Biografi dan Jejak Pendidikan Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan

oleh -425 Dilihat

Sosok Syaikhona Muhammad Kholil menempati posisi sentral dalam sejarah perkembangan Islam di Nusantara. Ia tidak hanya dikenal sebagai ulama besar dari Bangkalan, tetapi juga sebagai mata rantai penting transmisi keilmuan antara pesantren Nusantara dan Haramain. Otoritasnya lahir dari proses pendidikan yang panjang, sistematis, dan bertumpu pada sanad keilmuan yang kuat.

Menelusuri biografi dan jejak pendidikannya berarti membaca fondasi intelektual yang membentuk karakter, pandangan keagamaan, serta pengaruhnya terhadap generasi ulama setelahnya. Rihlah ilmiah yang ditempuhnya, baik di Madura, Jawa, maupun Makkah, menunjukkan pola pembentukan ulama yang berbasis disiplin, kedalaman ilmu, dan keluasan jaringan.

Syaikhona Muhammad Kholil lahir di Bangkalan, Jawa Timur, pada Rabu malam Kamis, 11 Jumadil Akhirah 1252 H bertepatan dengan 23 September 1836 M. Ia merupakan putra Kiai Abdul Latif dan Nyai Siti Khadijah. Sayyid Salim bin Jindan meriwayatkan dari Syaikhona Kholil bahwa nasab beliau tersambung kepada Sunan Giri. Sebagian riwayat menisbatkan nasab beliau kepada Sunan Gunung jati, antaranya riwayat Kiai Abdullah Schal. Terlepas dari berbedaan itu, yang pasti adalah Syaikhona Kholil putra dari sorang Kiai yang dikenal oleh masyarakat di masanya.

Sejak kecil, Muhammad Kholil belajar langsung kepada ayahnya. Ia mempelajari Al Qur’an, fikih, dan dasar-dasar ilmu alat. Pada usia dini ia telah menunjukkan ketekunan dan kecakapan dalam memahami fikih serta nahwu. Memasuki usia remaja, ayahnya mengirimnya ke berbagai pesantren untuk memperluas penguasaan ilmu agama.

Periode Madura & Jawa
Pada fase awal pengembaraan ilmunya, Muhammad Kholil muda belajar kepada Kiai Kaffal dan Tuan Guru Dawuh Malajah, Bangkalan. Setelah itu, ia melanjutkan belajar kepada Tuan Guru Agung dan memperdalam disiplin keislaman secara intensif.

Sekitar dekade 1850-an, Muhammad Kholil melanjutkan rihlah intelektual ke sejumlah pesantren di Jawa. Di antaranya:

1. Pondok Pesantren Langitan, Tuban, asuhan KH. Muhammad Noer (w. 1870 M)
2. Pondok Pesantren Canga’an Bangil, Jawa Timur, asuhan KH Asyik.
3. Pondok Pesantren Darussalam Kebon Candi, Pasuruan, asuhan KH Afif.
4.Pondok Pesantren Qamaruddin Bunga, Bunga, Gersik, asuhan KH Basyir
5. ⁠Pondok Pesantren Kedung Madura, Sidoarjo, asuhan KH Nidlomuddin

Selain itu, Syekh Yasin al-Fadani mencatat bahwa Muhammad Kholil juga pernah berguru kepada Syekh Abdul Ghani Bima ketika berada di Surabaya. Ulama ini dikenal berkiprah di Makkah dan memiliki reputasi keilmuan yang luas.

Periode Makkah
Menurut catatan Syekh Yasin bin Isa al-Fadani, Muhammad Kholil pertama kali berangkat ke Makkah pada tahun 1260 H atau 1843 M. Sepanjang hidupnya, beliau tercatat melakukan perjalanan ke Makkah berkali-kali sejak usianya masih muda. Syekh Yasin mencatat masa belajar Muhammad Kholil di Makkah berlangsung sekitar dua puluh tahun. Perjalanan ini menunjukkan konsistensi dan keseriusannya dalam menuntut ilmu.

Di Makkah, Muhammad Kholil mempelajari berbagai cabang ilmu zahir seperti tafsir, hadis, fiqih, dan nahwu, serta mendalami dimensi batiniah tasawuf. Ia berguru kepada sejumlah ulama terkemuka pada masanya dari latar belakang madzhab yang berbeda, mulai dari Syafi’i hingga Hanafi. Tak heran karena Masjidil Haram pada saat itu sudah biasa menjadi tempat belajar lintas madzhab, tidak hanya Syafi’i. Meski demikian, orientasi fiqihnya tetap berada dalam koridor mazhab Syafi’i sebagaimana penuntut ilmu Nusantara lainnya.

Sayyid Salim bin Jindan juga mencatat bahwa rihlah ilmiah Muhammad Kholil tidak terbatas di Makkah. Ia melakukan perjalanan ke wilayah Syam dan Mesir untuk bertemu dan mengambil ilmu dari sejumlah ulama terkemuka.

Diantara guru-gurunya adalah:

1. Sayyid Ahmad Zaini Dahlan
2. Syaikh Usman b. Hasan Dimyathi
3. Syekh Nawawi Banten
4. Syekh Abdul Jalil bin Abdissalam al-Hanafi
5. Syekh Abdurrahman bin Ahmad al-Hanafi
6. Syaikh Abdul Hamid al-Syarwani Dagistan Rusia
7. Ibrahim al-Bajuri, Mesir
8. Syaikh Abdul Karim as-Sambasi
9. Ahmad bin Hasan al-Atthas, Haridhah Haramaut Yaman
10. Sayyid Muhammad bin Husain al-Habsyi, Hadramaut
11. Syaikh Ali Rahbini
12. Dan ulama terkemuka lainnya.

Jejak pendidikan Syaikhona Muhammad Kholil memperlihatkan integrasi antara tradisi pesantren lokal dan pusat keilmuan internasional. Ia membangun otoritasnya melalui proses panjang, berguru kepada banyak ulama, serta menjaga kesinambungan sanad keilmuan lintas wilayah dan mazhab.

Fondasi inilah yang kemudian menjadikannya sebagai guru para ulama dan figur sentral dalam pembentukan corak Islam pesantren di Indonesia. Biografi dan rihlah pendidikannya bukan sekadar catatan sejarah, melainkan model pembentukan ulama yang menempatkan kedalaman ilmu, keluasan wawasan, dan kedisiplinan spiritual sebagai pilar utama.

Sumber:
Lajnah Turots Ilmi Syaikhona Muhammad Kholil
Manuskrip Syekh Yasin bin Isa al-Fadani tentang Biografi Syaikhona Muhammad Kholil
Manuskrip Sayyid Salim bin Jindan tentang biografi Syaikhona Muhammad Kholil

Penulis: Bushiri, Pengajar di Zawiyah Syaikhona Muhammad Kholil

Publisher: Fakhrul

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.