Gus Vaurak Tsabat: Agresivitas Bahtsul Masail sebagai Kunci Bahtsul Masail Berkualitas

oleh -8 Dilihat

MENUMBUHKAN AGRESIFITAS BAHTSUL MASAIL

Agresifitas peserta bahtsul masail dalam berdialog sangat besar pengaruhnya dalam mewarnai dan menciptakan suasana diskusi menjadi hidup dan tidak vakum. Tanpa ada unsur agresifitas ini, forum bahtsul masail hanya akan menjadi pertemuan yang sangat menjenuhkan dan membosankan. Ada beberapa tips dan kiat untuk merangsang dan menumbuhkan agresifitas peserta dalam berbahtsul masail.

1. Cita-cita Luhur (Ambisius)

Tinggi-rendahnya cita-cita atau obsesi seseorang, akan mencerminkan dan mempengaruhi gigih-tidaknya usaha atau perjuangan yang dilakukan. Seorang yang bekerja dengan obsesi atau cita-cita bisa membeli mobil, pasti akan berusaha keras jauh lebih gigih dibanding seorang yang bekerja hanya dengan obsesi bisa membeli sepeda motor.

Begitulah, seorang yang memiliki cita-cita luhur dalam ilmu, pasti akan bersungguh-sungguh dalam berusaha dan berjuang meraihnya. Semua kesempatan dan media yang mendukung kesuksesan cita-citanya (seperti musyawarah), akan senantiasa ia jalani dengan sepenuh hati.

Hal ini akan berbeda dengan seorang yang memiliki cita-cita rendah. Kesempatan emas di depan mata, mungkin akan dipandang sebelah mata, dilakukan dengan setengah hati, dan bahkan disia-siakan begitu saja. Bagi orang seperti ini, musyawarah yang sangat besar manfaatnya, akan ia ikuti bukan sebagai ‘kebutuhan’ (media) meraih cita-cita, melainkan sebagai ‘kewajiban’ sekedar untuk menghindari ta’ziran. Sehingga lumrah jika yang menjadi prinsip musyawarah orang seperti ini adalah prinsip 3D, yakni Datang-Duduk-Diam.

Seorang aktivis Bahtsul Masail sejati harus militan, jiwanya akan terus bergelora dan tidak mau berhenti sebelum meraih yang lebih tinggi. Imam Muhammad bin Zain bin Smith pernah mengatakan:

Di antara keunikan manusia adalah bila ia benar-benar fokus pada satu hal dan mencurahkan himmah untuk menggapainya, maka dengan takdir Allah tentu ia akan meraihnya.

Sayyidina Umar bin Abdul Aziz pernah berkata:

هموا بالأمور العالية وإياكم وأسافل الأمور فإني ما هممت بأمر إلا نلته

Bertekadlah untuk meraih hal-hal besar, dan hindarilah hal-hal yang remeh, karena sesungguhnya aku tidak pernah bertekad untuk mendapatkan sesuatu kecuali mesti  meraihnya

Maka, cita-cita luhur (ambisius) peserta musyawarah akan mendorong sikap agresifitas dalam bermusyawarah. Orang yang memiliki cita-cita luhur sangat dicintai oleh Allah. Nabi saw. bersabda:

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ مَعَالِيَ الأُمُورِ وأَشْرَافَهَا وَيَكْرَهُ سَفَاسِفَهَ

“Sesungguhnya Allah mencintai perkara-perkara yang luhur dan mulia, dan membenci perkara-perkara yang rendah.” (HR. Aththabrani)

iasanya, santri yang kurang bersemangat dalam menjalani kegiatan bahstul masail atau musyawarah, dikarenkan kurang memahami manfaat dan nilai positif dari metode belajar dengan sistem musyawarah. Padahal mengetahui mengetahui manfaat sebuah kegiatan merupakan modal penting untuk meraih kesuksesan dan menjaga agresifitas. Berikut ini beberapa manfaat dan nilai positif  metode belajar dengan sistem bahtsul masail atau musyawarah:

  1. Bahtsul Masail merupakan metode tafaqquh fid din para ulama nusantara. Dan hampir bisa dipastikan, para ulama nusantara yang sukses dalam bidang keilmuan, memiliki track record sebagai aktifis bahtsul masail.
  2. Menguji kesahihan pemahaman dengan pemahaman peserta lain. Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

لقحوا عقولكم بالمذاكرة واستعينوا على أموركم بالمشاورة

“Kawinkanlah akal kalian dengan berdiksusi, dan mintalah pertolongan untuk urusan kalian dengan musyawarah.”

