Tentang Hadits, Hidupku Baik untuk Kalian dan Matiku Baik untuk Kalian

oleh -62 Dilihat

Terdapat sebuah riwayat hadits dari Hadits bin Abi Usamah dari Anas bin Malik ra, Rasulullah bersabda:

۳۷۷۰- حياتِي خَيْرٌ لَكُمْ وَمَمَاتِي خَيْرٌ لَكُمْ الْحَارِثِ عَن أنس

Arti secara tekstual: “Hidupku baik bagi kalian dan matiku baik bagi kalian”.

Namun menurut Syaikh Ali bin Ahmad bin Nuruddin bin Muhammad bin Ibrahim al-Aziziy al-Bulaqiy asy-Syafi’i (w. 1070 h) Dalam kitabnya as-Siraju al-Munir Syarah al-Jami’ ash-Shoghir, beliau menjelaskan makna hadits di atas:

(حَياتِي خَيْرٌ لَكُمْ) أي: حياتي في هذا العالم موجبة لحفظكم من البدع والفتن والاختلاف (وَمَمَاتِي خَيْرٌ لَكُمْ) فإن لكل نبي في السماء مستقراً إذا قبض، والمصطفى متشمر هناك يسأل لأمته ما فيه نفعهم وصلاحهم، وخير ليس على بابه فلا يقال: أين المفضل عليه، الحارث عن أنس رضي الله عنه بإسناد ضعيف.

“Hidupku baik bagi kalian” artinya: Hidupku di alam ini wajib menjaga kalian dari bid’ah, fitnah dan perselisihan. Adapun arti sabda Nabi “Matiku baik bagi kalian” adalah bahwa semua para Nabi setelah wafat menetap di langit, Rasulullah ﷺ al-Musthofa berlanjut memohonkan sesuatu yang manfaat dan kebaikan bagi umatnya. Dan kata “Khairu” dalam hadits tersebut bukan pada babnya (berlaku sebagai isim afdhalu Tafdhil; isim bermakna lebih utama) maka jangan ditanya, mana Mufhadhu alaihnya (lafadz yang lebih diutamakan)? Hadits ini diriwayatkan al-Harits dari Anas ra dengan sanad yang dhaif (lemah).

Sementara Syaikh Muhammad yang dikenal dengan sebutan Abdurrauf al-Manawiy (w. 1031 h) dalam kitabnya Faidhu al-Qadir Syarah Jami’ ash-Shaghir mengatakan:

( حياتى) أى فى الدنيا والانبياء أحياء في قبورهم ( خير لكم أى حياتى في هذا العالم موجبة الحفظكم من الفتن والبدع والاختلاف والصحب وإن اجتهدوا في ادراك الحق لكن الأوفق الوفاق وغير المعصوم في معرض الخطا (ومماتى) وفي رواية موتى ( خير لكم) لأن لكل نبي في السماء مستقرا إذا قبض كما دلت عليه الاخبار فالمصطفى صلى الله عليه وسلم مستمر هناك يسأل الله لأمته في كل يوم لكل صنف فللتهافتين التوبة وللتائبين الثبات وللمستقيمين الاخلاص ولأهل الصدق الوفاء وللصديقين فور الحظ فبين بقوله ومماتى خير لكم عدم انقطاع النفع بالموت بل الموت في وقته أنفع ولو من وجه ومن فوائده فتح باب الاجتهاد وترك الاتكال والمشى على الاحتياط وغير ذلك

“Hidupku” di dunia, dan semua para Nabi hidup di dalam kuburnya. “Baik bagi kalian” hidupku di alam ini wajib menjaga kalian dari bid’ah, fitnah, perselisihan dan persahabatan sekalian pun kalian semua telah berijtihad untuk menemukan kebenaran tetapi yang paling tepat dan bukan orang yang ma’sum (terjaga) kalian tidak lepas dari kesalahan. “Matiku baik bagi kalian” karena setiap Nabi menetap di langit, ketika telah wafat sebagaimana keterangan beberapa hadits yang menjelaskannya. Sedangkan al-Musthofa (Nabi Muhammad ﷺ) tidak perah berhenti memohon taubat kepada Allah ﷻ untuk umatnya setiap hari, untuk setiap golongan lalu untuk golongan yang lain. Bagi golongan yang bertaubat (dimintakan) semoga mendaat ketetapan iman, bagi golongan yang Istiqomah melakukan kebajikan (dimintakan) semoga ikhlas, bagi ahli kebenaran (dalam ucapan, perilaku dan niat) dimintakan semoga selalu dalam kebenaran dan bagi para shoddiqin (orang-orang telah sempurna dalam kebenaran) semoga memperoleh keberuntungan.

