Metodologi Bahtsul Masail dan Mutala’ah yang Efektif, oleh Gus Vaurak Tsabat (Besuk)

oleh -15 Dilihat

METODOLOGI BAHTSUL MASAIL

Adapun metodologi yang sering digunakan dalam bahtsul masa’il adalah sebagai berikut :

  1. إلحاق ما لم يوجد منقولا بما وجد في المنقول معناه , إذا كان بحيث يدرك بغير كبير فكر أنه لا فرق بينهما

Meng-ilhaq-kan masalah yang tidak ditemukan penjelasan hukumnya yang dinuqil dari para fuqoha’ dengan masalah yang telah dijelaskan hukumnya oleh para fuqoha’ , sekira ditemukan dengan mudah kesamaan diantara keduanya.

Contoh:

س: ما حكم تقديم المرأة لانتخاب رئيس القرية , فهل هو جائز أو لا ؟

ج : إن تقديم المرأة لانتخاب رئيس القرية لا يجوز , إلا في وقت الضرورة , قياسا على عدم جواز كونها حاكما .

مقرر مجلس ديوان الحزب لنهضةالعلماء الذي عقد في سلا تيكا بتاريخ : 15 جمادى الأولى 1381 / 5 أوكتوبر 1961.

  1. الأخذ من مفهوم عبارة اقتضاء أو ظهورا

Mengambil makna dari suatu ungkapan fuqaha, baik melalui konsekuensi logis maupun melalui makna yang tampak.

Contoh:

س : هل العلماء الذين يتوظفون في الوزارة ونحوها لجمهورية إندونسيا من الذين نص عليهم في حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم : العلماء أمناء الرسل على عباد الله تعالى ما لم يخالطوا السلاطين , فإن خالطوهم وفعلوا ذلك فقد خانوا الرسل وخانوهم فاحذرهم واعتزلهم . وبين في محموع جاوان للشيخ صالح سماراغ , بأن العلماء الموظفين هم المحذولون و مخدوعون , أولا ؟ (فرا قدس).

ج : ليسوا ممن نص عليهم في الحديث إذا كان توظفهم لحاجة  , وضرورة , أو مصلحة دينية , و بنية حسنة صالحة , كما في إسعاد الرفيق على سلم التوفيق . ونصه : و أن لا يكون مترددا على السلاطين وغيرهم من أرباب الرياسة في الدنيا إلا لحاجة و ضرورة أو مصلحة دينية راجحة على المفسدة إذا كانت بنية حسنة صالحة .  اهـ. مقرر ات مؤتمر نهضة العلماء الثاني والعشرون بجاكرتا , بتاريخ : 12-17 جمادى الثانية 1379 / 13-18 ديسمبر 1959 م .

س : ما حكم أعضاء لجنة سعاة الزكاة التي أقامتها إحدى الجمعيات الإسلامية , فهل هم من العاملين شرعا أو لا ؟

ج : هم ليسوا من العاملين شرعا , لأنهم ليسوا من الذين استعملهم الإمام , كما في الجزء الأول من الباجوري على فتح القريب في قسم الزكاة , ونصه : (قوله : والعامل من استعمله الإمام الخ ) أي : كساع يجبيها وكاتب يكتب ما أعطاه أرباب الأموال . اهـ.

مقرر ات مؤتمر نهضة العلماء الثاني والعشرون بجاكرتا , بتاريخ : 12-17 جمادى الثانية 1379 / 13-18 ديسمبر 1959 م

  1. الأخذ من علة مسألة

Mengambil illat masalah hukum.

Contoh:

س : ما حكم إعلان أول رمضان أو شوال على عموم المسلمين بالحساب للحاسب أو من صدقه , قبل إثبات الحاكم , وقبل إعلان وزارة الدينية , هل هو جائز أو لا ؟ (فرع بايوواغي ).

ج : إن إثبات رمضان أو شوتل بالحساب لا يوجد من الأحاديث أو الآثار شيء , وإن رسول الله صلى الله عليه وسلم ومن بعده من الخلفاء الراشدين لا يثبتونه بالحساب , وإن أول من أجاز الإثبات بالحساب هو مطرف شيخ الإمام البخاري . وأما إعلان الإثبات قبل إعلان وزارة الجينية الذي يؤدي إلى الاختلاف والتخاصم من بين مصدق ومكذب من المسلمين , فقرر المؤتمر بعدم الجواز دفعا للمفسدة , فينبغي بل يجب على الحكومة ( الوزارة الدينية) منعه , اهـ  مقرر ات مؤتمر نهضة العلماء العشرين بسوربيا . بتاريخ :10-15 محرم- 1374 / 8- 13 سيفتيمبر 1954 م.

