Bait-bait Puisi Para Pejangga Zaman Rasulullah Saw

oleh -75 Dilihat

Dari zaman ke zaman hingga hari kiamat, sanjung madah dan pujian kepada Nabi Akhir Zaman, Muhammad ﷺ tidak pernah berhenti. Para pujangga dan para cendikia telah berlomba-lomba menggoreskan tintanya membuat prosa dan puisi di lemberan pustaka untuk mengekspresikan cinta dan kerinduan kepada Sang Kekasih Allah ﷻ hingga menjadi maha karya yang abdi sepanjang masa.

Bahkan jauh sebelum kitab Maulid ad-Diba’i, Maulid al-Barzanji, Simthud Durar, Adh-Dhiya’ullami’ dan lainnya ditulis. Para sahabat telah lebih terdahulu mengungkapkan rasa cintanya kepada Nabi ﷺ melalui puisi-puisi indah yang mereka tembangkan dan ada pula yang merangkai puisi untuk membela Rasulullah ﷺ dari ejekan kaum musyrikin dengan membalas syair-syair mereka.

Syekh Yusuf bin Ismail bin Hasan bin Nasir al-Nabahani al-Naqsybandi dalam Al-Muwahib al-ladunniyya bi al-minah al-Muhammadiyya berkata: “Adapun penyair-penyair Nabi ﷺ yang membela Islam, mereka adalah Ka’b bin Malik, ‘Abdullah bin Rawahah, dan Hassan bin Tsabit. Nabi ﷺ telah mendoakan Hassan:

اللهم أَيَّدَهُ بِرُوح القدس

“Ya Allah, kuatkanlah dia dengan Ruhu al-Kudus (Malaikat Jibril”‘.

Maka dikatakan: Malaikat Jibril membantunya dengan tujuh puluh bait syair. Dalam sebuah hadits disebutkan:

إن جبريل مع حسان ما نافح عني

“‘Sesungguhnya Jibril bersama Hassan selama ia membela aku”.

Yaitu membendung ejekan kaum musyrikin dengan membalas syair-syair mereka.

Dia (penulis kitab Al-Muwahib al-ladunniyya) berkata: “Penyair Nabi ﷺ yang paling keras serangannya terhadap orang-orang kafir adalah Hassan dan Ka’b, semoga Allah ﷻ meridhoi keduanya.”

Ibnu al-Atsir rahimahullah berkata dalam kitab Usud al-Ghabah: “Ibnu Sirin berkata: Penyair-penyair Nabi ﷺ adalah Hassan bin Tsabit, Ka’ab bin Malik, dan ‘Abdullah bin Rawahah. Ka’ab bin Malik selalu menakut-nakuti mereka (kaum musyrikin) dengan ancaman perang, Hassan membalas mereka dengan menyebut kekejian silsilah keturunan mereka, sedangkan ‘Abdullah bin Rawahah mencela mereka atas kekafiran mereka.”.

Berikut beberapa puisi-puisu mereka dalam memuji junjungan kita, Rasulullah ﷺ:

1- Al-‘Abbas bin ‘Abdul Mutthalib radhiyallahu ‘anhu, paman Rasulullah ﷺ, berkata: “Wahai Rasulullah, aku ingin memujimu.”

Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

قُلْ ، لا يُفَضَضُ الله فَاكَ

“Katakanlah, semoga Allah ﷻ tidak menghancurkan mulutmu.” Lantas Al-‘Abbas melantunkan bait-bait puisinya:

مِنْ قَبْلِهَا طِبْتَ فِي الظِّلاَلِ وَفِيْ … مُسْتَوْدَعٍ حَيـثُ يُخْصَفُ الْوَرَقُ

ثُمَّ هَبِطْتَ الْبِلاَدَ لاَ بَشَـــــــــــــرُ … أَنْتَ وَلاَ مُضْغَةٌ وَلاَ عَلَـــــــــــــقُ

بَلْ نُطْفَةٌ تَرْكَـــــــبُ السَّفِيْن وَقَدْ … أَلْجَمَ نَسْــــــــــــراً وَأَهْلَهُ الْغَرَقُ

تُنْقَلُ مِنْ صَــــــــــــالَبٍ إِلىَ رَحِمِ … إِذَا مَضَى عَـــــــــــالَمٌ بَدَا طَبَقُ

وَرَدْت نَارَ الْخَلِيْلِ مُكْتَتِمًــــــــــــا … فِيْ صُلْبِهِ أَنْتَ كَيْفَ يَحْتَــــــرِقُ

حَتَّى احْتَوَى بَيْتُكَ الْمُهَيْمِنُ مِــنْ … خِنْدِفَ عَلْيَاءَ تَحْتَهَا النُّطُــــــــقُ

وَأَنْتَ لَمَّا وُلِـــــــــدْتَ أَشْرَقَتِ اْل … أَرْضُ وَضَـــــــاءَتْ بِنُوْرِكَ اْلأُفُقُ

فَنَحْــنُ فِي ذَلِكَ الضِّيَاءِ وَفِي ال … نُّــــــــــوْرِ وَسُبُلِ الرَّشَادِ نَخْتَرِقُ

Sebelumnya, engkau telah berada dalam keadaan baik dan suci di bawah naungan (surga) dan di tempat penyimpanan (tulang sulbi Nabi Adam), tatkala dedaunan dirangkai (untuk menutupi aurat Adam dan Hawa).

Kemudian engkau turun ke bumi bukan sebagai wujud manusia (utuh), bukan pula sebagai segumpal daging, maupun segumpal darah.

Melainkan sebagai nuthfah (benih suci) yang menaiki bahtera (Nabi Nuh), di saat banjir besar menenggelamkan berhala Nasr dan para pemujanya.

Engkau terus berpindah dari satu tulang sulbi ke rahim (yang suci), setiap kali satu generasi berlalu, muncullah generasi yang baru.

Hingga nasabmu yang agung dan terjaga menempati puncaknya pada (kabilah) Khindif yang mulia, yang membawahi kabilah-kabilah lain di bawahnya.

Dan engkau, tatkala dilahirkan, bumi pun memancarkan sinar dan ufuk menjadi terang benderang oleh cahayamu.

Maka kami pun berada di dalam sinar dan cahaya tersebut, dan kami terus melangkah menempuh jalan-jalan petunjuk. (Bersambung)

Penulis: Abdul Adzim

Publisher: Fakhrul

Referensi:

✍🏻 Sayyid Muhammad bin Alawi bin ‘abbas al-Maliki al-Hasani| Manhaju as-Salaf fi Fahmi an-Nushush baina an-Nadzariyah wa at-Tathbiq| Books-Publishir, halaman 148-149.