Nyai Romlah merupakan cicit dari Syaichona Moh. Cholil dia dikenal memiliki sikap yang tidak biasa. Beliau sering dhukah Madura red (marah), bahkan terkadang tanpa diketahui penyebabnya. Selain itu, beliau juga kerap memerintahkan para santri melakukan hal-hal yang sulit dipahami dan seolah dapat membuat mereka tidak betah tinggal di pesantren.
Jika dilihat dari sudut pandang lahiriah, berbagai tindakan Nyai Romlah tampak merugikan perkembangan Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil yang diasuh putranya, KHS. Abdullah Schal. Namun, kenyataannya justru sebaliknya. Pesantren tersebut berkembang dengan pesat. Banyak yang meyakini bahwa Nyai Romlah memiliki peran besar dalam perkembangan itu, meskipun melalui cara yang unik dan sulit dipahami oleh nalar biasa.
Cara beliau mengingatkan orang lain juga mengingatkan pada metode pendidikan yang dahulu dipraktikkan oleh kakeknya, Syaichona Moh. Cholil, yang dikenal memiliki pendekatan di luar kebiasaan.
Salah satu hal yang paling sering terjadi adalah kemarahan Nyai Romlah yang meledak-ledak. Menurut penuturan beberapa santri yang pernah mondok pada masa itu, ada tanda-tanda khusus ketika beliau hendak marah. Biasanya, beliau keluar dari dalem sambil melantunkan *Burdah*, syair karya Imam al-Bushiri yang berisi pujian kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Setelah itu, beliau duduk di teras pondok.
Jika sudah demikian, para santri biasanya mulai bersiap untuk menghindar dan mencari tempat bersembunyi. Ketika beliau semakin khusyuk membaca *Burdah*, tidak lama kemudian Nyai Romlah biasanya berkeliling pondok, masuk ke kamar-kamar santri, lalu meluapkan kemarahannya.
Beliau juga sering marah apabila mengetahui ada santri yang melakukan kesalahan, terutama pelanggaran terhadap syariat, baik di luar maupun di dalam lingkungan pesantren.
Entah dari mana beliau mengetahui pelanggaran tersebut. Tiba-tiba saja beliau keluar dari dalem sambil membawa parang, bensin, dan korek api. Beliau kemudian masuk ke kamar santri yang dianggap melakukan pelanggaran, mengambil pakaian dan kitab-kitab miliknya, lalu membakarnya.
Bahkan, jika santri tersebut masih berada di dalam kamar, beliau terkadang mengayunkan parang ke arahnya sebagai bentuk kemarahan. Peristiwa ini menjadi salah satu kisah yang masih dikenang oleh para santri yang menyaksikannya.
Dalam keadaan marah, Nyai Romlah sering memanggil KHS. Abdullah Schal sambil berkata, “Dulla, santreh korang ajer, gik ebelein ngajih!” yang berarti, “Dulla, santri yang kurang ajar masih saja diajari mengaji!”
Meski sedang marah, Nyai Romlah sering menyampaikan nasihat-nasihat yang berisi pesan tentang akhlak dan adab seorang santri. Para santri mendengarkan nasihat tersebut dari tempat persembunyian mereka.
Perilaku unik Nyai Romlah yang pada awalnya sulit dipahami. Namun, seiring berjalannya waktu, maksud dan hikmah di balik tindakan beliau mulai dapat dipahami oleh banyak orang.
Penulis akan mengulas beberapa kisah tentang perilaku unik Nyai Romlah dalam membesarkan Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil di website Syaichona.net pada tulisan selanjutnya.
Penulis : Fakhrul







