Khidmah KH. Hasyim Asy’ari kepada Syaikhona Kholil: Mencari Cincin di Tempat Kotoran

oleh -538 Dilihat

Nama Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan dikenal luas sebagai salah satu ulama besar Nusantara yang memiliki pengaruh sangat besar dalam perkembangan Islam di Indonesia. Jejak keilmuan beliau begitu kuat sehingga banyak kiai besar yang pernah menimba ilmu kepadanya. Tidak sedikit di antara murid-muridnya yang kemudian menjadi tokoh penting dalam sejarah keislaman di Nusantara.

Pengaruh keilmuan Syaikhona Kholil bahkan tidak hanya terbatas di Indonesia. Dalam catatan Syaikh Yasin bin Isa al-Fadani disebutkan bahwa lebih dari 500 ribu orang pernah belajar kepada beliau. Dari jumlah tersebut, sekitar tiga ribu orang kemudian dikenal sebagai ulama besar dan tokoh masyarakat. Para santri beliau pun tidak hanya berasal dari Nusantara, tetapi juga datang dari berbagai negeri Arab.

Di antara murid beliau yang paling dikenal luas adalah KH. Hasyim Asy’ari, seorang ulama besar yang kelak mendirikan jam’iyah raksasa Nahdlatul Ulama, organisasi Islam terbesar di dunia.

Ketika masih muda, KH. Hasyim Asy’ari pernah mondok di Pesantren Demangan, Bangkalan, di bawah asuhan Syaikhona Kholil. Di pesantren tersebut beliau tidak hanya mempelajari kitab-kitab turats—baik kitab matan maupun kitab syarah—tetapi juga berkhidmah kepada gurunya dengan menjadi khoddam Syaikhona Kholil.

Dalam kitab Majādzib at-Tafānī fī Manāqib Syaikhona Muhammad Kholil al-Bangkalānī diceritakan sebuah kisah yang menunjukkan betapa besar pengabdian KH. Hasyim Asy’ari kepada gurunya. Kisah ini dituturkan oleh KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tentang kakeknya tersebut.

Suatu hari, cincin milik istri Syaikhona Kholil terjatuh ke tempat kotoran manusia. Kejadian itu membuat istri beliau sangat sedih, sebab cincin tersebut tidak mudah untuk diambil kembali.

Melihat keadaan tersebut, Syaikhona Kholil kemudian berkata kepada para santrinya,

“Siapa yang dapat menemukan cincin itu di tempat kotoran manusia?”

Mendengar pertanyaan itu, KH. Hasyim Asy’ari yang saat itu masih muda langsung berdiri tanpa ragu. Dengan penuh kesungguhan ia turun ke tempat kotoran manusia itu dan mulai mencarinya.

Meski harus bergelut dengan bau yang menyengat dan kondisi yang sangat menjijikkan, ia tetap mencari dengan tekun hingga akhirnya berhasil menemukan cincin tersebut.

Ketika melihat pengabdian luar biasa itu, Syaikhona Kholil sangat terkesan. Beliau kemudian berkata kepada santrinya itu,

“Wahai Hasyim, aku ridha kepadamu.”

Ucapan ridha dari seorang guru merupakan anugerah yang sangat besar bagi seorang murid. Dalam tradisi pesantren, ridha guru diyakini sebagai salah satu kunci utama keberkahan ilmu.

Kisah ini menunjukkan bahwa KH. Hasyim Asy’ari tidak hanya dikenal sebagai santri yang tekun belajar, tetapi juga sebagai santri yang memiliki adab, pengabdian, dan ketulusan yang sangat tinggi kepada gurunya.

Dari kisah ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa khidmah kepada guru merupakan jalan penting untuk meraih keberkahan ilmu. Sebab tanpa ridha seorang guru, sangat sulit bagi seorang santri untuk mencapai kesuksesan dan keberkahan dalam kehidupannya.

Author: Fakhrullah
Referensi: Majadzib at-Tafānī fī Manāqib Syaikhinā Muhammad Kholil al-Bangkalānī karya KH. Muhammad Ismail Al-Ascholy