س : هل يأثم من استطاع أهبة أداء الحج لكنه لم يحج لعدم بلوغ نو بته من الحكومة , أو لا ؟ (فرع تماغكوغ).

ج : لم يأثم لعدم التمكن لأداء الحج بالنوبة , كما في الجزء الثاني من الميزان في كتاب الحج صحيفة : 29 , ونصه : واتفقوا على من لزمه الحج فلم يحج ومات قبل التمكن من أدائه سقط عنه الفرض . اهـ. مقررات مشاورة شورية نهضة العلماء الأولى بجاكرتا , بتاريخ : 21-25 شوال 1379 / 18-22 أبريل 1960 م.

  1. الأخذ من القواعد الفقهية الكلية المعروفة

Mengambil dari kaedah fiqhiyyah kulliyat yang telah diketahui.

Contoh

س : ما حكم فينيسين من أدوية الأبزار الذي  اشتهر أنه مخلوط بمخ الخنزير , هل هو طاهر أو لا (فرع كديري) .

ج : القول الراجح انه طاهر , جريا على الأصل  . كما في الجزء الأول من إعانة الطالبين في العمل بالأصل  . مقرر ات مؤتمر نهضة العلماء الثاني والعشرون بجاكرتا , بتاريخ : 12-17 جمادى الثانية 1379 / 13-18 ديسمبر 1959 م .

س : ما حكم التمثيلات للدعوة الإسلامية ؟ (فرع بايوواغي).

ج : لا تجوز تلك التمثيلات وممنوعة حيث كانت فيها المنكرات , لأنه إذا اجتمع الحلال والحرام غلب الحرام , كما في المواهب السنية . اهـ  مقرر ات مؤتمر نهضة العلماء العشرين بسوربيا . بتاريخ :10-15 محرم- 1374 / 8- 13 سيفتيمبر 1954 م.

Cara Mencari Ta‘bīr dalam Batsul Masa’il

Dalam proses pencarian ta‘bīr (redaksi atau rujukan fikih) pada pembahasan Baḥṡ al-Masā’il, diperlukan langkah-langkah yang terarah dan terstruktur agar jawaban yang dihasilkan tepat sasaran dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

  1. Permasalahan harus di-taawwur-kan atau digambarkan secara utuh dan akurat sesuai dengan kondisi yang terjadi di lapangan. Apabila diperlukan, klarifikasi dapat dilakukan dengan pihak atau narasumber yang memahami langsung persoalan tersebut, agar tidak terjadi kekeliruan dalam memahami fakta.
  2. Setelah permasalahan dipahami dengan baik, langkah selanjutnya adalah menentukan fokus utama atau titik tekan permasalahan. Penentuan fokus ini penting agar pembahasan tidak melebar dan pencarian ta‘bīr dapat diarahkan secara tepat.
  3. Berdasarkan titik tekan permasalahan tersebut, dilakukan pencarian ta‘bīr dalam bab-bab fikih yang relevan. Pemilihan bab harus disesuaikan dengan inti persoalan yang sedang dibahas, sehingga rujukan yang digunakan benar-benar berkaitan langsung dengan masalah tersebut.
  4. Ta‘bīr yang ditemukan dari satu kitab perlu dibandingkan dengan ta‘bīr dalam kitab-kitab lain pada bab yang sama. Perbandingan ini bertujuan untuk mengetahui kemungkinan adanya penambahan rincian hukum (tafṣīl), perbedaan pendapat (khilāfiyyah), atau penjelasan yang lebih komprehensif. Bandingkan ta’bir dari berbagai kitab, dalam bab yang sama.
  5. Jawaban dan ta‘bīr yang telah disusun perlu ditelaah kembali secara kritis untuk menemukan kemungkinan kelemahan atau celah argumentasi. Selanjutnya, perlu dipersiapkan sanggahan atau penguat dalil yang dapat memperkokoh jawaban tersebut.

Contoh

Latar belakang masalah:

Di daerah Bnagkalan, Madura, banyak terdapat tambak udang atau bandeng yang hasilnya meraup keuntungan yang sangat besar. Sebagian dari hasil udang atau bandeng tersebut ada yang dijual secara borongan atau tebusan.