Ulama bijak bestari berkata:

نصف رأيك مع أخيك فشاوره ليكمل  لك الرأي

“Separuh pemahamanmu berada bersama temanmu.  Maka musyawarahlah agar sempurna pemahamanmu.”

  1. Bahtsul Masail sangat berpengarauh dalam memperluas wawasan kelimuan dan membantu ketajaman pemahaman yang telah diperoleh di sekolah. Dengan Bahtsul Masail, bisa memperoleh hal-hal baru dari kitab-kitab syarah dalam waktu cepat, keterangan-keterangan dari teman diskusi dan senior yang sulit kita dapatkan jika hanya mengandalkan sekolah atau belajar sendiri.

قال الإمام النووي رحمه الله في شرح مسلم ١/٤٣٧ : ومذاكرة حاذق في الفن ساعة أنفع من المطالعة والحفظ ساعات بل أياما،  وليكن في مذاكراته متحريا الانصاف قاصدا الاستفادة أو الافادة غير مترفع على صاحبه بقلبه ولا بكلامه ولا بغير ذلك من حاله مخاطبا له بالعبارة الجميلة اللينة فبهذا ينمو علمه وتزكو محفوظاته

  1. Muhammad Subadar mengatakan:

لو فرض أن علمي مائة فالسبعون منها حصلتها من بحث المسائل

“Seandainya ilmuku dihitung seratus, maka yang tujuh puluh aku dapat dari bahtsul masail.”

  1. Melatih kepiawaian berbicara dan beretorika.
  2. Efektif untuk melatih olah pikir secara kritis dan mengasah analisa secara tajam dan cermat. Sehingga santri yang telah terbentuk karakter pemikiran dan daya analitisnya melalui forum-forum diskusi atau musyawarah, akan memiliki kualitas pemahaman keilmuan yang akurat dan valid secara ilmiah.
  3. Sistem Bahtsul Masail yang menuntut semua peserta terlibat aktif dan bebas dalam berpikir, menganalisis, dan menyampaikan pendapat, argumentasi, dan berpolemik, merupakan metode belajar yang efektif sebagaimana penelitian yang dilakukan National Training Laboratories.

2. Memiliki TO (Target Operasi)

Agar peserta musyawarah agresif berdialog, setiap peserta harus memiliki TO jelas yang ingin didapatkan (istifâdah) dari forum musyawarah. Target ini bersifat kondisional dan relatif sesuai tingkat kemampuan peserta. Misalnya, harus berbicara dengan target: sekedar bisa bertanya, berpendapat, atau dengan target harus bisa menjawab segala kemungkinan isykâl yang mencuat dalam forum, atau bahkan dengan target sanggup berdebat dengan retorika yang argumentatif.

Dengan TO yang jelas seperti ini, setiap peserta akan termotivasi untuk berbicara (bertanya, berpendapat, menjawab, atau berdebat) sesuai dengan tingkat dan kepentingan masing-masing, sehingga tercipta suasana musyawarah yang agresif dan komunikatif.

TO seperti ini, paling tidak akan bisa menjadi latihan untuk bisa berdialektika dengan retorika yang baik. Hal ini sangat besar manfaatnya. Sebab, selama ini terdapat kesan bahwa santri itu tidak memiliki kepiawian berbicara dan beretorika meskipun sebenarnya kaya akan referensi dan dalil.

Ada Sebagian santri yang kurang aktif dalam musyawarah karena khawatir dianggap salah, di-bully, atau takut dibodoh-bodohkan. Hal ini termasuk bagian dari bisikan-bisikan setan yang justru menunjukkan ketakaburan diri. Syaikh Saif bin Dzi Yazan berkata:

من أعجب برأيه لم يشاور ومن استبد برأيه كان من الصواب بعيدا

“Siapa yang ujub dengan pendapatnya sendiri, maka ia tidak mau bermusyawarah. Siapa yang fanatik dengan pendapatnya sendiri, maka ia akan jauh dari kebenaran.”

3. Semangat Bersaing (Kompetitif)

Forum bahtsul masail atau musyawarah seharusnya dipahami sebagai kawah candradimuka yang menjadi tempat menempa daya analitis dan membentuk karakter intelektualitas. Atau, dipahami sebagai medan pergulatan pemikiran, yang akan menentukan nasib prestasi intelektualitas.

