Cara Agar Dijadikan Menantu Oleh Kiai

oleh -141 Dilihat

Nabi Samuel

Kajian selanjutnya, KH. Ismail al-Ascholy menjelaskan redaksi berikut :

ثم بعد ذلك يقوم شمويل بأمر بني إسرائيل، وكان بينه وبين وفاة يوشع أربعمائة سنة وستون سنة، وفي عصره بدأ أمر داود عليه السلام. وقصته تتعلق بهذه الآية، وهي أنه لما غلبت العمالقة من أرض غزة وعسقلان على بني إسرائيل وقتلوا منهم خلقا كثيراً وسبوا من أبنائهم جمعا كثيراً وانقطعت النبوة من سبط لاوي ولم يبق فيهم إلا امرأة حبلى وهي عجوز، فجعلت تدعو الله عز وجل أن يرزقها ولداً ذكراً، فولدت غلاما فسمته أشمويل، ومعناه بالعبرانية إسماعيل أي سمع الله دعائي،

Artinya : “Kemudian setelah Nabi Dzulkifli, ada Nabi Samuel yang mengurus Bani Israil, antara dia dan wafatnya Nabi Yusya’ adalah 400 tahun. Di masa Nabi Samuel inilah dimulai urusan Nabi Daud As. Adapun kisah Nabi Daud berhubungan dengan ayat ini. Kisahnya yaitu, ketika Bangsa ‘Amlaq mengalahkan Bani Israil di Gaza dan ‘Asqalan, serta membunuh mereka dan menawan anak-anak Bani Israil dengan jumlah yang banyak, sehingga kenabian dari keturunan Lawi terputus dan tidak ada yang tersisa kecuali seorang perempuan tua renta, perempuan tersebut berdoa kepada Allah SWT agar diberi karunia seorang anak laki-laki, (Lalu doanya dikabulkan oleh Allah) dan melahirkan anak laki-laki, anak tersebut diberi nama ‘Asymuel. Adapun maknanya menurut bangsa Ibrani adalah Ismail, yang berarti ‘Allah mendengar doaku.’”

فلما ترعرع بعثته إلى المسجد، وأسلمته عند رجل صالح فيه يكون عنده ليتعلم من خيره وعبادته، فكان عنده . فلما بلغ أشده بينما هو ذات ليلة نائم، إذا صوت يأتيه من ناحية المسجد فانتبه مذعوراً، فظنه الشيخ يدعوه فسأله: (أدعوتني؟)، فكره أن يفزعه فقال: نعم، نم فنام، ثم ناداه الثانية فكذلك ثم الثالثة فإذا جبريل يدعوه فجاءه فقال: (إن ربك قد بعثك إلى قومك) فكان من أمره معهم ما قص الله في كتابه: ﴿أَلَمْ تَرَ إِلَى الْمَلَإِ … (البقرة الآية ٢٤٦)، فاتصلت الآيات بقصة طالوت ثم داود عليه السلام. اهـ البداية والنهاية لابن كثير

Artinya : “Ketika anak tersebut mulai tumbuh dewasa, ibunya mengirimnya ke masjid dan memasrahkannya kepada seorang laki-laki yang Sholeh agar anaknya mempelajari kebaikan dan ibadah laki-laki sholeh tersebut, maka Ia pun tinggal bersamanya. Ketika sudah beranjak dewasa, tiba-tiba suatu malam saat Ia tidur, mendengar suara dari arah pojok masjid, Ia pun bangun dalam keadaan terkejut, Ia mengira bahwa suara itu adalah suara gurunya yang memanggilnya, lalu Ia bertanya kepada gurunya, (Apakah engkau memanggilku guru?) Karena gurunya tidak ingin membuatnya kaget, maka dijawab, ‘iya, tidurlah,’ maka Ia tidur kembali. Lalu ada suara lagi persis seperti yang pertama, hal itu berulang sampai tiga kali. Ternyata sumber suara tersebut adalah Malaikat Jibril yang sedang memanggilnya, maka Ia menghampirinya, kemudian Malaikat Jibril berkata, ‘Sesungguhnya tuhanmu telah mengutus mu terhadap kaummu’. Adapun urusan Nabi Samuel bersama kaum tersebut adalah sebagaimana yang diceritakan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an yang artinya, ‘Tidakkah engkau melihat terhadap..’. maka nyambunglah ayat ini dengan kisah Thalut dan Daud As. (Referensi kitab Al-Bidayah Wan- Nihayah Ibnu Katsir)”