Pertanyaan:

  1. Wajibkah hasil tambak tersebut dizakati?
  2. Bagaimana hukumnya akad penjualan tersebut?

Setelah anda gambarkan permasalahan di atas, anda akan menemukan titik tekan permasalahan: “Bandeng atau udang itu termasuk barang yang wajib dizakati atau tidak?”.

Kemudian cari dalam bab zakat,  apa saja ternak yang wajib dizakati? Dan bisakah tambak udang atau bandeng digolongkan zakat tijaroh? Coba anda teliti syarat-syarat zakat tijaroh, sudahkah memenuhi syarat-syaratnya?

Kemudian gambarkan jual beli borongan itu sistemnya bagaimana? Setelah itu, cari dalam bab bai’, apakah sudah memenuhi syarat dan rukunnya akad bai’?

METODE MUṬĀLA’AH EFEKTIF

Muṭālaah merupakan kunci keberhasilan dalam memahami pelajaran. Muṭālaah yang benar bukan sekadar membaca, tetapi menelaah, mencerna, dan berpikir. Para ulama mengartikan muṭālaah sebagai berikut:

المطالعة هي صرف الفكر في مبحث لينجلي معناه ، ويحصل للمطالع من وضوح مطلبه مناه ، فيفوز بالمراد ويسلم من الخطأ والانتقاد

Muṭāla‘ah adalah mengerahkan pikiran secara sungguh-sungguh terhadap suatu pembahasan agar maknanya menjadi jelas. Dengan muṭāla‘ah, seorang penelaah akan memperoleh kejelasan terhadap maksud yang dituju, sehingga ia dapat meraih tujuan pembahasan tersebut dan terhindar dari kesalahan serta kritik.[1]

Sayyid ‘Alwī bin Aḥmad as-Saqqāf, seorang fakih terkemuka mazhab Syafi‘i, dalam karyanya al-Fawā’id al-Makkiyyah fī Mā Yaḥtāj Ilaih Ṭalabat as-Sādah asy-Syāfi‘iyyah, menjelaskan langkah-langkah cerdas dalam melakukan muṭāla‘ah yang efektif. Beliau menegaskan bahwa apabila langkah-langkah tersebut ditempuh dengan sungguh-sungguh dan istiqāmah, maka dalam kurun waktu satu hingga paling lama dua tahun akan tampak peningkatan kemampuan idrāk (daya pemahaman) yang signifikan. Adapun metode muṭāla‘ah tersebut adalah sebagai berikut:[2]

  1. Menerjemahkan teks dengan tepat, dengan memperhatikan makna kosa kata serta struktur kalimat (tarkīb) secara cermat. Ketepatan terjemah menjadi fondasi awal untuk memahami maksud penulis kitab.
  2. Mendefinisikan dan mentasawwurkan istilah-istilah yang terdapat dalam teks dengan menelusuri batasan-batasannya secara jelas. Misalnya ketika membaca teks Fatḥ al-Qarīb berikut:

 ولا يجوز)  فى غير ضرورة لرجل او امرأة ( استعمال ) شيء من ( أوانى الذهب والفضة )). 

Dalam teks tersebut, perlu dipahami secara mendalam makna lā yajūz: apakah bermakna haram atau makruh. Demikian pula istilah ḍarūrah, perlu dikaji kondisi apa saja yang dapat dikategorikan sebagai keadaan darurat, dan seterusnya.

  1. Memahami teks melalui pemahaman kebalikan (mafhūm mukhālafah). Sebagai contoh, pada redaksi di atas disebutkan fī ghairi ḍarūrah. Hal ini menunjukkan bahwa dalam kondisi darurat, hukum tersebut menjadi boleh. Demikian pula penyebutan kata awānī mengisyaratkan bahwa selain peralatan makan, hukumnya berbeda; begitu juga penyebutan emas serta perak membuka ruang kajian terhadap hukum bahan selain keduanya, dan seterusnya.
  2. Melakukan kritik ilmiah terhadap materi yang dibaca, dengan mengajukan argumen-argumen yang berpotensi melemahkannya, kemudian memperkuat kembali titik-titik tersebut dengan argumen lain yang lebih kokoh. Proses ini melatih ketajaman nalar serta kedewasaan berpikir dalam memahami perbedaan pendapat.
  3. Mengaktualisasikan pembahasan dengan realitas sekitar. Misalnya dalam pembahasan pembagian air, dapat dikaitkan dengan hukum air kemasan, air PDAM, air hasil penyulingan, atau air kelapa. Begitu juga pembahasan tentang kebolehan mengqashar salat dengan jarak 16 farsakh, dapat diaktualisasikan dengan ukuran kilometer. Contoh lain, dalam Fatḥ al-Mu‘īn disebutkan bahwa laki-laki diperbolehkan melihat perempuan melalui cermin; hal ini dapat dikontekstualisasikan dengan hukum menonton televisi atau film, dan fenomena sejenisnya.

