Jejak Keilmuan RKH. Fakhruddin Aschal: Dipercaya Menjadi Qāri’ Sejak Mondok

oleh -5 Dilihat

Tausiyah yang disampaikan oleh RKH. Fakhruddin Aschal—pengasuh Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil—merupakan bagian dari rangkaian kegiatan rapat para asatidz serta taujihāt masyaikh yang diselenggarakan pada Jumat, 17 April 2026. Kegiatan tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat komitmen para pengajar dalam menjaga kualitas pembelajaran dan ruh pengabdian di lingkungan pesantren.

Sebelum tausiyah beliau, acara terlebih dahulu diisi dengan taujihāt dari KH. Ismail Al-Ascholy, yang memberikan arahan dan penguatan kepada para asatidz terkait metodelogi mengajar ala Syaikhona Kholil dan pentingnya menjaga nilai-nilai keilmuan pesantren. Rangkaian nasihat dari para masyaikh ini menjadi bekal berharga bagi para pengajar dalam menjalankan tugasnya.

Dalam kesempatan tersebut, RKH. Fakhruddin Aschal tidak hanya memberikan nasihat, tetapi juga membagikan pengalaman pribadinya saat menuntut ilmu. Beliau menceritakan masa mondoknya di Pondok Pesantren Kwagean. Dapat tiga tahun mondok, beliau dipercaya oleh pengurus untuk menjadi qāri’/ yang membacakan kitab kepada para santri dengan sistem kilatan, yakni metode pembelajaran cepat yang berfokus pada pemaknaan kitab.

Beliau pernah diamanahi untuk membacakan Kitab As-Syawi juz keempat, yang merupakan syarah dari Tafsir Jalalain. Pada tahun berikutnya, beliau kembali dipercaya untuk membacakan Kitab Syarqawi. Kitab-kitab yang telah dibacakan dan dimaknai tersebut kemudian disimpan oleh pesantren sebagai inventaris, sehingga dapat dijadikan rujukan atau perbandingan oleh para pengajar berikutnya.

Dalam keterbatasan sarana saat itu—ketika belum tersedia kitab muqābalah—beliau tetap menjaga kualitas pengajaran dengan melakukan muthāla‘ah setiap malam sebelum mengajar. Bahkan, ketika mengalami kesulitan, beliau bertanya kepada kakaknya, Ning Bliqis, yang kemudian menanyakan kepada Kiai Toifur Ali Wafa tentang redaksi kitab yang dirasa sulit. Upaya ini menunjukkan kesungguhan beliau dalam memahami setiap lafaz beserta maknanya secara mendalam.

Dari pengalaman tersebut, beliau menekankan pentingnya muthāla‘ah bagi para asatidz sebelum mengajar. Hal ini menjadi kunci agar penyampaian ilmu tetap lurus dan tidak menimbulkan kesalahpahaman. Bahkan, bagi yang sudah memahami materi, persiapan tetap diperlukan karena dapat membuat futūḥ—yakni datangnya pemahaman baru yang sebelumnya tidak diketahui.

Selain itu, beliau juga menyoroti pentingnya menjaga stabilitas semangat dalam berkhidmat. Menurut beliau, semangat seorang pengajar tidak selalu stabil, sehingga perlu dijaga dengan cara meminimalkan kesibukan di luar kebutuhan pokok agar tetap fokus dalam mengajar.

“Seminimal mungkin agar menjaga kesibukan selain kebutuhan pokok untuk menjaga stabilitas semangat mengajar,” dauhnya

Hubungan antara guru dan murid juga menjadi perhatian dalam tausiyah tersebut. Beliau mengingatkan bahwa semangat murid sangat berpengaruh terhadap semangat guru. Oleh karena itu, para asatidz diharapkan mampu menghadirkan metode pembelajaran yang menarik agar santri tidak merasa bosan. Di sisi lain, beliau juga berpesan agar tidak bersikap terlalu keras kepada murid, karena hal tersebut dapat membekas dalam ingatan mereka dan berdampak kurang baik dalam jangka panjang.

Beliau turut mengenang dawuh KHS. Abdullah Schal saat merintis Pondok Demangan. Dalam pesannya, beliau memohon kepada para ustaz dan pengurus untuk bersama-sama menghidupkan pesantren serta mendampingi santri dalam belajar. Menurut RKH. Fakhruddin Aschal, siapa pun yang turut menghidupkan pesantren berarti sedang berkhidmat kepada pemilik hakiki pesantren tersebut.

“Dulu, waktu abah menghidupkan Pondok Demangan ini, dawuhnya abah kepada ustad dan pengurus ‘minta tolong’, jadi saya minta tolong kepada para ustadz dan pengurus untuk bisa bantu-bantu menghidupkan pondok dan menemani santri belajar.”

“Secara tidak langsung, apabila sudah menghidupkan ponduk ini maka berati berkkhidmah kepada yang punya pondok, karena yang punya pondok ini bukan saya,” imbuhnya.

Sebagai penutup, RKH. Fakhruddin Aschal berharap semua bentuk pengabdian para pengurus dan asatidz diterima oleh Syaikhona Kholil dan diridhoi Allah Swt.

“Semoga kelak kita semua diakui sebagai santri Syaikhona Kholil di akhirat, dan dikumpulkan bersama Nabi Muhammad di surga Allah. Amin.”

Dewan asatidz PP. Syaichona Moh Cholil

Tausiyah ini menjadi pengingat bahwa tugas mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi juga menjaga amanah ilmu, keikhlasan, serta semangat pengabdian. Sebuah pesan mendalam dari seorang pengasuh pesantren kepada para penerus estafet keilmuan.

Author: Fakhrullah

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.