Maka menjadi jelas dengan sabda Nabi ﷺ: “Matiku baik bagi kalian” bahwa kemanfaatan tidak pernah putus setelah wafatnya Nabi ﷺ bahkan dalam satu sisi saat beliau wafat lebih banyak kemanfaatan (yang di dapat oleh umatnya) di antaranya terbukanya pintu ijtihad, meninggalkan sikap tawakal (tanpa mau berusaha kepada Allah ﷻ, menjalani kehidupan lebih hati-hati dan lain sebagainya.

Selanjutnya Syaikh Muhammad Abdurrauf al-Manawiy menyematkan sebuah permasalahan terkait hadits ini, beliau berkata:

(تتمة) استشكل بعضهم تركيب هذا الحديث فقال الفعل التفضيل يوصل بمن عند تجرده ووصله بها غير ممكن هنا إذ يصير الكلام حياتى خير لكم من مماتي ومماتى خير لكم من حياتي وأجاب المؤلف بأن الإشكال إنما هو من ظن أن خير هنا أفعل تفضيل ولا كذلك فإن لفظة خير لها استعمالان أحدهما أن يراد بها معنى التفضيل لا الأفضلية وضدها الشر ، الثاني أن يراد بها معنى الأفضلية وهي التي توصل بمن وهذه أصلها أخير فحذفت همزتها تخفيفاً فخير في هذا الحديث أريدبها التفضيل لا الأفضلية فلا توصل بمن وليست بمعنى أفضل وإنما المقصود أن في كل من حياته ومماته خيراً لا أن هذا خير من هذا و لا هذا خير من هذا

“(Sebuah penyempurnaan), sebagian ulama ada yang menyangsikan susunan redaksi dari hadits ini. Ia berkata: “Biasanya Af’alu Tafdhil (kata kerja yang menunjukan makna lebih) disertai dengan kata “Min” (dari) sebagai kata penyambung, dan menyertai kata “Min” (dari) di hadits ini sepertinya tidak mungkin dilakukan. Karena jika dipaksakan, maka susunan redaksinya akan menjadi “hidupku lebih baik bagi kalian dari pada matiku dan matiku lebih baik bagi kalian dari pada hidupku”.

Dan sang penulis (Syaikh Jalaluddin as-Suyuthiy) menjawab: “Bahwa suatu yang disangsikan sebenarnya timbul dari asumsi bahwa kata “Khair” (baik) dalam hadits tersebut tergolong Af’alu Tafdhil (kata kerja yang menunjukan makna lebih) padahal bukan seperti itu. Maka perlu diketahui bahwa kata “Khair” (baik) mempunyai dua pengamalan. Pertama, bisa bermakna Tafdhil (utama) kebalikan kata Syar (buruk) bukan bermakna Afdhaliyah (bersifat lebih utama). Kedua, bisa bermakna Afdhaliyah (bersifat lebih utama) yang biasa disambung dengan kata “Min” (dari) dan kata “Khair” yang ini berasal dari kata “Akhyar” (lebih baik) lalu Hamzahnya dibuang karena bertujuan memperingan dalam mengucapkan. Sedangan kata “Khair” (baik) dalam hadits tersebut bermakna Tafdhil (utama) bukan bermakna Afdhaliyah (bersifat lebih utama). Maka dari itu tidak disambung dengan kata “Min” (dari) dan tidak bermakna Afdhal (lebih baik) tetapi yang maksud adalah semua hidup dan wafat Rasulullah ﷺ adalah baik, bukan bermakna: “ini lebih baik dari pada ini dan bukan ini lebih baik dari pada ini.”

Dalam riwayat yang berbeda, juga terdapat hadits yang sama dengan redaksi yang berbeda. Berikut teks haditsnya:

۳۷۷۱- حَيَاتِي خَيْرٌ لَكُمْ تُحَدِّثُونَ ويُحْدَثُ لَكُمْ فَإِذا أَنا مُتَّ كَانَتْ وَفاتِي خَيْراً لَكُمْ تُعْرَضُ عليَّ أَعْمَالَكُمْ فَإِنْ رَأَيْتُ خَيْراً حَمِدْتُ الله وإِنْ رَأَيْتُ شَراً اسْتَغْفَرْتُ لَكُمْ … ابن سعد عن بكر بن عبد الله مرسلاً.

