Bangkalan — Majelis Keluarga PP. Syaichona Moh. Cholil memberikan taujihat kepada seluruh staf pengajar Madrasah Salafiyah Al-Ma’arif pada Jumat, 17 April 2026. Kegiatan yang berlangsung di Laboratorium IPA tersebut diisi oleh Ra. Ismail dengan penyampaian nasihat mendalam seputar metode pengajaran, etika mendidik santri, serta pentingnya menjaga semangat dalam menuntut ilmu.
Dalam kesempatan tersebut, Ra. Ismail mengawali dengan menyampaikan dua bait syair yang dinisbatkan kepada Syaikhona Kholil (terlepas dari perbedaan pendapat apakah syair tersebut karya beliau atau dinukil dari ulama lain):
إِذَا مَا شِئْتَ عَلِّمْ بِالْإِشَارَةِ * وَإِنْ لَمْ يَنْتَبِهْ فَزِدِ الْعِبَارَةَ
وَإِنْ لَمْ يَنْتَبِهْ مِنْ ذَا وَلَا ذَاكَ * فَاضْرِبْهُ بِمِسْوَقَةِ الْحِمَارَةِ
Artinya: “Jika engkau ingin mengajar, maka ajarkanlah dengan isyarat. Jika belum paham, tambahkan penjelasan. Dan jika masih belum paham juga, maka ‘pukullah’ dengan tongkat keledai (kiasan untuk tindakan tegas).”
Maksud dari dua bait tersebut, menurut Ra. Ismail, adalah bahwa seorang guru dalam mendidik santri hendaknya menggunakan metode bertahap, yaitu:
Pertama, mendidik dengan isyarah (keteladanan).
Yang dimaksud dengan isyarah adalah memberikan contoh atau teladan yang baik agar dapat ditiru oleh para santri.
Kedua, memberikan ta‘bīr (penjelasan/verbal).
Apabila murid belum mampu mencontoh gurunya, maka diberikan penjelasan berupa teks atau keterangan yang dapat dipahami oleh murid.
Ketiga, memberikan tindakan tegas.
Jika murid masih belum bisa dididik dengan dua cara sebelumnya, maka boleh diberikan tindakan tegas. Namun, menurut Ra. Ismail, metode ini pada masa sekarang sudah tidak relevan (mansukh secara praktik), kecuali dalam batas tertentu seperti kepada anak sendiri.
Ra. Ismail juga menyampaikan agar tidak tergesa-gesa dalam mengajarkan ilmu, sebagaimana firman Allah:
وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَىٰ إِلَيْكَ وَحْيُهُ ۖ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا ١١٤
(طه: 114)
Artinya: “Dan janganlah engkau tergesa-gesa (membaca) Al-Qur’an sebelum wahyunya selesai diturunkan kepadamu, dan katakanlah: ‘Wahai Tuhanku, tambahkanlah ilmuku.’”

Seorang guru semestinya tidak mengajar terus-menerus hingga membuat murid bosan. Namun, hendaknya diselingi dengan hal-hal yang menyenangkan agar murid tidak jenuh. Meski demikian, tetap harus berdoa: “Rabbi zidnī ‘ilmā.” Maksudnya, seorang guru harus memiliki target, tetapi tidak memaksakan diri secara berlebihan.
Jangan sampai seperti kelanjutan ayat berikut:
وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَىٰ آدَمَ مِنْ قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهُ عَزْمًا ١١٥(طه: 115)
Artinya: “Dan sungguh, telah Kami perintahkan kepada Adam sebelumnya, tetapi ia lupa, dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.”
Nabi Adam telah diajari berbagai ilmu, namun tidak memiliki tekad yang kuat sehingga lupa. Hal ini menjadi pelajaran bagi para ustaz agar tidak berhenti belajar setelah mengajar.
Ra. Ismail juga menjelaskan bahwa Allah memberikan contoh seorang nabi yang sering terlupakan dalam sejarah, padahal beliau adalah pelopor ilmu pengetahuan, yaitu Nabi Idris AS. Dalam Al-Qur’an, beliau disebutkan di antaranya:
يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا
(الأعراف: 26)
Artinya: “Wahai anak Adam, sungguh Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan sebagai perhiasan.”
Penggunaan kata “anzalnā” menunjukkan kemuliaan sesuatu tersebut. Padahal secara zahir, pakaian dibuat oleh manusia, namun dinisbatkan kepada Allah sebagai bentuk pemuliaan. Dan yang pertama kali mengenalkan pakaian adalah Nabi Idris.
Demikian pula tentang besi:
وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ
(الحديد: 25)
Artinya: “Dan Kami menurunkan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia.”
Nabi Idris adalah nabi yang dimuliakan oleh Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surah Maryam:
وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِدْرِيسَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا ٥٦ وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا ٥٧
(مريم: 56–57)
Artinya: “Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Idris di dalam Kitab. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat benar lagi seorang nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke tempat yang tinggi.”
Allah juga berfirman:
وَإِسْمَاعِيلَ وَإِدْرِيسَ وَذَا الْكِفْلِ ۖ كُلٌّ مِنَ الصَّابِرِينَ ٨٥
(الأنبياء: 85)
Artinya: “Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris, dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang sabar.”
Ra. Ismail juga menjelaskan kisah perjalanan mi‘raj Nabi Muhammad ﷺ. Dalam perjalanan tersebut terdapat banyak pelajaran, di antaranya agar beliau mengambil ibrah dari para nabi terdahulu.
Di setiap lapisan langit, Nabi Muhammad ﷺ bertemu dengan para nabi:
Langit pertama: Nabi Adam
Langit kedua: Nabi Isa dan Nabi Yahya
Langit ketiga: Nabi Yusuf
Langit keempat: Nabi Idris
Langit kelima: Nabi Harun
Langit keenam: Nabi Musa
Langit ketujuh: Nabi Ibrahim
Para nabi tersebut menyambut Nabi Muhammad ﷺ dengan ucapan yang berbeda:
Ada yang mengatakan:
مَرْحَبًا بِالنَّبِيِّ الصَّالِحِ وَالِابْنِ الصَّالِحِ
(Selamat datang, wahai nabi yang saleh dan anak yang saleh) — diucapkan oleh Nabi Adam dan Nabi Ibrahim. Karena beliau berdua merupakan kakek moyang Nabi Muhammad secara nasab.
Ada pula yang mengatakan:
مَرْحَبًا بِالنَّبِيِّ الصَّالِحِ وَالْأَخِ الصَّالِحِ
(Selamat datang, wahai nabi yang saleh dan saudara yang saleh) — diucapkan oleh nabi lainnya.
Meskipun sebagian ahli sejarah menyebut Nabi Idris sebagai leluhur Nabi Muhammad, beliau tetap menggunakan ucapan “al-akh as-shalih”. Hal ini menunjukkan kerendahan hati dan kedalaman ilmu beliau, agar Nabi Muhammad merasa lebih dekat, bukan canggung.
Tujuan dipertemukannya Nabi Muhammad ﷺ dengan Nabi Idris adalah agar beliau meneladani manhaj keilmuan Nabi Idris, meskipun beliau seorang nabi tetaplah manusia, sebagaimana firman Allah:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ
(الكهف: 110)
Artinya: “Katakanlah: Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.”
Author: Fakhrullah