Melalui tahapan-tahapan tersebut, muṭāla‘ah tidak hanya berfungsi sebagai sarana memahami teks, tetapi juga sebagai riyāḍah ‘aqliyyah yang membentuk cara berpikir kritis dan sistematis dalam tradisi keilmuan pesantren.

***

  1. Ma’shum Jauhari pernah menceritakan, Kyai Mat Jipang dengan bekal Tashrif dan Jurumiyah bisa membaca kitab Fathul Wahab kosongan, kalau anda sudah faham jurumiyah, sudah pernah hafal Tashrif tetapi belum bisa membaca kitab kosongan, tentu ada yang salah dalam sistem belajar anda.
  2. M. Abdul. Aziz Manshur mempunyai kiat dan sistem belajar yang sangat ampuh, kalau sistem ini kita adopsi dan dipraktikan, dalam beberapa bulan, anda akan dengan mudah bisa membaca kitab kosongan.

Anda akan senang sekali bisa muthala’ah Tafsir Fahru Al-Rozi, Tuhfatul Muhtaj, Majmu’ Ala-Syarhil Muhadzab atau Tarikh Al-Thobari yang berpuluh-puluh jilid. Anda bisa menyimak cerita-cerita atau Biografi para Wali dalam kitab Hilyatul Auliya’ yang belasan jilid. Caranya mudah:

  1. Ikutlah pengajian kitab kecil-kecilan.
  2. Memberi ma’na sendiri kitab yang akan anda pakai mengaji sebisanya dengan bekal Jurumiyah, Tashrif dan Kamus.
  3. Ketika mengaji jangan diberi ma’na, tetapi simaklah dan cocokkan antara ma’na anda dengan ma’na yang diberikan Qori’.
  4. Jika cocok, berarti anda sudah ada kemajuan. Jika belum, maka koreksilah di kamar, kenapa ma’na atau tarkib anda tidak cocok dengan ma’na yang diberikan oleh Qori’.
  5. Jika sudah terbiasa memberi ma’na dan memberi Tarkib (Status I’rob) sendiri kemudian biasakan membaca kitab-kitab kosongan
  6. Jika menemukan lafadz yang sulit ditarkib atau diberi ma’na, jangan putus asa. Tandai saja dengan garis di bawahnya. Mungkin lafadz ini termasuk kata-kata yang jarang dipakai, sehingga tidak disebutkan dalam kamus, kemungkinan lain ada kesalahan tulisan atau cetakan. Coba cocokkan dengan Naskah kitab lainya.
  7. Untuk lebih meyakinkan kemampuan anda, bacalah kitab-kitab kosongan dengan cara disemak, oleh senior-senior anda atau lebih dikenal dengan istilah “Sorogan”.
  8. Dalam beberapa bulan, anda akan menjadi kutu kitab dan akan kecanduan muthala’ah, seperti orang yang kecanduan rokok meski orang lain merasa muak dengan asapnya.
  9. Sekarang hiburan anda bukan WA-nan atau IG-nan atau Tiktokan, tetapi membaca dan membaca dan selanjutnya anda akan lebih kerasan belajar di pondok.

[1] Sayyid ‘Alwī bin Ahmad as-Saqqāf, al-Fawā’id al-Makkiyyah fī Mā Yatāj Ilaih alabat as-Sādah asy-Syāfi’iyyah, h. 96

[2] Lih. Sayyid ‘Alwī bin Ahmad as-Saqqāf, al-Fawā’id al-Makkiyyah, h. 97

 

Referensi: Disalin dari materi yang disampaikan oleh Gus M. Vaurak Tsabat dalam acara Seminar & Pembukaan Mejelis Munadhoroh Wal Maktabah, di Pondok Pesantren Syaikhona Moh. Cholil, Bangkalan, pada Jumat, 07 Dzulqo’dah 1447 H/ 24 April 2026 M

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.