Ning Fauzia: Cinta kepada Rasulullah Bukan Sekadar Ucapan, Akan Tetapi dengan Menghidupkan Sunnahnya

oleh -11 Dilihat

Malam 1 Rabiulawal 1448 H kembali menjadi momen istimewa dalam tradisi Cocoghen di Pondok Pesantren Putri Syaichona Moh. Cholil. Sebagaimana pada tahun sebelumnya, Ning Fauzia Fauzi Mustajab, yang merupakan bagian dari majelis keluarga Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil, kembali hadir untuk mengisi tausiyah dalam acara tersebut. Melalui tausiyah yang disampaikan, para santri diajak untuk menyambut bulan kelahiran Rasulullah dengan memperkuat kecintaan kepada beliau serta menghadirkan keteladanan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam tausiyahnya, Ning Fauzia mengawali dengan mengingatkan bahwa ilmu merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi seorang mukmin. Ia mengibaratkan ilmu sebagai barang milik seorang mukmin yang hilang. Ketika ditemukan di mana pun, maka sudah sepatutnya diambil dan dimanfaatkan. Sebagaimana ketika seseorang kehilangan uangnya, kemudian menemukannya kembali, tentu ia akan mengambilnya. Begitu pula dengan ilmu. Di mana pun ditemukan, seorang mukmin hendaknya tidak ragu untuk mengambil hikmah darinya.

Memasuki bulan Rabiulawal, Ning Fauzia kemudian mengajak para santri untuk kembali merenungkan makna cinta kepada Rasulullah. Menurutnya, cinta tidak cukup hanya diungkapkan dengan kata-kata. Cinta membutuhkan usaha dan bukti nyata. Ada satu ungkapan:

لَوْ كانَ حُبُّكَ صَادِقاً لأَطَعْتَهُ، إِنَّ الْمُحِبَّ لِمَنْ يُحِبُّ مُطِيعُ

“Seandainya cintamu itu benar, niscaya engkau akan menaati-Nya. Karena sesungguhnya seorang pencinta itu akan patuh kepada siapa yang ia cintai.”

Ungkapan tersebut menjadi pengingat bahwa kecintaan kepada Rasulullah tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus dibuktikan dengan menghidupkan sunnah Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, ketika seseorang benar-benar mencintai Rasulullah, tentu ia akan berusaha mengikuti ajaran, sunnah, dan akhlak beliau.

Kemudian, para santri diajak untuk melakukan introspeksi diri dengan bertanya kepada diri masing-masing: sudah sejauh mana kecintaan kepada Rasulullah benar-benar diwujudkan dalam kehidupan? Sunnah Nabi apa yang sudah kita kerjakan untuk membuktikan cinta kita kepada Rasulullah?

Imam Hasan al-Bashri mengatakan:

لا يَغُرَّنَّكَ قَوْلُ مَنْ يَقُولُ: “الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ”، فَإِنَّكَ لَنْ تَلْحَقَ الْأَبْرَارَ إِلَّا بِأَعْمَالِهِمْ

“Jangan sekali-kali engkau tertipu oleh ucapan orang yang berkata, ‘Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya’, karena sesungguhnya engkau tidak akan pernah menyusul golongan orang-orang baik (abrar) kecuali dengan amal perbuatan mereka.”

Hal tersebut menegaskan bahwa cinta tidak cukup hanya dengan pengakuan. Keinginan untuk bersama orang yang dicintai harus disertai dengan usaha untuk mengikuti jalan dan amalnya. Begitu pula dengan kecintaan kepada Rasulullah. Jika seseorang berharap dapat berkumpul bersama beliau kelak, maka cinta tersebut perlu dibuktikan dengan amal serta usaha untuk menghidupkan sunnah beliau.

Hal tersebut juga tergambar dalam kisah sahabat Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami. Ia pernah melayani Rasulullah, mulai dari menyiapkan keperluan beliau hingga membantu memenuhi kebutuhan beliau. Setelah selesai melayani Rasulullah, beliau bertanya kepada Rabi’ah tentang apa yang ingin dimintanya.

Rabi’ah tidak meminta harta ataupun kenikmatan dunia. Ia justru menyampaikan keinginannya yang sederhana, tetapi begitu besar, yaitu ingin menemani Rasulullah di surga.

Mendengar keinginan tersebut, Rasulullah kemudian mengarahkan Rabi’ah untuk membantu mewujudkannya dengan memperbanyak sujud kepada Allah. Kisah ini menunjukkan bahwa keinginan untuk dekat dengan Rasulullah tidak cukup hanya dengan pengakuan cinta, tetapi membutuhkan usaha dan amal.

Rasulullah bersabda:

مَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِيَ فِي الْجَنَّةِ

“Barang siapa yang menghidupkan sunnahku, maka sungguh ia telah mencintaiku. Dan barang siapa yang mencintaiku, maka ia akan bersamaku di dalam surga.”

Rasulullah juga bersabda tentang empat sifat mulia yang dapat menjadi sebab seseorang dijauhkan dari api neraka.

  • Pertama, al-Hayyin (الْهَيِّنُ), yaitu pribadi yang tenang, tidak mudah marah, tidak kasar, dan memiliki pembawaan yang menenangkan bagi orang-orang di sekitarnya.
  • Kedua, al-Layyin (اللَّيِّنُ), yakni pribadi yang lembut dalam bertutur kata maupun bersikap serta mampu mengedepankan kelembutan dalam menghadapi orang lain.
  • Ketiga, as-Sahl (السَّهْلُ), yaitu pribadi yang mudah dalam bergaul dan tidak suka mempersulit urusan orang lain.
  • Keempat, al-Qarib (الْقَرِيبُ), yaitu pribadi yang ramah, mudah akrab, menyenangkan ketika berinteraksi, dan tidak bersikap sombong kepada orang lain.
  • Keempat sifat tersebut menjadi gambaran akhlak yang perlu diusahakan dalam kehidupan sehari-hari.

“Semoga kelak kita bisa berkumpul bersama Rasulullah, melihat senyum beliau, duduk di samping beliau, dan dikumpulkan bersama orang-orang yang kita cintai. Amin,” harap beliau.

Tausiyah kemudian ditutup dengan lantunan selawat kepada Nabi Muhammad.

Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad.

Author: Yuliaalhasany

Editor: Fakhrullah