Figur Ibu dalam Al-Qur’an: Analisis Kisah Sayyidah Hannah dan Sayyidah Maryam

oleh -166 Dilihat

Pekan berikutnya, KH. Ismail Al-Ascholy menjelaskan ayat berikut:

إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Artinya: “(Ingatlah) ketika istri Imran berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada-Mu anak yang ada dalam kandunganku sebagai hamba yang bebas (untuk berkhidmat kepada-Mu). Maka terimalah nazarku itu; sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’” (QS. Ali ‘Imran: 35)

Di ayat ini, beliau menjelaskan bahwa, salah satu faidah yang disebutkan oleh ulama adalah tentang tabiat manusia, bahwa tabiat asli manusia itu tidak mau jika ada orang lain lebih unggul darinya, kecuali jika yang unggul itu adalah anaknya sendiri. Karena itulah dalam ayat di atas ini, istri Imran berdoa agar anaknya menjadi orang yang lebih baik darinya.

Dari ayat di atas dapat dilihat bahwa salehnya seorang anak tidak hanya dilihat dari siapa ayahnya, tetapi juga dilihat dari siapa ibunya.

Karena itu, dalam ayat ini yang ditekankan adalah istri Imran, yaitu Sayyidah Hannah. Artinya, Imran juga berdoa tetapi tidak diceritakan oleh Allah Swt. Hal ini menunjukkan bahwa doa seorang ibu lebih berpengaruh terhadap kesalehan anak, atau sifat seorang ibu lebih menentukan kesalehan anak dibandingkan sifat ayahnya.

Muharrar menurut para ulama adalah istilah bagi orang yang mengurus mihrab; kalau zaman sekarang berarti mengurus masjid. Sebab takmir pada masa dahulu bukan hanya mengurus bangunan atau membersihkan mihrab, tetapi juga mengajar di sana. Dan dahulu semua muharrar adalah laki-laki.

Selanjutnya, ternyata Allah tidak mengabulkan doanya, sehingga ia mengadu kepada Allah bahwa ia melahirkan anak perempuan:

فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي و َضَعْتُهَا أُنثَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنثَى

Artinya: “Maka ketika ia melahirkannya, ia berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah melahirkannya seorang anak perempuan.’ Dan Allah lebih mengetahui apa yang ia lahirkan. ‘Dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan.’” (QS. Ali ‘Imrān ayat: 36)

Adapun makna dari wa laisa al-dzakaru kal-untsa (وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنثَى) di sini adalah bahwa anak laki-laki yang diinginkan oleh Sayyidah Hannah tidak sama dengan anak perempuan yang Allah berikan.

Artinya, apa yang Allah berikan itulah yang terbaik, yaitu memberikan anak perempuan yang kelak akan menjadi perempuan terbaik. Sebab jika diberi anak laki-laki, ia tidak akan menjadi laki-laki terbaik, karena gelar laki-laki terbaik sudah disandang oleh Nabi Muhammad saw. terbukti dalam ayat-ayat setelahnya bahwa putri Sayyidah Hannah, yaitu Sayyidah Maryam adalah perempuan salehah yang dipilih oleh Allah Swt.

إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰكِ وَطَهَّرَكِ وَٱصۡطَفَىٰكِ عَلَىٰ نِسَاۤءِ ٱلۡعَـٰلَمِینَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan memilihmu (lagi) di atas semua perempuan di seluruh alam.” (QS. Ali ‘Imran: 42)

Para ulama pun berselisih pendapat tentang siapa yang lebih utama antara Sayyidah Maryam (putri Imran) dengan Sayyidah Khadijah (istri Nabi saw), Siti Aminah (ibu Nabi saw), dan Sayyidah Fatimah (putri nabi saw). Tentunya lebih mulia keluarga Nabi Muhammad bagi kita, karena kita adalah umat Nabi Muhammad, sedangkan bagi Bani Israil mungkin yang lebih utama adalah Sayyidah Maryam.

Di sini, Sayyidah Hannah berdoa memohon perlindungan kepada Allah Swt. untuk keturunannya. Keturunan Sayyidah Maryam hanyalah Nabi Isa, dan beliau tidak memiliki keturunan karena telah diangkat oleh Allah Swt dalam keadaan belum menikah. Kelak, ketika turun ke bumi, beliau akan menikah namun tidak sampai punya anak.

وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Artinya: “Dan sesungguhnya aku menamainya Maryam, dan aku memohon perlindungan-Mu untuknya dan keturunannya dari (gangguan) setan yang terkutuk.” (QS. Ali ‘Imrān ayat: 36)

فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنْبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا

Artinya: “Maka Tuhannya menerimanya (Maryam) dengan penerimaan yang baik dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik…” (QS. Ali ‘Imrān ayat: 37)

lafaz Fataqabbalaha (فَتَقَبَّلَهَا) maksudnya adalah meskipun orang tua Sayyidah Maryam tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, mereka tetap rida atas pemberian Allah Swt. Karena keridaannya itu, putrinya juga diterima oleh Allah Swt.

Artinya, apabila kalian diberi apa pun oleh Allah, maka harus rida. Jika tidak demikian, hal itu dapat menjadi sebab murka Allah.

Dulu Sayyidah Maryam tidak dirawat oleh Imran karena Imran sering bepergian, sehingga ia diasuh oleh Nabi Zakaria. Nabi Zakaria adalah ipar Sayyidah Hannah. Sayyidah Hannah memiliki saudari bernama Elizabeth, dan Elizabeth menikah dengan Nabi Zakaria. Mereka memiliki anak bernama Yahya, sehingga Nabi Yahya dan Sayyidah Maryam adalah sepupu. Sebagaimana disebut dalam ayat:

وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِندَهَا رِزْقًا قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِندِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya: “Dan Zakaria menjaganya. Setiap kali Zakaria masuk menemuinya di mihrab, ia mendapati makanan di sisinya. Ia berkata, ‘Wahai Maryam, dari mana ini engkau peroleh?’ Maryam menjawab, ‘Ini dari Allah.’ Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.” (QS. Ali ‘Imrān ayat: 37)

Di sini, meskipun Maryam seorang perempuan, ia tetap dijadikan pengurus mihrab oleh Sayyidah Hannah karena sudah dinazarkan.

Adapun lafaz Rizqan (رِزْقًا ) di sini adalah makanan, di mana apabila musim kemarau maka yang datang adalah makanan musim semi, dan apabila musim semi maka yang datang adalah makanan musim kemarau. Intinya adalah makanan yang datang bukan pada musimnya dan tanpa permintaan. Allahu A’lam.

Author: Fakhrullah