Dengan pemahaman demikian, maka akan memicu terjadinya semangat kompetisi dan persaingan sportif dalam forum musyawarah, berlomba-lomba untuk tampil menjadi yang terbaik atau sang maestro. Allah swt. berfirman:

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.” (QS. Alma’idah: 48)

Kesuksesan yang dihasilkan dari musyawarah, kecerdasan inteligensi tidak menjadi faktor utama, melainkan lebih karena faktor istiqamahnya. Sudah tak terhitung buktinya, orang-orang yang tingkat inteligensinya biasa namun memiliki prestasi keilmuan yang jauh lebih gemilang dari orang yang cerdas namun tidak istiqamah bermusyawarah. Maka benarlah sabda Nabi saw.:

مَا خَابَ مَنِ اسْتَخَارَ وَلاَ نَدِمَ مَنِ اسْتَشَارَ

“Tidak akan rugi orang yang istikharah, dan tidak akan menyesal orang yang musyawarah.” (HR. Aththabrani)

  1. Bermental Baja (Apatis)

Bagi aktifis bahtsul masail tingkat pemula, mental baja atau sikap apatis, cuek bebek, atau tidak peduli, merupakan sikap positif untuk membangun keberanian dan mengusir jauh-jauh rasa minder, grogi, atau demam forum, yang kerap menghantui mental ketika dialog interaktif di tengah forum.

Di tengah forum debat (musyawarah), sudah lumrah jika didapati kata-kata atau statemen dari lawan debat yang menyudutkan atau mungkin terdengar melecehkan. Dalam suasana seperti ini, jika peserta tidak memiliki kesiapan secara mental, akan terasa pahit dan terdengar menyakitkan. Sehingga dalam musyawarah yang terjadi bukan pembentukan karakter, malainkan pembunuhan karakter. Ini sangat berbahaya, sebab disamping akan menimbukan kebencian dan permusuhan, dalam tataran tertentu, dapat menimbulkan trauma yang tidak menutup kemungkinan mengakibatkan peserta menjadi anti musyawarah.

Maka bagi seorang aktifis bahstul masail harus memiliki mental baja yang tidak ambil pusing dengan apapun dan bagaimanapun kata-kata lawan debat. Seorang aktifis harus bisa tetap terfokus dengan masalah yang diperdebatkan, dan tak perlu terpengaruh atau terpancing dengan kata-kata lawan debat yang tidak ilmiah dan lebih bernada gojlokan atau mengolok-ngolok. Dan tips untuk membantu dapat bersikap seperti ini, balaslah setiap kata-kata lawan debat yang menyakitkan dengan seulas senyuman dari dalam dada yang lapang. Dengan demikian, kita akan tetap berani mengekspresikan ide dan pemikiran secara bebas tanpa beban rasa malu, minder, grogi ataupun sakit hati.

  1. Punya Selera Berbeda (Kontroversial)

Kiat lain untuk merangsang sikap agresif dalam berdiskusi ialah: punya selera berbeda, atau berani berpendapat kontroversial dan menentang pendapat sekuat apapun. Selera seperti ini akan dapat membantu meningkatkan sikap kritis dan ketajaman penalaran.

Sikap kontroversial demikian bukan dimaksudkan hanya untuk bermain-main dengan retorika ASU (Asal Suloyo), akan tetapi disamping untuk berlatih berpolemik secara komunikatif, juga untuk menguji kekuatan kebenaran suatu pendapat agar benar-benat meyakinkan. Sebab, kebenaran akan semakin jelas dan kuat kebenarannya ketika tak terbantahkan oleh segala bentuk kritik dan kontroversi yang menentangnya.

  1. Tak Kenal Kompromi

Sikap tak kenal kompromi juga akan membangkitkan agresifitas berdiskusi. Sebab sikap demikian akan memotifasi seseorang mempertahankan pendapatnya mati-matian. Sebagai seorang aktifis musyawarah sejati (bertanggung jawab), sepanjang pendapatnya masih ia yakini sebagai kebenaran, maka pantang baginya untuk menyerah begitu saja. Kebenaran harus dipertahankan meski apapun resiko dan taruhannya. Rasulullah saw. bersabda:

قُلِ الْحَقَّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا

“Katakanlah kebenaran itu, meskipun terasa pahit.” (HR. Ibn Hibban)

MENCIPTAKAN BAHTSUL MASAIL BERKUALITAS

Di samping faktor agresifitas peserta dalam berdialog, untuk menciptakan bahtsul masail menjadi berkualitas, bermutu, dan produktif, faktor lain yang juga sangat menentukan adalah kekompakan kerja sama yang melibatkan empat peran komponen bahtsul masail, yakni peran peserta bahtsul masail, moderator, perumus dan peran mushohih. Selain itu, persiapan secara matang sebelum bahtsul masail, merupakan ruh dalam kehidupan ber-bahtsul masail. Tanpa adanya kekompakan masing-masing peran ini, dan tanpa adanya persiapan yang maksimal, agresifitas peserta hanya akan menjadikan bahtsul masail terasa hambar tanpa kualitas dan cenderung menjadi ajang debat kusir yang tidak memiliki nilai ilmiah.

