Kenapa Satu Bacaan Solawat dibaca dengan Sepuluh Solawat

oleh -101 Dilihat

Di antara keutamaan membaca sholawat kepada Nabi ﷺ adalah barang siapa bershalawat kepada Nabi ﷺ satu, niscaya Allah ﷻ bershalawat kepadanya sepuluh kali, menghapus sepuluh dosanya, dan mengangkat derajatnya sepuluh tingkatan sebagimana hadits yang di sabdakan Nabi ﷺ:

مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

Artinya, “Barang siapa yang bershalawat kepadaku sekali, niscaya Allah ﷻ bershalawat kepadanya sepuluh kali,” (HR. Muslim).

مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ

Artinya, “Siapa saja yang membaca shalawat kepadaku sekali, niscaya Allah ﷻ bershalawat kepadanya sepuluh kali, menghapus sepuluh dosanya, dan mengangkat derajatnya sepuluh tingkatan,” (HR. An-Nasa’i).

Lalu ada yang bertanya bagaimana bisa satu bacaan sholawat dibalas dengan sepuluh sholawat?

Dalam kitab Itihafu as-Sadah al-Muttaqin Syarah Ihya Ulumiddin, Syaikh asy-Sayyid Muhammad bin Muhammad al-Husainiy al-Zabidiy atau yang dikenal dengan sebutan Syaikh Murtadha mengatakan:

وإنما تضاعف الصلاة لأن الصلاة ليست حسنة واحدة بل حسنات إذ فيها تجديد الايمان بالله أولاً ، ثم بالرسول ثانياً ، ثم بتعظيمه ثالثاً ، ثم بالعناية بطلب الكرامة له رابعاً ، ثم تجديد الإيمان باليوم الآخر وأنواع كرامات خامساً ، ثم يذكر الله سادساً ، وعند ذكر الصالحين تنزل الرحمة ثم بتعظيم الله بنسبتهم إليه سابعاً ، ثم باظهار المودة لهم ثامناً ، ولم يسأل الله من أمته إلا المودة في القربى ، ثم الابتهال والتضرع في الدعاء تاسعاً ، والدعاء مخ العبادة ، ثم بالاعتراف عاشراً بأن الأمر كله الله وأن النبي وإن جل قدره فهو محتاج إلى رحمة الله عز وجل. فهذه عشر حسنات سوى ما ورد الشرع به من أن الحسنة الواحدة بعشر أمثالها وإن السيئة بمثلها فقط. انتهى

“Alasan dilipat gandakannya membaca sholawat kepada Nabi ﷺ Karana sholawat tidak hanya mengandung satu kebaikan bahkan banyak mengandung beberapa kebaikan. Pertama memperbarui iman kepada Allah ﷻ, kedua memperbarui iman kepada Rasulullah ﷺ, ketiga mengagungkannya, keempat keperdulian memohonkan kemuliaan untuknya, kelima memperbarui iman dengan hari akhir dan segala macam kemuliaan, keenam dzikir kepada Allah ﷻ, ketujuh ketika mengingat orang-orang sholeh berakibat turunnya rahmat kemudian mengagungkan Allah ﷻ dengan sebab hubungkan mereka kepada-Nya, kedelaan menampakan kecintaan kepada mereka, kesembilan Nabi ﷺ tidak pernah memohonkan umatnya kecuali kecintaan dalam ibadah kemudian fokus dan sepenuh hati dalam berdoa, kesepuluh doa adalah sentral ibadah kemudian memberi pengakuan bahwa semuanya adalah perintah Allah ﷻ dan Nabi ﷺ sekalipun sudah tinggali derajatnya, beliau masih butuh ada rahmat Allah ﷻ. Sepuluh kebaikan ini belum kebaikan-kebaikan yang telah disebutkan dalam Syara’. Yaitu bahwa satu kebaikan akan mendapat balasan sepuluh kebaikan yang sama dan satu kejelekan hanya mendapat balasan satu kejelakan saja. Wallahu A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

Publisher: Fakhrul

Referensi:

✍️ Syaikh asy-Sayyid Muhammad bin Muhammad al-Husainiy al-Zabidiy| Itihafu as-Sadah al-Muttaqin Syarah Ihya Ulumiddin| Daru al-Kutub al-Ilmiyah, juz 5, halaman 276.

✍️ Syaikh Yusuf bin Ismail an-Nabahaniy| Saadatu ad-Darain fi ash-Sholawati ala Sayyidi al-Kawnaini ﷺ|Daru al-Kutub al-Ilmiyah, halaman 51.