Pada pergelaran Tasyakuran Penganugerahan Syaichona Moh Cholil sebagai Pahlawan Nasional, dua cicit Syaichona Moh Cholil, yaitu KH. Ismail Al-Ascholy dan KH. Ismail Al-Kholilie berkolaborasi mempresentasikan jejak sejarah Syaichona Moh Cholil yang bertempat di halaman Masjid Martajasah pada (20/11/25)
Beliau berdua dengan kompak bergantian memaparkan sisi-sisi Syaichona Moh Cholil yang masih benyak belum orang ketahui, khususnya dalam kegiatan sehari-harinya
KH. Ismail Al-Ascholy mengungkapkan bahwa, salah satu manuskrip yang ditemukan oleh tim turost yang diperoleh dari Gus Ahmad Ginanjar Sya’ban bertuliskan bahwa, pelaksanaan haul ke-13 Syaichona Moh Cholil dipanitiai oleh 7 organisasi masyarakat sekaligus
“Pada tahun 1938 M di Bangkalan Madura pernah diadakan haul Syaichona Moh Cholil yang dipanitiai oleh 7 organisasi masyarakat yang diantaranya adalah NU, Muhammadiyah, PPDP dan lain-lain,” tutur KH. Ismail Al-Ascholy
KH. Ismail Al-Kholilie menambahkan bahwa juga ditemukan catatan tentang jalannya acara haul tersebut dari salah satu dzurriyah panitia acara waktu itu
“Ada laporan tentang jalannya acara haul waktu itu (1938) melalui manuskirip yang kita temukan di kediaman dzurriyah daripada Habib Ahmad Al-Jufri, salah satu panitia yang memimpin jalannya acara haul waktu itu, ” ungkap KH. Ismail Al-Kholilie
Lebih dari itu, rupanya acara sakral tersebut juga dimuat di koran-koran Batavia waktu itu, sebagaimana yang diungkapkan oleh KH. Ismail Al-Ascholy
“Bahkan diberitakan oleh koran-koran Batavia yang juga meliput kejadian besar tersebut, yaitu perkumpulan ormas-ormas besar di negeri kita yang hanya untuk menyelenggarakan haul Syaichona Moh Cholil,” tutur KH. Ismail Al-Ascholy
Dalam koran tersebut dipaparkan bahwa, terdapat satu komite yang beranggotakan 19 orang kiai yang pernah menimba ilmu kepada Syaichona Moh Cholil. Mereka diminta untuk menulis kesan-kesan atau hal-hal yang berhubungan dengan Syaichona Moh Cholil sewaktu hidup
“Panitia haul membuat satu komite yang berisi 19 orang kiai untuk menuliskan kesan-kesan pada saat nyantri kepada Syaichona mohon cholil, nama nama tersebut adalah:
1. KH. Syamsuddin Banyuwangi
2. KH. Makki Sampang
3. KH. Busiri Pasuruan
4. KH. Amir Kota Gede Yogyakarta
5. KH. Munir Jambu
6. KH. Irsyad Socah
7. KH. Nur Yasin Malang
8. KH. Hasyim Jombang
9. KH. Abdurrahman Betawi
10. KH. Mas Mansur Yogyakarta
11. KH. Abdus Shomad Gersik
12. KH. Abdul Aziz Sebeneh
13. KH. Bayuni Pemekasan
14. KH. Ridwan Kauman
15. KH. Abdul Halim Gersik
16. KH. Abu Syuja’ Sumenep
17. KH. Zainal Arifin Sumenep
18. KH. Ilyas Guluk-Guluk Sumenep
19. KH. Sajjad,”
tutur KH. Ismail Al-kholilie
“Koran ‘Harian Pemandangan’ pada waktu itu juga meliput bahwa, dalam acara haul tersebut juga ada sumbangan beras dari salah satu orang Tionghoa yang bernama Tik Joe Loa, yang mana hal itu menunjukkan bahwa Syaichona Moh cholil sangat dicintai oleh masyarakat lintas suku, budaya dan agama,” imbuhnya
KH. Ismail Al-kholilie juga menyampaikan bahwa dalam salah satu surat laporan disebutkan bahwasanya orang-orang dari berbagai kota berbondong-bondong menghadiri haul Syaichona Moh Cholil