  1.    Peran Peserta Musyawarah (mubahitsin)

Sebuah musyawarah bisa dinilai berkualitas dan produktif apabila antar peserta terjadi dialog dan adu pendapat yang argumentatif serta menghasilkan keputusan-keputusan yang segar. Dalam hal seperti ini, dibutuhkan kerja sama yang pro-aktif dan antusiasme peserta. Di samping itu, persiapan maksimal sebelum musyawarah merupakan harga mati untuk memung-kinkan peserta dapat berdiskusi secara argumentatif dan berkualitas. Bentuk persiapan ini bisa dilakukan dengan:

  • Memahami materi dasar yang hendak dimusyawarahkan;
  • Mencari keterangan-keterangan tambahan dari ta’bir-ta’bir/ sumber-sumber referensial yang lebih luas (kitab-kitab syarah);
  • Mengantisipasi poin-poin yang potensial diperdebatkan, dengan mempersiapkan jawaban dan argumentasinya;
  • Menyiapkan isykâl-isykâlyang berbobot untuk diangkat dalam musyawarah;
  • Bersedia menindaklanjuti masalah yang mauqûf dalam forum untuk dicarikan pemecahannya, baik dengan mencari referensi atau bertanya kepada pihak yang lebih senior.

Adapun syarat ideal mubahitsin adalah sebagai berikut :

  1. فقيه النفس 
  2. ذو حظ وافر من الفقه 
  3. متمكن من الوقوف على الباقي بالمطالعة أو ما يلتحق بها على القرب 

Menurut al-Imam al-Mardāwiy, Faqīh al-Nafs adalah:

فقيه النفس، أي: له قدرة على استخراج أحكام الفقه من أدلتها فتضمن ذلك أن يكون عنده سجية وقوة يقتدر بها على التصرف بالجمع، والتفريق، والترتيب، والتصحيح، والإفساد؛ فإن ذلك ملاك صناعة الفقه

 Faqīh an-Nafs bukan sekadar orang yang hafal hukum-hukum fikih atau kitab-kitabnya, tetapi seseorang yang memiliki “naluri fiqh”, yakni pemahaman mendalam, kemampuan menangkap inti masalah, dan kepekaan dalam menimbang antara teks dan realitas. Jalan untuk mencapainya adalah dengan menekuni proses belajar fiqh secara terus-menerus, mendiskusikan dan berlatih memecahkan kasus-kasus fiqh, hingga ilmu fiqh menjadi bagian dari karakter dan malurinya. Hal ini sebagaimana dinyatakan Imam al-Ghazali:

من أراد أن يصير فقيه النفس فلا طريق له إلا أن يتعاطى أفعال الفقهاء من التكرار للفقه حتى تنعطف منه على قلبه صفة الفقه فيصر فقيه النفس

Barangsiapa yang ingin menjadi Faqīh al-Nafs, maka tidak ada jalan lain baginya kecuali menempuh aktivitas para fuqaha, berupa mengulang-ulang (mempelajari) fiqh, sehingga dari pengulangan itu akan terpantul ke dalam hatinya sifat kefikihan, lalu ia pun menjadi Faqīh an-Nafs.[1]

  1. Peran Moderator

Figur moderator memiliki peran sangat penting dalam musyawarah. Dialah nahkoda diskusi yang akan mengendalikan arah perdebatan untuk bisa dilabuhkan di dermaga kesimpulan akhir. Nahkoda yang profesional harus bisa memilih mana arah yang tepat untuk diarunginya, dan mampu mengarahkan bahtera menuju dermaga dengan mulus. Hal ini akan berbeda dengan nahkoda yang tidak profesional. Ia akan terombang-ambing oleh ombak dan gelombang hingga kahilangan arah.