Sebelum masa-masa kerajaan kaum Tholut dan kaum Nabi Daud, banyak para nabi yang dibunuh, sehingga hanya tertinggal anak-anak kecil dan menjadi berakhir masa kenabian. Zaman dahulu, keturunan nabi selalu di intimidasi dan di aniaya, makanya kata Allah SWT berfirman :

وَإِنۡ عُدتُّمۡ عُدۡنَاۚ  [الإسراء ٨]

Artinya : “Dan sekiranya kamu kembali kepada (kedurhakaan) niscaya Kami kembali (mengazabmu)”

Maksudya, seakan-akan Allah SWTberkata, ‘Jika engkau kembali seperti dulu maka aku juga kembali seperti dulu,’yang berarti jika terus melakukan kejelekan, maka Allah SWT akan mengajbisi keturunan para Nabi. Begitu juga keturunan orang Sholeh, jika keturunannya melakukan kejelekan maka akan menghilangkan fitrah baik dari nenek moyangnya

Tapi, menurut Ra. Ismail, Karena Allah SWT itu memiliki sifat adil, maka  jika kembali melakukan kebaikan, Allah SWT akan memberikan kebaikan juga ; semisal memiliki nenek moyang yang mulia, kemudian selama beberapa kurun waktu mauquf (tidak ada keturunan yang melanjutkannya), lalu setelah itu lahir seorang anak yang alim, ahli ibadah, dan bermanfaat untuk umat, maka Allah juga akan mengembalikan kemuliaannya sebagaimana masa nenek moyangnya yang baik.

Hal itu sebagaimana Bani Israil  ysng saat itu menjadi umat yang paling mulia, dalam Al-Qur’an dikatakan :

وَأَنِّی فَضَّلۡتُكُمۡ عَلَى ٱلۡعَـٰلَمِینَ [البقرة ١٢٢]

Jadi, mahluk yang mulia di zamannya adalah keturunan Nabi Ya’qub, tapi gara gara keturunannya ada yang ga baik, maka diputuskanlah kenabian dari garis keturunannya saat itu. Karena Allah SWT menjadikan perbuatan manusia sebagai tolak ukur ntuk mendapatkan kebaikan dari Allah SWT, sebagaimana ayat Al-Qur’an :

إِنۡ أَحۡسَنتُمۡ أَحۡسَنتُمۡ لِأَنفُسِكُمۡۖ وَإِنۡ أَسَأۡتُمۡ فَلَهَاۚ ﴾ الإسراء ٧﴿

MASUK KE PEMBAHASAN SURAH SELANJUTNYA

Surga Untuk Orang Yang Tidak Mau Jabatan

وعن قوله تعالى

سورة الروم

تِلۡكَ ٱلدَّارُ ٱلۡـَٔاخِرَةُ نَجۡعَلُهَا لِلَّذِینَ لَا یُرِیدُونَ عُلُوࣰّا فِی ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فَسَادࣰاۚ وَٱلۡعَـٰقِبَةُ لِلۡمُتَّقِینَ﴾ القصص ٨٣﴿

Artinya : “Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Kesudahan (yang baik, yakni surga) itu (disediakan) bagi orang-orang yang bertakwa.

Menurut Ra. Ismail, maksudnya adalah surga itu oleh Allah SWT diperuntukkan kepada orang-orang yang selama di bumi tidak ingin dimuliakan, tidak ingin menjadi orang tinggi dan besar, serta tidak ingin berebut jabatan. Jadi, jika di bumi selalu berebut kekuasaan, berebut ingin menjadi ketua, berebut ingin menjadi ustad dan sebagainya maka Allah SWT tidak akan memberikan balasan surga kepadanya.

Intinya, keberhasilan itu akan diberikan kepada orang yang berbuat kebaikan dengan rasa dan niat yang tawadhu, semisal berniat untuk kesejahteraan desa atau orang-orang sekitar, atau juga hanya berniat mengamalkan apa yang didapatnya dari Pondok Pesantren dan lain-lain.

Malah, kata Ra. Ismail, orang yang niatnya terlalu tinggi, terlalu melangit (seakan-akan mengandalkan dirinya sendiri) kadang tidak berhasil

Akhlak Penduduk Surga

قال شيخنا المعاهد الدينية الإسلامية روضة من رياض الجنة، فلا بد لمن يرثها أن يتخلق بأخلاق أهل الجنة

Artinya : “Guru kami KH. Maimun Zubair berkata, ‘Pondok-pondok Pesantren adalah sebuah taman dari taman-taman surga, maka barangsiapa yang mewarisi (menetap) di Pondok Pesantren hendaknya berakhlak sebagaimana akhlaknya penduduk surga.’”