“Dalam sebuah surat laporan (Verslag) dijelaskan bahwa acara haul berlangsung dengan meriah, sampai-sampai orang-orang yang dari Sampang, Pamekasan, Sumenep dan lain-lain berangkat dua hari sebelum haul berlangsung dengan jalan kaki. Bahkan Robithoh Alawiyah mengirim surat menyesal karena tidak bisa hadir waktu itu,” ungkap KH. Ismail Al-Kholilie
Dalam surat laporan tersebut juga dijelaskan bahwa dalam haul Syaichona Moh Cholil beberapa kiai-kiai yang pernah nyantri kepada Syaichona Moh Cholil diminta untuk menyampaikan testimoni atau kisah-kisah Syaichona Moh Cholil semasa hidupnya
Di antara testimoni atau kisah-kisah yang disampaikan oleh beberapa kiai tersebut adalah tentang kegiatan atau aktivitas harian Syaichona Moh Cholil
“Di antara yang dikenang oleh santrinya adalah jadwal harian Syaichona cholil, yaitu beliau bangun jam 3 untuk sholat tahajjud dan kemudian solat subuh, lalu mengajar Al-Qur’an sampai jam 9 pagi, dilanjut mengajar Nahwu sampai dzuhur, lalu mengajar Shorof dan Tajwid sampal jam 4 asar, lalu mengajar Al-Qur’an lagi sampai jam 9 malam, lalu mengajar Tashrif sampai jam 11 malam, lalu mengajar santri putri sampai jam 1 dini hari, sesudah itu baru beliau istirahat,” ungkap KH. Ismail Al-Ascholy
“Di sini kita bisa lihat bahwa Syaichona Moh cholil adalah ulama yang memperbolehkan bagi perempuan untuk belajar, karena pada saat itu perempuan sulit sekali mendapatkan ilmu pengetahuan,” imbuhnya
Di antaranya lagi adalah tentang bagaimana Syaichona Moh Cholil membangun dan meramaikan masjid-masjid untuk umat
“Menurut beberapa testimoni tentang pendirian masjid yang beliau dirikan, belliau tidak hanya mendirikan lalu pergi, tapi juga ditinggali, makanya di beberapa masjid beliau terdapat dhalemnya. Artinya, beliau bukan hanya membangun masjid, tapi bagaimana seseorang bisa hadir dan sholat di masjid, ” jelas KH. Ismail Al-Ascholy
Di antaranya lagi disebutkan bahwa, Syaichona Moh Cholil adalah orang yang sangat peduli terhadap lingkungan sosialnya, sampai-sampai beliau membangun rumah miskin untuk membagi-bagikan makanan kepada orang-orang miskin
“Dari laporan vreslag mengatakan bahwa Syaichona Moh Cholil yang pertama kali membangun rumah miskin di Madura, rumah miskin ini yang fungsinya membagikan makanan bagi orang-orang yang tidak mampu,” ungkap KH. Ismail Al-Kholilie
Di antaranya lagi, Syaichona Moh Cholil memiliki kebiasaan untuk pergi ke desa-desa menemui masyarakat dan membagi-bagikan permen untuk anak-anak
“Termasuk yang menjadi kebiasaan Syaichona Moh cholil yang ditulis oleh Syekh Yasin bin Isa Al-Fadani dalam kitabnya adalah Syaikhona Kholil sehabis ashar pergi ke desa-desa, blusukan menuju masyarakat, beliau membagi permen-permen untuk anak-anak,” tutur KH. Ismail Al-Kholilie
Terakhir, KH. Ismail Al-Ascholy menyampaikan testimoni atau ungkapan daripada KH. Sholeh Lateng tentang Syaichona Moh Cholil menjelang wafatnya
“Dan di akhir acara tersebut diisi penyampaian oleh Kiai Sholeh Lateng, bahwa 2 bulan sebelum Syaichona Moh Cholil wafat, beliau berpesan kepada Kiai Sholeh agar tidak didoakan panjang umur, akan tetapi mendoakan agar wafat dalam keadaan islam. Dan ternyata, dua bulan setelah itu, pada 29 Ramadhan 1252 Syaichona Moh Cholil
menghembuskan nafas terakhirnya,” jelas KH. Ismail Al-Ascholy
Author: Fakhrullah
