ENAM ATAU EMPAT BULAN BATAS ISTRI MAMPU MENAHAN RINDU PADA SUAMI

oleh -464 Dilihat

Syaichona.net- Menjalani hidup pernikahan dengan jarak yang jauh tentu sulit dan menyiksa khusus bagi seorang istri, tapi apa boleh buat tuntutan profesi dan tugas membuat keduanya harus berpisah dalam waktu yang lama. Jika keduanya tidak pandai-pandai netralisir keadaan semisal saling memberikan kabar setiap pekan atau membuat komitmen untuk bisa meluangkan waktu bertemu dan menahan diri dari segala godaan yang mengancam keutuhan biduk rumah tangga, maka rumah tangga yang dibangun dengan mahligai yang indah akan runtuh berakhir dengan penceraian. 𝑵𝒂’𝒖𝒅𝒛𝒖 𝒃𝒊𝒍𝒍𝒂𝒉.

Sayyidina Umar bin Khatab ra pernah bercerita, ketika malam hari, Umar berkeliling kota Madinah. Tiba-tiba beliau mendengar ada seorang wanita melantunkan sebuah puisi ratapan akan kesepian:

تَطاوَلَ هَذا اللَّيْلُ واسْوَدَّ جانِبُهْ ❁ وأرَّقَنِي أنْ لا خَلِيلَ أُلاعِــبُهْ
فَواللَّهِ لَــوْلا اللَّهُ أنِّي أُراقِــبُهْ ❁ لَحُرِّكَ مِن هَذا السَّرِيرِ جَوانِبُهْ

𝑴𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒊𝒏𝒊 𝒕𝒆𝒓𝒂𝒔𝒂 𝒑𝒂𝒏𝒋𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒂𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒖𝒋𝒖𝒏𝒈 𝒌𝒆𝒍𝒂𝒎 𝑻𝒊𝒅𝒖𝒓𝒌𝒖 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒍𝒆𝒏𝒂 𝒌𝒂𝒓𝒆𝒏𝒂 𝒕𝒂𝒌 𝒂𝒅𝒂 𝒌𝒆𝒌𝒂𝒔𝒊𝒉 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒏𝒂𝒎𝒊𝒌𝒖 𝒃𝒆𝒓𝒎𝒂𝒊𝒏.

𝑫𝒆𝒎𝒊 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉 ﷻ, 𝒂𝒏𝒅𝒂𝒊 𝒃𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒌𝒂𝒓𝒆𝒏𝒂 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉 ﷻ 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒂𝒘𝒂𝒔𝒊𝒌𝒖
𝑵𝒊𝒔𝒄𝒂𝒚𝒂 𝒖𝒋𝒖𝒏𝒈-𝒖𝒋𝒖𝒏𝒈 𝒅𝒊𝒑𝒂𝒏 𝒊𝒏𝒊 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒅𝒊𝒈𝒐𝒏𝒄𝒂𝒏𝒈.

Mendengar hal itu Sayyidina Umar ra teringat para perajurit-perajurit yang berperang membela panji Islam di negeri yang jauh meninggalkan keluarga dan istrinya. Wanita ini telah kesepian karena ditinggal lama sang suami. Dia bersabar dan tetap menjaga kehormatannya.

Seketika itu, Sayyidina Umar ra langsung mendatangi Hafshah ra, putri beliau;

“Berapa lama seorang wanita sanggup bersabar untuk tidak kumpul dengan suaminya?” Tanya Sayyidina Umar ra.

“Enam atau empat bulan Ayah.” Jawab Hafshah ra.

Sayyidina Umar ra kemudian berkomitmen;

“Aku tidak akan menahan pasukan lebih dari batas itu”. (Riwayat Malik dari Abdullah bin Dinar).