Arti secara tekstual: “Hidupku lebih baik buat kalian dan matiku lebih baik buat kalian. Kalian bisa berbicara dan mendengar pembicaraan. Jika aku mati maka wafatku baik bagi kalian. Amal perbuatan kalian disampaikan kepadaku. Jika aku menemukan kebaikan maka aku memuji Allah ﷻ. Namun jika menemukan keburukan aku memohonkan ampunan kepada Allah ﷻ buat kalian.” (Hadits ini diriwayatkan Ibnu Said dari Bakr bin Abdullah berupa hadits Mursal.

Menurut Syaikh Ali bin Ahmad bin Nuruddin bin Muhammad bin Ibrahim al-Aziziy al-Bulaqiy asy-Syafi’i dalam kitab yang sama, beliau menjelaskan hadits di atas:

(حَياتِي خَيْرٌ لَكُمْ تُحَدِّثُونَ) بضم المثناة الفوقية بخط المؤلف (ويُحْدَثُ) بضم المثناة التحتية وفتح الدال بخطه لَكُمْ) أي: تحدثوني بما أشكل عليكم وأحدثكم بما يزيل الإشكال ويرفعكم إلى درجة الكمال، واحتمال أن المعنى تحدثون طاعة ويحدث لكم غفراناً يدفعه إن ذلك ليس خاصاً بحياته فإذا أَنَا مُتَّ كَانَتْ وَفاتِي خَيْراً لَكُمْ تُعْرَضُ عليَّ أَعْمَالَكُمْ فَإِنْ رَأَيْتُ خَيْراً حَمِدْتُ اللَّهُ وَإِنْ رَأَيْتُ شَراً اسْتَغْفَرْتُ لَكُمْ) وذلك كل يوم كما ذكره المؤلف وعده من خصوصياته، وتعرض عليه أيضاً مع الأنبياء والآباء يوم الاثنين والخميس (ابن سعد في طبقاته (عن بكر بن عبد الله) المزني (مرسلاً) ورجاله ثقات

“Hidupku lebih baik buat kalian dan matiku lebih baik buat kalian. Kalian bisa berbicara dan mendengar pembicaraan” artinya: “kalian bisa berbicara kepadaku tentang sesuatu yang kalian sangsikan (tidak mengerti) dan aku bisa berbicara (menyampaikan) pada kalian tentang sesuatu yang bisa menghilangkan kesangsian (sesuatu yang tidak mengerti) kalian dan bisa mengangkat kalian pada derajat yang sempurna.” Tapi hadits tersebut bisa diarahkan pada makna: “kalian bisa membicarakan tentang ketaatan dan akan disampaikan (dijelaskan) pada kalian tentang ampunan. Keterangan ini menyangkal (pendapat) yang mengatakan bahwa hal itu khusus saat Nabi ﷺ masih hidup.

Sedangkan arti tersirat dari kelanjutan hadits: “Jika aku wafat, maka wafatku baik bagi kalian. Amal perbuatan kalian disampaikan kepadaku. Jika aku menemukan kebaikan maka aku memuji kepada Allah ﷻ. Namun jika menemukan keburukan aku memohonkan ampunan kepada Allah ﷻ buat kalian.” Hal itu berlaku setiap hari sebagaimana yang disampaikan penulisnya dan beliau menganggapnya sebagai salah satu kekhususan yang berikan kepada Nabi ﷺ dan juga ditampakkan kepada para Nabi dan leluhurnya di hari Senin dan Kamis.” Hadits ini diriwayatkan Ibnu Said dalam kitab Thabaqah karyanya dari Bakr bin Abdullah al-Muzanniy berupa hadits Mursal dan semua rawinya Tsiqah (dapat dipercaya).

