Menyingkap Rahasia Kewajiban Meratakan Air ke Seluruh Badan dalam Mandi Jinabah

oleh -25 Dilihat

Diantara hal yang harus dilakukan dalam mandi Jinabah (hadats besar) adalah meratakan air pada seluruh badan. Lalu apa rahasi di balik kewajiban tersebut, kenapa ketika buang air besar dan kencing hanya berkewajiban wudhu bukan mandi?

Syaikh Abdussalam al-‘amroniy al-Khalidiy dalam kitabnya Kanzu ats-Tsamin fi Kasyfi Asrori ad-Din menuturkan:

أما أسرار الغسل من الجنابة فقيل : إنه أمر بتعميم الجسد تعبداً. وقيل : لقوة الغفلة عن الله تعالى في حالة الجماع، فهو تأديب . قال في «اليواقيت» : فإن قيل : لِم وجب علينا تعميمُ البَدَنِ بالغَسْل عند خروج المني، ولم يجب في الغائط، مع أن المني دون الغائط في الاستقذار بيقين فالجواب : إنما وجب علينا تعميم البدن في ذلك من حيث اللذة، لا من حيث الاستقذار. فإنَّ المجامع لما كان يحس باللذة أنها قد عمت بدنه حتى إنه لا يكاد يعقل شيئاً معها، أمر بتعميم بدنه بالماء لينعشه من ذلك الفتور الذي حصل للبدن عقب خروج المني. فكانت الغفلة فيه عن الله أكثر من الغائط والتبول

“Adapun rahasia (kewajiban) mandi dari jinabah, menurut sebagian pendapat dikatakan: “Bahwa hal itu adalah perintah untuk meratakan air ke seluruh tubuh sebagai bentuk ibadah. Pendapat lain mengatakan: “Kerena kuatnya kealpaan kepada Allah ﷻ saat berhubungan intim dan itu merupakan sebuah pembinaan moral. Penulis kitab al-Yaqut mengatakan: “Jika ditanya, kenapa kita diwajibkan meratakan air ke seluruh badan saat mandi karena keluar sperma dan tidak diwajibkan meratakannya saat buang air besar? padahal telah diyakini bahwa tinja itu lebih menjijikan dari pada sperma. Jawabnya, kewajiban meratakan air ke seluruh tubuh ditinjau dari sisi lezat yang dirasakan bukan dari sisi menjijikkannya karena seseorang yang melakukan hubungan ini intim merasakan kelezatan yang menyebar ke seluruh badan sehingga ia nyaris tidak menyadari keberadaannya. Lagi pula perintah meratakan air ke seluruh tubuh untuk menyegarkan badan dari kelelahan yang ditimbulkan setelah keluar sperma. Maka dapat disimpulkan bahwa kealpaan kepada Allah ﷻ dalam hal ini lebih banyak dari pada saat keluarnya tinja dan kencing.”

Guruku Syaikh Abu al-Abbas Aḥmad bin Ajibah radhiyaallahu berkata:

وكأنه إنما أمر بتطهير جميع البدن أدباً له، وتكفيراً للغفلة التي حصلت له . والزواجر كفارات مع تنعيش البدن من الفتور الذي حصل له، لا سيما إن كان بالماء البارد كما هو مجرب. وقد ورد في بعض الأثر : إن المؤمن إذا اغتسل من جنابة حَلالٍ، خَلَقَ اللهُ مِنْ كُلِّ قطرة تقطر منه ملكاً يسبح الله، ويكتب له ثواب ذلك»

“Seakan-akan tujuan perintah menyucikan seluruh tubuh sebagai bentuk etika, tebusan kealpaan kepada Allah ﷻ dan semua kesalahan ada peleburannya serta dapat menyegarkan badan dari segala kelelahan yang ditimbulkannya. Lebih-lebih jika menggunakan air yang dingin sebagaimana yang telah dibuktikan. Terdapat keterangan dalam sebagian Atsar menyebutkan: “Sesungguhnya orang mukmin ketika mandi Jinabah yang dihalalkan, Allah ﷻ menciptakan dari setiap tetesnya malaikat yang bertasbih kepada Allah ﷻ dan ditulis untuknya pahala (mandi Jinabah) tersebut.

