Syaichona.net-Pada tanggal 29 April 2025 M/1 Dzul Qo’dah 1446 H, Pondok Pesantren Syaichona Moch. Cholil Putri mengadakan Diklat Guru yang diikuti oleh para guru dan ustadzah. Dalam acara tersebut, KH. Moh Ismail Yahya Al-Ascholy menyampaikan beberapa pesan penting terkait dengan peningkatan kualitas pembelajaran di pesantren.
Beliau menekankan pentingnya penugasan guru di pesantren untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan tidak mengirim guru tugas di luar pesantren kecuali untuk majelis keluarga. Beliau mengibaratkan hal ini seperti adanya sesuatu yang indah yang dikirimkan kepada orang lain, namun sumbernya masih kotor, maka sama halnya seperti menjadikannya beban terhadap orang lain tersebut.
Membentuk Guru Pembimbing & Guru Fan
Beliau juga menekankan pentingnya metodologi pembelajaran yang tepat. Pembentukan GP (Guru Pembimbing) dan GF (Guru Fan) adalah metodologi pembelajaran dan amaliyah yang tidak hanya dilakukan di kelas saja namun juga di luar kelas. Dengan demikian, para ustadzah diharapkan dapat mengajar ilmu di dalam kelas dan mengajar akhlak di luar kelas atau ilmu haliyah.
Dalam kesempatan tersebut, Ra Ismail (Panggilan akrabnya KH. Moh Ismail Yahya Al-Ascholy) menyampaikan beberapa perubahan dalam KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) seperti pengurangan kitab, metode pembelajaran, dan lain-lain. Hal ini dilakukan untuk memudahkan para santri belajar dan meningkatkan kualitas pembelajaran.
Selain itu, guru juga diharapkan agar fokus pada fan atau ilmu yang akan mereka ajarkan. Jangan sampai ketika mereka mempunyai fan nahwu, tapi diajak belajar fiqh, karena ini adalah sebuah kekeliruan.
Oleh karena itu, ajaklah para santri menyelam pelajaran yang mereka ajarkan, dan selebihnya adalah berpasrah, bahwa hanya Allah lah yang bisa membuat para murid berhasil, sebagaimana pasrahnya Rasulullah Saw dalam berdakwah. Beliau bersabda:
إِنَّمَا أَنَا الْقَاسِمُ وَاللَّهُ الْمُعْطِي
Artinya: “Sesungguhnya aku hanya pembagi, sedangkan Allah-lah yang memberi”
Metode Pembelajaran
Dalam kesempatan tersebut, beliau juga menyampaikan tentang pentingnya metodologi pembelajaran yang digunakan oleh ulama terdahulu, seperti musyafahah, kitabah, dan penulisan di kertas. Beliau juga menyampaikan contoh-contoh penggunaan metodologi tersebut dalam pembelajaran, lebih jelasnya sebagai berikut:
- Musyafahah (tatap muka)
Metode pembelaaran ini tanpa melalui buku ataupun tulisan, jadi hanya berbekal ucapan dan telinga, di sini, antara guru dan murid harus sama-sama memiliki kemauan, guru memiliki kemamuan menyampaikan, dan murid memiliki kemauan mendengarkan.
- Kitabah (menulis)
Yaitu guru menulis di papan, kemudian murid menghafal apa yang telah ditulis gurunya, lalu setelah hafal, guru mengahpus tulisannya, dan begitulah seterusnya. Pembelajaran ini masih di pakai di daerah syirkit, sebuah daerah di Afrika .
Dan pembelajaran seperti ini juga pernah dipakai oleh guru kita Syaichona Moh Cholil, dimana, beliau dulu mondok di Makkah dan tidak mempunyai apa-apa karena uang beliau ditabung, maka ketika beliau ngaji kepada para ulama, beliau menulisnya di baju beliau yang berwarna putih, kemudian dihafal, setelah itu dicuci, dan ini beliau lakukan terus menerus.
- kitabah bil Mashohif (Menulis di kertas)
Metode menulis di kertas ini yang banyak dilakukan pada zaman sekarang. Hal ini juga dilakukan oleh guru kita, Syaichona Moh Cholil seperti kitab-kitab beliau yang kita temui saat ini dipenuhi dengan tulisan, baik di arah pinggir, atas, bawah dan kadang menghadap kebawah atau ke samping. Ini adalah sebuah bentuk kerja keras atau efforts sehingga menghasilkan keilmuan yang menakjubkan.
Jadi, usahakan pada murid agar tidak hanya menulis pelajarannya saja di kelas, tapi semua keterangan oleh gurunya ditulis juga, agar nanti juga menjadi sebuah kenangan yang ia ingat ketika di rumah.
Pentingnya Mendoakan Murid
Di Akhir Statement, beliau menceritakan beberapa kisah inspiratif tentang pentingnya doa dan kepedulian terhadap murid. Salah satunya adalah kisah Sayyidatina Maryam yang namanya disebut jelas dalam Al-Quran. Allah SWT berfirman dalam Surat Ali Imran ayat 35:
اِذْ قَالَتِ امْرَاَتُ عِمْرٰنَ رَبِّ اِنِّيْ نَذَرْتُ لَكَ مَا فِيْ بَطْنِيْ مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّيْ ۚ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Artinya: (Ingatlah), ketika istri Imran berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku bernazar kepada-Mu, apa (janin) yang dalam kandunganku (kelak) menjadi hamba yang mengabdi (kepada-Mu), maka terimalah (nazar itu) dariku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran: 35)
Ketika menyampaikan cerita istri Imran di atas, beliau menekankan kalimat yang artinya “ketika seorang perempuan berdoa”. Jadi, ini merupakan motivasi bagi para ustadzah yang notabene-nya perempuan untuk selalu mendoakan muridnya
Beliau juga menyampaikan kisah Nabi Ibrahim yang suka berdoa untuk orang lain. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 124:
وَاِذِ ابْتَلٰٓى اِبْرٰهٖمَ رَبُّهٗ بِكَلِمٰتٍ فَاَتَمَّهُنَّ ۗ قَالَ اِنِّيْ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ اِمَامًا ۗ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ ۗ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِى الظّٰلِمِيْنَ
Artinya:Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, “Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia.” Dia (Ibrahim) berkata, “Dan (juga) dari anak cucuku?” Allah berfirman, “(Benar, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zhalim.” (QS. Al-Baqarah: 124)
رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلٰوةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ ۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاۤءِ
Artinya: “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. (QS. Ibrahim: 40)
Rasulullah SAW juga bersabda:
إِنَّمَا أَنَا دَعْوَةُ أَبِي إِبرَاهِيم
Artinya: Sesungguhnya aku ini adalah hasil doa ayahku Ibrahim.
Dengan demikian, diharapkan para guru dan ustadzah dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan memberikan perhatian yang lebih besar kepada murid-murid mereka.
Author: A
Editor: Fakhrullah
