Khodimul Ma’had Tekankan Pentingnya Sinergi Pondok dan Wali Santri

oleh -909 Dilihat

Syaichona.net – Pengurus Harian Pondok Pesantren (Ponpes) Syaichona Moh. Cholil mengadakan acara Silaturahmi Pertemuan Wali Santri Putra dan Putri. Acara yang digelar untuk mendukung keberlangsungan pendidikan santri ini berlangsung pada Senin (25/08/25) di Halaman Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Bangkalan.

Tepat pukul 08.00 WIB, acara dimulai dengan pembacaan sholawat Al-Habsyi oleh Jam’iyah Ahbabul Musthofa Bangkalan.

Dalam taujih-nya, Pengasuh Ponpes yang diwakili oleh R.K.H. Ismail Ahmad Yahya Al-Ascholy menyampaikan bahwa pihak pondok (khodim) menekankan pentingnya peran wali santri untuk selalu mendukung anaknya yang sedang menempuh pendidikan, baik dukungan yang bersifat lahiriah maupun batiniah.

“Kami tegaskan bahwa keberhasilan pendidikan santri tidak hanya ditentukan oleh pembinaan yang dilakukan oleh pihak pondok semata, tetapi diperlukan sinergi dan kerja sama yang kuat antara pondok dan wali santri, baik dalam bentuk dukungan lahiriah maupun batiniah,” tegasnya.

Selain itu, beliau juga menyampaikan kepada para wali santri untuk senantiasa berprasangka baik terhadap pondok pesantren. “Sesungguhnya kami selalu berusaha agar pendidikan putra-putri Anda semua berjalan lancar. Ibaratnya, pondok dan wali santri seperti dua sayap seekor burung. Jika salah satu lemah atau patah, maka burung tidak akan dapat terbang dengan baik. Namun, jika kedua sayap itu kuat dan seimbang, insyaallah sang burung akan mampu terbang tinggi dan jauh, bahkan membawa manfaat bagi umat,” tuturnya.

Acara tersebut dihadiri oleh R.K.H. Fakhruddin Aschal, R.K.H. Moh. Nasih Aschal, R.K.H. Ismail Yahya Al-Ascholy, K.H. Agus Lukman Hakim, para nyai, serta segenap Dewan Pengurus Asatidz dan Asatidzah Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Bangkalan.

R.K.H. Moh. Nasih Aschal menyampaikan dalam sambutannya selaku Ketua Umum Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Putra bahwa orang tua tidak boleh mudah menceritakan atau mencurahkan perasaan (curhat) kepada anaknya tentang keadaan yang sedang menimpa diri orang tua.

“Maka, kita sebagai orang tua harus hadir untuk anak sebagai pendengar, bukan hadir untuk didengar. Oleh karena itu, apa pun yang dirasakan oleh orang tua, baik senang maupun duka, jangan sampai mudah diberitahukan atau dicurahkan kepada anak. Hal seperti ini akan mudah dicerna oleh anak kita dan bisa membuat anak terus kepikiran,” tegasnya.

Reporter: Abdussalam