Napak Tilas Isyaroh Pendirian NU: Menyusuri Jejak Spiritual dari Bangkalan hingga Tebuireng

oleh -88 Dilihat

Napak Tilas Isyaroh Pendirian Nahdlatul Ulama (NU) kembali digelar dengan menelusuri lintasan sejarah yang sarat makna spiritual dan peradaban Islam. Kegiatan ini dimulai dari Pondok Pesantren Syaikhona Mohammad Kholil, Bangkalan, Madura, pada Minggu pagi (4/1/2026).

‎Pembukaan acara ditandai dengan prosesi penyerahan tongkat dan tasbih sebagai simbol estafet perjuangan.

Penyerahan dilakukan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Syaikhona Mohammad Kholil Bangkalan, RKH. Fahruddin Aschal, kepada Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy. Prosesi berlangsung khidmat di halaman pesantren sekitar pukul 06.00 WIB.

‎Sejumlah ulama dan kiai turut hadir dalam kegiatan ini, termasuk Jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang dipimpin oleh KH. Yahya Cholil Staquf. Hadir pula jajaran pemerintah daerah, di antaranya Bupati dan Wakil Bupati Bangkalan, Lukman dan Fuzan, serta Bupati Situbondo yang ikut serta dalam rangkaian napak tilas.

‎Ketua Panitia Napak Tilas, KH. Imam Bukhori Kholil, menjelaskan bahwa jumlah peserta kegiatan ini dibatasi sebanyak 1.000 orang.

‎Setelah prosesi penyerahan tongkat dan tasbih, para peserta mengiringi KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy berjalan kaki dari Pondok Pesantren Syaikhona Mohammad Kholil menuju Pelabuhan Kamal, Bangkalan, dengan jarak tempuh sekitar 18 kilometer.

‎Dari Pelabuhan Kamal, rombongan menyeberang ke Surabaya menggunakan kapal dan tiba di Pelabuhan Tanjung Perak. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan ziarah dan doa di Makam Sunan Ampel, menggunakan transportasi yang telah disediakan oleh Pemerintah Daerah.

‎Usai berziarah, peserta bergerak menuju Kantor PCNU Bubutan Surabaya yang dikenal sebagai kantor NU pertama pada masa kepemimpinan KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Hasan Gipo. Selanjutnya, rombongan menuju Stasiun Gubeng untuk melanjutkan perjalanan menggunakan kereta api ke Stasiun Jombang.

‎Setibanya di Jombang, peserta kembali menempuh perjalanan dengan berjalan kaki menuju Pondok Pesantren Tebuireng untuk berziarah dan berdoa di makam Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari.

‎KH. Imam Bukhori Kholil menuturkan bahwa kegiatan napak tilas ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sarat pesan spiritual dan nilai historis yang mendalam. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi atas isyaroh dan inspirasi yang disampaikan Syaikhona Mohammad Kholil Bangkalan kepada muridnya, KH. Hasyim Asy’ari.

‎“Refleksi ini penting untuk memperkuat semangat khidmah dan pengabdian warga NU dalam menjaga serta menghidupkan jam’iyah Nahdlatul Ulama,” tegasnya.

‎Sementara itu, Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf menegaskan bahwa Napak Tilas Isyaroh Pendirian NU merupakan momentum sakral bagi seluruh warga NU untuk kembali meneladani serta mengambil berkah dari peristiwa bersejarah kelahiran jam’iyah NU.

‎Ia menambahkan, kegiatan ini menjadi pengingat akan nilai-nilai dasar dan ruh NU yang harus terus dipelihara serta diwariskan lintas generasi.

‎Dengan berkah para muassis, NU diharapkan semakin kuat, membawa kemanfaatan yang luas, serta terus berperan aktif bagi umat, bangsa, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Reporter: Abdus Salam