Sementara menurut Syaikh Muhammad Abdurrauf al-Manawiy dalam kitab yang sama Faidhu al-Qadir Syarah Jami’ ash-Shaghir menambahkan:

(فإذا رأيت خيرا حمدت الله وإن رأيت) فيها (شرا استغفرت لكم) أي طلبت لكم مغفرة الصغائر وتخفيف عقوبات الكبائر ومن فوائد الموت أيضاً عرض الملائكة صلاة من صلى عليه والتوجه في آن واحد إلى ما لا يحصى من أمور الأمة ولم يثبت ذلك في الحياة ومن فوائده أيضاً الإثابة بالحزن بموته وتسهيل كل مصيبة بمصيبته والاعتبار به والرحمة الناشئة من اختلاف الأئمة وارتفاع التشديد في التوقير ونحو ذلك

“Yang dimaksud sabda Nabi ﷺ: “Jika aku menemukan kebaikan maka aku memuji kepada Allah ﷻ. Namun jika menemukan keburukan aku memohonkan ampunan kepada Allah ﷻ buat kalian.” adalah aku memohon untuk kalian ampunan dari dosa-dosa kecil dan memohon keringan siksa dari dosa-dosa besar. Dan di antara faidah (setelah wafatnya Nabi ﷺ) adalah para malaikat menghaturkan sholawat seseorang yang bersholawat kepada beliau, juga dapat tawajjuh (mengaturkan permohonan) dari urusan umat dalam satu waktu secara serentak tanpa dibatasi hitungan dan hal ini tidak bisa dilakukan pada saat Nabi ﷺ hidup. Begitu juga di antara faidahnya adalah tetap merasa sedih dengan wafatnya, terasa mudah mengahadapi musibah dengan menimbang musibah yang dialami Nabi ﷺ, rahmat yang lahir dari adanya perbedaan pendapat para ulama dan luhurnya kesungguhan memuliakan Nabi ﷺ.

Terdapat sebuah hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Musa ra yang memperkuat pernyataan ini, dari Rasulullah ﷺ. Beliau bersabda:

إذا اراد الله بِأُمَّةٍ خَيْراً قَبَضَ نَبِيَّهَا قَبْلَها فجعله فرطاً وَسَلَفاً بين يديها، وإذا أراد هلاك أُمَّةٍ عَذَّبها، وَنَبيُّها حي، فأهلكها وهو ينظر فيقر عينه بهلاكها حيث عَذَّبُوه وَعَصَوْا أَمْرَهُ وإِنما كان قبض النبي – الله – خيراً لأمته لأنهم إذا قبضوا قبله انقطعت أعمالهم وإذا أراد الله بهم خيراً جعل خيرهم مستمراً ببقائهم محافظين على ما أُمِرُوا به من العبادات وحسن المعاملات، نشلاً بعد نَسْلٍ، وَعَقِبَاً بَعْدَ عَقِبٍ

Artinya: “Apabila Allah ﷻ menghendaki kebaikan pada suatu umat, maka Allah akan mengambil (mewafatkan) Nabinya sebelum mereka. Lalu menjadikannya sebagai simpanan pahala dan pendahulu bagi umat tersebut. Jika Allah ﷻ menghendaki kebinasaan suatu umat, Dia menyiksanya sedang Nabinya masih hidup. Lalu Allah ﷻ membinasakannya sedangkan Nabi itu hidup dan menyaksikan. Maka Allah ﷻ menjadikan hati Nabinya damai dengan kebinasaan mereka sekiranya mereka menyakiti Nabi dan mendurhakai perintahnya. Alasan Allah ﷻ mewafatkan Nabi itu baik bagi umatnya karena jika mereka dimatikan sebelum Nabi, maka amal perbuatan mereka akan terputus dan jika Allah ﷻ menghendaki mereka baik, maka Allah ﷻ menjadikan kebaikan mereka terus berlanjut dengan membiarkan mereka hidup terjaga pada apa yang diperintahkan kepada mereka berupa ibadah dan baiknya perilaku secara turun temurun, dari generasi ke generasi.” Waallahu A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

Publisher: Fakhrul

Referensi:

✍️ Syaikh Ali bin Ahmad bin Nuruddin bin Muhammad bin Ibrahim al-Aziziy al-Bulaqiy asy-Syafi’i| As-Siraju al-Munir Syarah al-Jami’ ash-Shoghir| Daru al-Kutub al-Ilmiyah, juz 3, halaman 550.

✍️ Syaikh Muhammad yang dikenal dengan sebutan Abdurrauf al-Manawiy| Faidhu al-Qadir Syarah Jami’ ash-Shaghir| Daru al-Ma’rufah, juz 3, halaman 400-401.

✍️ Syaikh Muhammad bin Yusuf ash-Shalihiy asy-Syamiy| Subulu al-Huda wa ar-Rasyad fi Sirah Khairu al-Ibad ﷺ| Daru al-Kutub al-Ilmiyah, juz 12, halaman 271.