Sementara menurut para ahli medis, hikmah dari perintah meratakan air ke seluruh tubuh adalah:

إن العروق في البَدَنِ كلها تخدم عند الجماع، فإذا خرج المني انسل من جميع البدن، فلذلك تجد الولد نسخة أبيه أو أمه، فيكون حكمة الأمر بالغسل لكل البدن، لأنه كله عالج الجماع والتذ به، فإن قلت : قد أمر بالغسل من غير لذة كما في النوم، أو مغيب الحشفة، قلنا: أما النوم فإن الروح تجد اللذة غالباً، والحكم إنما هو للروح . وأما مغيب الحشفة فهذا مما أعطي الحكم فيه للغالب، حياطة وسداً للذريعة، كما قالوا في الخمر، إن نقطة منه توجب الحد وتنجس. وكما قالوا في الصوم، كل ما يصل للمعدة مفطر، غذي أو لم يُغذ. وكما في مس الذكر، التذ أم لا . وفي القبلة على الفم، التذ أم لا ، وقس

وأما الحيض والنفاس، فإنما أُمِرَتْ بغسل البدن كله لشدة القذر الحاصل من الحيض والنفاس وانتشاره في البدن بواسطة العروق ونحوه. وأيضاً لبعد الزمان المتخلل بين الحيضات، فلا يشق عليها الغسل كلما حصل موجبه، بخلاف الحدث الأصغر، لقرب زمان بعضه من بعض، فلذلك خفف علينا الأمر فيه، فأمرنا بغسل الأعضاء المفروضة والمسنونة فقط، لكثرة تكرر سبب حدثها . انتهى من شرح الفاتحة للعارف بالله سيدي أحمد بن محمد بن عجيبة رضي الله عنه

“Sesungguhnya seluruh pembuluh darah (urat) di dalam tubuh ikut bekerja ketika berhubungan intim. Ketika sperma keluar, maka terlepaslah tenaga dari sekujur badan. Oleh karena itu, anak yang terlahir pasti mirip dengan ayah atau ibunya. Maka adanya hikmah perintah mandi meratakan air ke seluruh tubuh, karena seluruh badan ikut andil melakukan hubungan intim dan merasakan nikmatnya. Jika Anda bertanya, bukankah juga diperintahkan mandi (dalam keluarnya sperma) meski tidak merasakan kelezatan seperti saat tidur atau hanya memasukan kemaluan tanpa keluar sperma? Jawaban kami: “Masalah tidur adalah masalah ruh dan hukumnya mengikuti hukum ruh. Maka sesungguhnya ruh ghalibnya juga merasakan kelezatan. Sedangkan perihal memasukan kemaluan tanpa keluar sperma, maka hukumnya diarahkan pada hukum kaprahnya (keluar sperma) sebagai langkah kehati-hatian dan untuk menutup jalan (yang bisa mengantarkan) kepada keburukan. Sebagaimana keputusan ulama dalam masalah Khamr (meras), bahwa setetes dari Khamr mewajibkan hukuman (had) dan menajiskan, juga seperti keputusan mereka dalam masalah puasa, bahwa segala sesuatu masuk pada lambung dapat membatalkan puasa baik mengenyangkan atau tidak dan sebagaimana keputusan mereka dalam masalah memegang kemaluan (dapat membatalkan wudhu) dan mengecup bibir, baik merasakan kelezatan atau tidak. Maka kiaskanlah.

Adapun dalam mandi haid dan nifas, hikmah yang terkandung dalam perintah meratakan air ke seluruh tubuh. Disebabkan karena sangat beratnya kotoran (darah) yang dihasilkan dari haid dan nifas serta penyebarannya di dalam tubuh melalui pembuluh darah dan semacamnya serta lamanya waktu yang memisahkan satu haid dengan haid yang lainnya sehingga tidak dianggap memberatkan saat tiba kewajiban mandi. Berbeda dengan hadats kecil yang waktunya berdekat (sebentar) antara satu dengan yang lain. Oleh karena itu kita diberi keringanan dalam hal ini dan diperintahkan hanya membasuh anggota yang difardhukan dan yang disunahkan saja karena berulang-ulangnya hadats yang terjadi. Waallahu A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

Publisher: Fakhrul

Referensi:

✍🏻 Syaikh Abdussalam al-‘amroniy al-Khalidiy| Kanzu ats-Tsamin fi Kasyfi Asrori ad-Din| Daru al-Kutub al-Ilmiyah, halaman, 15-16.