Hidup adalah Perjalanan Pulang ke Kampung Halaman

oleh -127 Dilihat

الناس منذ خلقوا لم يزالوا مسافرين ، وليس لهم حط رحالهم إلا في الجنة أو النار ، والعاقل يعلم أن السفر مبني على المشقة وركوب الاخطار ومن المحال عادة أن يطلب فيه نعيم ولذة وراحة ، إنما ذلك بعد انتهاء السفر . ومن المعلوم أن كل وطأة قدم أو كل آن من آنات السفر غير واقفة. ولا المكلف واقف ، وقد ثبت أنه مسافر على الحال التي يجب أن يكون المسافر عليها من تهيئة الزاد الموصل ، وإذا نزل أو نام أو استراح فعلى قدم الاستعداد للسير

“Manusia sejak awal diciptakan adalah seorang musafir dan ujung dari perjalanannya hanyalah surga atau neraka. (tetapi) seorang musafir yang cerdas ia akan tahu bahwa perjalanannya kedepan penuh rintangan dan resiko yang mengancam. Aneh, jika ia berharap dalam perjalannya akan mendapat kenikmatan, kelezatan dan kemudahan karena semua itu hanya bisa diperoleh setelah sampai di kampung halaman.

Maklum sudah, bahwa setiap langkah kaki atau waktu yang dilewati selama perjalanan tidak pernah berhenti sama seperti orang mukallaf yang tidak boleh berhenti (beramal) dan ia dituntut menyiapkan segala hal yang harus dibawa saat dalam perjalanan berupa bekal yang cukup hingga sampai tujuan. jika ia singgah, sekedar tidur atau beristirahat sejenak, maka ia harus siap mengayun kaki untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya.” Waallahu A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

Publisher: Fakhrul

Referensi:

✍️ Syamsuddin Abu Abdullah Muhammad bin Abu Bakr bin Ayyub bin Qayyim al-Jawziy| Al-Waid| Daru al-Kutub al-Ilmiyah, halaman 211.