Demikianlah, seorang moderator harus memiliki kepiawian dalam memimpin jalannya diskusi. Ia harus mampu membaca arah perdebatan dan bisa mengendalikan jalannya diskusi secara teratur dan sistematis serta bisa menggiring season i’tiradl (sanggahan) dan i’tidladl (dukungan) secara dramatis menuju kesimpulan yang tepat. Untuk itu, idealnya seorang moderator harus memiliki kriteria berikut:

  • Responsif

Agar musyawarah bisa berkualitas, moderator harus mampu menangkap dan responsif dengan segala kemungkinan pendapat, argumentasi, ide dan pemikiran peserta. Moderator juga harus mampu memberi penjelasan tekanan masalah (tasawwur) karena tanpa tasawwur tidak mungkin tasdiq. Untuk itu, seorang moderator dituntut memahami dengan baik materi dan pokok pembahasan yang akan didiskusikan.

Sebelum jadi moderator harus terlebih dahulu memahami persoalan yang akan dibahas serta prakiraan kerangka jawaban masalah yang dibahas.

  • Moderat

Seorang moderator harus bisa bersikap moderat, tengah, netral, dan adil terhadap seluruh peserta musyawarah, sehingga diskusi bisa mengalir alami sesuai pendapat, pemikiran, dan argumentasi peserta secara seimbang, tanpa unsur atau dibayangi intervensi pemikiran moderator.

Moderator harus memberi kesempatan semua peserta untuk menyampaikan pendapat. Dengan demikian ketika salah satu peserta, perumus atau musohih, berbicara untuk memberi penjelasan agar sedapat mungkin semua pihak mendengarkan dengan menyimak, jangan memotong pembicaraan dan menolak pendapatnya sebelum selesai dalam menjelaskan, hal ini sangat sering terjadi dan berakibat tidak sehatnya forum diskusi dan musyawaroh.

  • Selektif

Moderator harus dapat memilah secara selektif mana pendapat peserta yang relevan untuk didialogkan dan mana pendapat yang tidak atau kurang relevan dengan pokok pembahasan, dan harus segera dikotak. Di sini dibutuhkan sikap tegas dan bijaksana dari seorang moderator agar diskusi berjalan dinamis dan tidak terjebak dalam hal-hal yang tidak penting (i’râdl an almaqshûd).

  • Obyektif

Dalam memutuskan mana pendapat yang harus didialogkan dan mana yang harus dikotak, moderator harus obyektif. Artinya, keputusan harus didasarkan pada substansi pendapat peserta, bukan berdasarkan subyektifitas moderator.

Oleh karena itu, moderator harus Mengetahuhi tentang inti jawaban peserta dengan memahami maroji’ yang disampaikan sehingga faham apakah perbedaan pendapat peserta tersebut hanya berbeda dalam redaksinya atau berbeda dalam pemahamannya atau memang ada khilaf di antara para ulama’. Hal ini dapat diketahui dari teks kitab yang dijadikan rujukan atau dari penyusun kitab yang dijadikan rujukan.

  • Komunikatif

Antara pendapat yang pro dan yang kontra harus bisa dipilah oleh moderator untuk selanjutnya didialogkan. Di sini dibutuhkan seorang moderator yang komunikatif agar dialog antara peserta yang pro dengan peserta yang kontra bisa berjalan efektif. Dalam hal ini, moderator perlu mendramatisir alur musyawarah menjadi seson i’tirâdl dan i’tidlâdl. Yakni seson di mana antara pendapat yang pro dan pendapat yang kontra saling dipertentangkan (i’tirâdl) untuk menguji mana di antara kedua pendapat yang terbukti sebagai kebenaran. Kemudian, dilanjutkan dengan seson mencarikan pendapat-pendapat pendukung (i’tidlâdl) untuk menguatkan. Demikian seterusnya.

Moderator Harus bijak dalam memberi kesimpulan dari beberapa pendapat, dengan meringkas dan memperkecil beragam perbedaan jawaban menjadi lebih simpel.

  • Representatif

Moderator harus bisa menarik kesimpulan yang benar, utuh dan representatif dari alur perdebatkan, sehingga pendapat dan pemikiran-pemikiran segar yang mengemuka dalam forum tidak terabaikan dengan sia-sia.

[1] Al-Ghazāliy, Iḥyā’ ‘Ulūm Al-Dīn, vol. 3, hlm 58.

Referensi: Disalin dari materi yang disampaikan oleh Gus M. Vaurak Tsabat dalam acara Seminar & Pembukaan Mejelis Munadhoroh Wal Maktabah, di Pondok Pesantren Syaikhona Moh. Cholil, Bangkalan, pada Jumat, 07 Dzulqo’dah 1447 H/ 24 April 2026 M.

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.