Ra. Ismail menyampaikan bahwa, akhlak penduduk surga itu adalah tingakah laku yang tidak menysusahkan orang lain, Allah SWT berfirman :

وَنَزَعۡنَا مَا فِی صُدُورِهِم مِّنۡ غِلٍّ إِخۡوَ ٰ⁠نًا عَلَىٰ سُرُرࣲ مُّتَقَـٰبِلِینَ ۝٤٧ الحجر ٤٥-٤٧

Artinya : “Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” [Hijr: 47]

Maksudnya, Allah SWT mencabut dari dadanya ahli surga rasa iri, dengki, hasud dan semacamnya, serta Allah SWT memberikan mereka semua rasa persaudaraan dan kedamaian.

Makanya menurut Ra. Ismail, Berada di pesantren itu seperti ada di surga, hanya saja tidak ada bidadarinya saja, oleh karenanya hendaknya memiliki akhlak-akhkak penduduk surga, seperti tidak sombong, tidak ada rasa iri dengki dan sebagainya.

وقال أيضاً على هذا المنوال: إن ابن العالم لا يكون عالماً مثل أبيه لو لم يكن على ما نواه أصله فلا يكون في التقدم والازدهار مثله، وتلميذ العالم الذي يخاتنه و يصاهره ابنته – وهو ليس من فروعه – يكون عالماً؛ لأنه كان غالباً على ما نواه شيخه؛ فإن الشيخ لا يختار إلا من صلحت له المقامة العندية

Artinya : “KH. Maimun Zubair juga berkata terhadap persamaan ini (surga dan pesantren) bahwa, sesungguhnya putranya orang alim itu tidak akan menjadi alim sebagaimana ayahnya apabila tidak memiliki niat seperti niat yang dimiliki bapaknya, maka tidak akan terjadi kemajuan dan perkembangan seperti pada masa bapaknya. Adapun santrinya orang alim yang diambil mantu oleh gurunya (yang mana santri tersebut bukan keturunannya) akan menjadi alim, karena biasanya seorang santri akan mengikuti seperti apa yang diniati gurunya, karena seorang guru tidak akan memilih menantu kecuali orang yang pantas maqomnya.”

Cara Agar Diambil Mantu Oleh Kiai

Maksudnya, kata Ra. Ismail, kadang santrinya orang alim yang diambil mantu oleh gurunya akan menjadi alim, karena serang kiai tidak akan mengambil manantu kecuali orang yang pantas. Orang zaman dulu kebanyak mengambil menantu dari kalangan santrinya ; Syaikhona Kholil semua menantunya merupakan santrinya. Makanya santri hendaknya semakin memperbaiki kualitasnya, baragkali selain mendapat ilmunya juga mnedapat putri kianya, ini tanda orang yang berhasil

وقال في كتابه رسالة صغيرة : وأنا لا أزال بالرغم من تغير الأحوال والظروف على يقين قوي بأنه ما دام الغرض والهدف على ما كان عليه سلفنا فلا بد وأن تؤدي هذه المعاهد الدينية رسالتها المقدسة. كما عليه الأوائل وهو الإخلاص وحسن النية

Artinya : “KH. Maimun Zubair berkata dalam kitabnya ‘Risalah Shoghirah’ : ‘Aku tetap memiliki keyakinan yang kuat meskipun ada perubahan pada cara dan bentuk (sebuah pendidikan) bahwa, selagi tujuannya seperti apa yang ditujukan para pendahulu, maka pasti pondok-pondok Pesantren (zaman ini) ini bisa menyampaikan risalahnya yang suci, sebagaimana para pendahulu, yaitu dengan memiliki rasa ikhlas dan bagusnya niat.

Menurut Ra.Ismail, asalkan pengajar da pelajar berpegangan terhadap rasa ikhlas dan bagusnya niat maka seperti apapun bentuk metode pembelajaran, akan sesuai dengan apa yang di cita-citakan oleh  pendahulu. Oleh karenanya, Rasulullah SAW bersabda :

الدنيا ملعونة الا عالما أو متعلما

Artinya : “Dunia itu terlaknat kecuali orang yang punya ilmu dan menuntut ilmu.”

Sebab dua orang ini yang punya potensi untuk ikhlas dan memiliki niat yang baik.

Author : Fakhrullah