RKH. Muhammad Nasih Aschal Hidupkan Kembali Pengajian Khusus Khodim

oleh -39 Dilihat

Malam Sabtu kini menjadi momentum istimewa bagi para khodim dan khodimah Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil. Di tengah kesibukan pelayanan dan berbagai aktivitas sehari-hari, mereka mendapatkan kesempatan untuk kembali menyegarkan hati dan memperkuat ruhani melalui pengajian rutin yang diasuh langsung oleh Ketua Umum Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil, RKH. Muhammad Nasih Aschal.

Kegiatan yang mulai dilaksanakan sejak 22 Mei 2026 tersebut digelar setiap selesai salat Isya di kediaman beliau. Dalam majelis ini, para khodim dan khodimah mengkaji sekaligus memaknai kitab Bidayatul Hidayah, karya Al-Imam Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali.

Pada pertemuan perdana, RKH. Muhammad Nasih Aschal menekankan pentingnya memiliki tekad yang kuat dan niat yang luas dalam mengikuti majelis ilmu. Beliau juga berharap agar dirinya bersama seluruh khodim dan khodimah dapat terus istiqamah menjaga keberlangsungan pengajian tersebut.

Komitmen beliau terhadap majelis ini tampak dari penegasannya bahwa pengajian akan tetap berlangsung meskipun suatu saat harus dilaksanakan secara daring apabila terdapat uzur syar’i yang menghalangi kehadiran beliau secara langsung. Sikap tersebut menjadi teladan tentang pentingnya menjaga kesinambungan majelis ilmu dalam keadaan apa pun.

Dalam kesempatan yang sama, beliau mengenang bahwa pengajian khusus khodim semacam ini sejatinya pernah menjadi agenda rutin selama beberapa tahun. Namun, karena berbagai faktor internal, kegiatan tersebut sempat terhenti. Kini, seiring bertambahnya jumlah khodim baru, pengajian kembali dihidupkan sebagai sarana pembinaan dan penguatan spiritual.

Alasan dipilihnya kitab Bidayatul Hidayah, beliau menjelaskan bahwa kitab tersebut sarat dengan pembahasan tentang tasawuf, adab, dan tuntunan kehidupan sehari-hari. Menurut beliau, materi yang terkandung di dalamnya sangat relevan bagi para khodim yang sering kali disibukkan oleh berbagai bentuk pelayanan sehingga memerlukan bekal untuk menjaga hati dan kehidupan ruhani.

Selain itu, pembahasan tentang tata krama dan akhlak menjadi bagian penting yang perlu dimiliki oleh setiap khodim. Sebagai orang-orang yang diberi kesempatan untuk dekat dengan para guru, para khodim dituntut untuk lebih berhati-hati dalam menjaga sikap, ucapan, dan perilaku. Bahkan ketika mengetahui berbagai hal tentang guru yang mungkin tidak diketahui orang lain, mereka tetap dituntut untuk menjaga hati dan adab. Demikian pesan beliau dalam penutupan pembukaan pengajian tersebut.

Mendengar nasihat itu, penulis teringat pada dawuh beliau dalam acara “Khodam Bersholawat” beberapa tahun silam. Saat itu, beliau menyampaikan bahwa menjadi khodim merupakan sebuah pilihan sekaligus amanah. Pilihan untuk senantiasa dituntut cerdas, cekatan, dan peka terhadap kehendak para guru, bahkan ketika tidak diungkapkan secara langsung. Amanah untuk menjaga hati dan pikiran atas segala sesuatu yang diketahui tentang guru.

Dari sinilah seorang khodim memiliki tanggung jawab yang tidak ringan. Mereka dituntut untuk menjaga akhlak, pikiran, dan kebersihan hati dengan lebih sungguh-sungguh dibandingkan yang lain. Kedekatan dengan guru bukan hanya menghadirkan keistimewaan, tetapi juga menuntut kesiapan dalam memikul amanah yang lebih besar.

Hadirnya kembali pengajian khusus khodim ini diharapkan menjadi sarana yang efektif untuk memperdalam ilmu, memperkuat spiritualitas, serta mempererat ukhuwah di antara para khodim dan khodimah Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil.

Author: Miranti

Editor: Fakhrullah

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.