang Melayu merupakan murid-muridnya, maka hal itu saja sudah cukup menjadi bukti keutamaannya. Bahkan seandainya jumlah muridnya hanya lebih sedikit dari itu, kenyataan itu tetap cukup menjadi tanda keagungan dan keberkahan ilmunya.”

Melalui murid-murid inilah estafet sanad keilmuan Islam Nusantara terus berlanjut. Di antara mereka tercatat nama-nama ulama besar yang kemudian mendirikan pesantren dan membangun tradisi keilmuan yang kokoh di berbagai daerah. Diantaranya:

1. Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari – Pendiri Pondok Pesantren Tebuireng Jombang
2. KH Abdul Wahab Chasbullah – Pengasuh Pondok Pesantren Tambakberas Jombang
3. KH As’ad Syamsul Arifin – Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iah Sukorejo Situbondo
4. KH Bisri Syansuri – Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar
5. KH Manaf Abdul Karim – Pendiri Pondok Pesantren Lirboyo Kediri
6. KH Ma’shum – Lasem Rembang
7. KH Muhammad Siddiq – Pengasuh Pondok Pesantren Assiddiqiyah Jember
8. KH Ihsan bin Dahlan – Jampes Kediri
9. KH Asy’ari – Pendiri Pondok Pesantren Darut Tholabah, Wonosari, Bondowoso
10. KH Abdullah Sajjad – Guluk-guluk Sumenep
11. KH Zaini Abdul Mun’im – Paiton Probolinggo
12. KH Nawawi Noerhasan – Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan
13. KH Abdul Hadi Zahid – Langitan Tuban
14. KH Saleh – Lateng Banyuwangi
15. KH Abdul Manan – Muncar Banyuwangi
16. KH Yasin – Jekulo Kudus
17. KH Sayyid Ali Bafaqih – Pendiri Pondok Pesantren Loloan Barat, Bali
18. Dan masih banyak lagi

Tak hanya pribumi, masyarakat Arab pun banyak sekali yang mengais ilmu dari Syaikhona Kholil. Diantara yang paling masyhur adalah Habib Salim bin Jindan. Selain beliau, Syaikh Yasin juga menyebut beberapa nama:
1. Habib Abdullah b. ‘Ali Al-Haddad Bangil. Syaikh Yasin menggelari beliau dengan “Quthb al-Din” (pusat agama) dan Abu al-Asrar.
2. Sayyid Muhammad b. Ahmad Al-Habsyi.
3. Muzahim b. Salim Bawazir.
4. Syaikh ‘Audh b. Sa’id Al-Umawi Al-Qurasyi.
5. Sayyid Hasan b. Abdur Rahman b. Smith Al-‘Alawi. Menurut Syaikh Yaain, beliau datang ke Bangkalan untuk meminta ijazah hadis musalsal ‘Asyura.
6. Sayyid ‘Umar b. Sholih Assegaf.
7. Sayyid ‘Alwi b. Muhammad Bilfaqih.

Melihat mata rantai tersebut, tidak berlebihan jika Bangkalan pada masa Syaikhona Kholil dipandang sebagai salah satu simpul utama jaringan sanad keilmuan Islam di Nusantara. Tradisi sanad, khidmat kepada guru, serta pengembaraan intelektual yang mereka jalani menjadi fondasi kuat bagi keberlangsungan peradaban pesantren hingga hari ini.

Di tengah zaman yang sering dilanda disrupsi informasi, kisah ini mengingatkan kita pada satu hal penting. Ilmu tidak lahir dari ruang kosong. Ia lahir dari sanad. Dari perjalanan panjang. Dari laku hidup yang ditempa oleh guru dan tradisi.

Kita mungkin tidak bisa mengulang perjalanan para santri yang berjalan dari Banten hingga Madura, tapi kita bisa merawat semangat rihlah ilmu dalam bentuk baru. Kita mungkin tidak bisa duduk langsung di majelis Syaikhona Kholil, tapi kita bisa menjaga sanad keilmuan dengan menghormati guru dan tradisi. Kita mungkin tidak bisa menjadi ulama besar seperti para murid beliau, tapi kita bisa menjadi bagian dari memori kolektif yang menjaga warisan ilmu itu tetap hidup di zaman kita.

Penulis: Bushiri, Pengajar di Zawiyah Syaikhona Muhammad Kholil

Publisher: Fakhrul

Sumber:
Catatan Syekh Yasin bin Isa al-Fadani tentang Biografi Syaikhona Muhammad Kholil
Muhaimin dkk, Biografi Syaikhona Muhammad Kholil Guru Para Ulama dan Pahlawan Nasional, Bangkalan: Orang-orang Madura, 2022.