Dalam riwayat lain dengan redaksi yang berbeda, dari Ibnu Ishak dan Ibnu Abi Dunya dalam kitab al-Asyraf dari as-Saib bin Jabir budak yang pernah dimerdekakan Ibnu Abbas ra dan masih menututi hidup para sahabat Nabi berkata; “Masih belum hilang dari ingatanku saat pertama kali aku mendengar hadits tentang Sayyidina Umar ra, bahwa di antara kebiasaan baik Khalifah Umar bin Khattab ra adalah senantiasa melalukan ronda malam sediri, keliling kota Madinah. Pada suatu malam beliau pernah melakukan ronda, tiba-tiba mendengar suara ratapan wanita Arab dari balik pintu yang terkunci, berkata:

تَطاوَلَ هَذا اللَّيْلُ تَسْرِي كَواكِبُهْ ❁ وأرَّقَنِي أنْ لا ضَجِيعَ أُلاعِبُهْ
فَواللَّهِ لَوْلا اللَّهُ لا شَيْءَ غَيْرُهُ ❁ لَحُـرِّكَ مِن هَذا السَّرِيرِ جَوانِبُهْ
وبِتُّ ألاهِــي غَيْرَ بِدْعٍ مُلَعَّــنٍ ❁ لَطِيفَ الحَشــا لا يَحْتَوِيهِ مُصاحِبُهْ
يُلاعِبُنِي طَوْرًا وطَوْرًا كَأنَّما ❁ بَدا قَمَرًا في ظُلْمَةِ اللَّيْلِ حاجِبُهْ
يُسَرُّ بِهِ مَن كانَ يَلْهُو بِقُــرْبِهِ ❁ يُعــاتِبُنِي في حُــبِّهِ وأُعاتِبُــــهْ
ولَكِنَّنِي أخْشى رَقِيبًا مُوَكَّلًا ❁ بِأنْفُسِنا لا يَفْتُرُ الدَّهْـــــرَ كاتِبُــهْ

𝑴𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒊𝒏𝒊 𝒕𝒆𝒓𝒂𝒔𝒂 𝒑𝒂𝒏𝒋𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒂𝒏 𝒄𝒂𝒉𝒂𝒚𝒂 𝒃𝒊𝒏𝒕𝒂𝒏𝒈 𝒈𝒆𝒎𝒊𝒕𝒂𝒏𝒈𝒏𝒚𝒂 𝒕𝒆𝒍𝒂𝒉 𝒓𝒆𝒅𝒖𝒑
𝑻𝒊𝒅𝒖𝒓𝒌𝒖 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒍𝒆𝒏𝒂 𝒌𝒂𝒓𝒆𝒏𝒂 𝒕𝒂𝒌 𝒂𝒅𝒂 𝒕𝒆𝒎𝒂𝒏 𝒕𝒊𝒅𝒖𝒓 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒂𝒌𝒖 𝒂𝒋𝒂𝒌 𝒃𝒆𝒓𝒎𝒂𝒊𝒏.

𝑫𝒆𝒎𝒊 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉 ﷻ, 𝒂𝒏𝒅𝒂𝒊 𝒃𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒌𝒂𝒓𝒆𝒏𝒂 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉 ﷻ—𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒂𝒅𝒂 𝑻𝒖𝒉𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒊𝒏𝒏𝒚𝒂
𝑵𝒊𝒔𝒄𝒂𝒚𝒂 𝒖𝒋𝒖𝒏𝒈-𝒖𝒋𝒖𝒏𝒈 𝒅𝒊𝒑𝒂𝒏 𝒊𝒏𝒊 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒅𝒊𝒈𝒐𝒏𝒄𝒂𝒏𝒈.

𝑫𝒂𝒏 𝒂𝒌𝒖 𝒃𝒆𝒓𝒈𝒂𝒅𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒆𝒕𝒊𝒂𝒑 𝒎𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒉𝒊𝒃𝒖𝒓 𝒅𝒊𝒓𝒊, 𝒃𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒔𝒖𝒂𝒕𝒖 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒑𝒆𝒓𝒕𝒂𝒎𝒂 𝒂𝒌𝒖 𝒖𝒏𝒈𝒌𝒂𝒑𝒌𝒂𝒏
𝑲𝒆𝒍𝒆𝒎𝒃𝒖𝒕𝒂𝒏 𝒃𝒂𝒏𝒕𝒂𝒍 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒂𝒌𝒖 𝒕𝒆𝒎𝒂𝒏𝒊, 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒎𝒆𝒘𝒂𝒌𝒊𝒍𝒊.

𝑰𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒆𝒎𝒂𝒏𝒊𝒌𝒖 𝒃𝒆𝒓𝒎𝒂𝒊𝒏 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒎𝒂𝒔𝒂 𝒌𝒆 𝒌𝒆𝒎𝒂𝒔𝒂 𝒔𝒆𝒂𝒌𝒂𝒏
𝑹𝒆𝒎𝒃𝒖𝒍𝒂𝒏 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒂𝒎𝒑𝒂𝒌 𝒅𝒊 𝒈𝒖𝒍𝒊𝒕𝒂 𝒎𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒅𝒊 𝒑𝒆𝒏𝒈𝒉𝒂𝒍𝒂𝒏𝒈𝒏𝒚𝒂.

𝑶𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒆𝒓𝒂𝒅𝒂 𝒅𝒊𝒅𝒆𝒌𝒂𝒕𝒏𝒚𝒂 𝒅𝒊𝒃𝒖𝒂𝒕 𝒔𝒆𝒏𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒆𝒓𝒑𝒆𝒔𝒐𝒏𝒂
𝑺𝒆𝒎𝒃𝒂𝒓𝒊 𝒎𝒆𝒏𝒚𝒊𝒏𝒅𝒊𝒓𝒌𝒖 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒄𝒊𝒏𝒕𝒂 𝒅𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒎𝒂𝒓𝒂𝒉𝒂𝒏𝒏𝒚𝒂.

𝑻𝒂𝒕𝒂𝒑𝒊 𝒂𝒌𝒖 𝒕𝒂𝒌𝒖𝒕 𝒑𝒂𝒅𝒂 𝑴𝒂𝒍𝒂𝒊𝒌𝒂𝒕 𝑹𝒂𝒒𝒊𝒃 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒊𝒕𝒖𝒈𝒂𝒔𝒌𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒂𝒘𝒂𝒔𝒊 𝒅𝒊𝒓𝒊 𝒌𝒂𝒎𝒊
𝒀𝒂𝒏𝒈 𝒋𝒖𝒓𝒖 𝒄𝒂𝒕𝒂𝒕𝒏𝒚𝒂 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒑𝒆𝒓𝒏𝒂𝒉 𝒃𝒆𝒓𝒅𝒖𝒔𝒕𝒂 𝒔𝒆𝒑𝒂𝒏𝒋𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒂𝒔𝒂.

Kemudian wanita itu menghela nafas panjang dan berkata; “Umar bin Khattab telah melupakanku tentang ketakutanku di rumah sendiri, tanpa suami didekatku dan sedikitnya nafkah untukku.”

Mendengar ratapan wanita itu, Sayyidina Umar ra berkata pada wanita itu; “Semoga Allah ﷻ memberimu rahmat-Nya!”

Keesokan harinya Sayyidina Umar ra mendatangi wanita itu dengan membawa nafkah yang dibutuhkan, pakaian dan mengirim surat pada pegawainya agar suami wanita itu segera dinon-aktifkan sebagai prajurit perang agar bisa lebih banyak bersama dengan istrinya. Waallahu A’lamu

Penulis : Abdul Adzim

Reverensi:

✍️ 𝑺𝒚𝒂𝒊𝒌𝒉 𝑱𝒂𝒍𝒂𝒍𝒖𝒅𝒅𝒊𝒏 𝑨𝒃𝒅𝒖𝒓𝒓𝒂𝒉𝒎𝒂𝒏 𝒃𝒊𝒏 𝑨𝒃𝒊 𝑩𝒂𝒌𝒓𝒊𝒏 𝒂𝒔-𝑺𝒖𝒚𝒖𝒕𝒉𝒊| 𝑨𝒅-𝑫𝒖𝒓𝒓𝒖 𝒂𝒍-𝑴𝒂𝒏𝒕𝒔𝒖𝒓 𝒇𝒊 𝒂𝒕-𝑻𝒂𝒇𝒔𝒊𝒓 𝒂𝒍-𝑴𝒂’𝒕𝒔𝒖𝒓| 𝑫𝒂𝒓𝒖 𝒂𝒍-𝑲𝒖𝒕𝒖𝒃 𝒂𝒍-𝑰𝒍𝒎𝒊𝒚𝒂𝒉 𝒋𝒖𝒛 1 𝒉𝒂𝒍 487.