Prabowo di Kampus INSYA Bangkalan: NU Dinilai Berperan Menjaga Persatuan dan Stabilitas Bangsa

oleh -35 Dilihat

Bangkalan – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menghadiri acara penutupan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Tahun 2026 yang digelar di Kampus Institut Agama Islam Syaichona Mohammad Cholil (INSYA), Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026).

Tampak hadir dalam acara tersebut Rais Aam PBNU KH. Miftahul Akhyar, Wakil Rais Aam sekaligus Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar, Katib Aam PBNU KH Ahmad Said Asrori, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Sekjen PBNU sekaligus mentri sosial KH Syaifullah Yusuf, Ketua PWNU Jawa Timur sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz, para pengurus PBNU, PWNU, dan PCNU se-Indonesia, serta dzurriyah Syaichona Moh Cholil Bangkalan

Hadir pula mantan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo KH Kafabihi Mahrus, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo KH Azaim Ibrahimy, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang Rembang KH Abdullah Ubab Maimun, Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia KH Imam Jazuli, Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas KH Hasib Wahab Chasbullah, Gus Miftah, Gus Ghofar Arif, serta Prof. KH Mohammad Nuh.

Dari unsur pemerintahan tampak hadir Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Gubernur Jawa Timur sekaligus Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Agama KH Nasaruddin Umar, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Nusron Wahid, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sekaligus Ketua Umum PP Muslimat NU Arifah Choiri Fauzi, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.

NU, Nasionalisme, dan Kedekatan Pak Prabowo dengan Kalangan Nahdliyin

Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menyampaikan rasa terima kasih atas sambutan hangat yang diberikan keluarga besar Nahdlatul Ulama. Ia mengaku selalu merasa nyaman dan aman berada di tengah warga NU.

Pak Prabowo juga mengenang kedekatannya dengan keluarga Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), serta latar belakang keluarganya yang memiliki hubungan dengan tradisi Nahdlatul Ulama.

Menurutnya, NU memiliki karakter unik sebagai organisasi keagamaan yang tetap menjunjung tinggi nasionalisme dan kecintaan kepada Tanah Air.

“NU adalah organisasi keagamaan yang sangat nasionalis, sangat patriotik, dan cinta Tanah Air. Agamis, tetapi tetap nasionalis. Bahkan lagu Syubban Al-Wathan yang lahir sebelum Indonesia merdeka sudah mengandung nilai-nilai kebangsaan yang sangat kuat,” ujarnya.

Dengan nada bercanda, Pak Prabowo juga menyinggung semangat perjuangan yang tercermin dalam lagu tersebut.

“Kalau menyanyikannya, tangannya sampai mengepal. Belum ada Kopassus saat itu, jadi NU lebih dulu daripada Kopassus,” katanya yang disambut tawa peserta.

Presiden menegaskan bahwa sepanjang sejarah bangsa, keluarga besar NU selalu hadir ketika Indonesia menghadapi masa-masa sulit. Karena itu, ia menilai NU sebagai salah satu faktor penting yang menjaga stabilitas bangsa dan negara.

“NU selalu tampil ketika bangsa menghadapi tantangan. Keluarga besar NU adalah stabilisator yang membuat bangsa dan negara tetap aman,” katanya.

Pak Prabowo juga menyoroti peran para kiai dan ulama yang dinilainya sebagai tokoh yang paling dekat dengan masyarakat. Karena kedekatan tersebut, para ulama memahami secara langsung kondisi dan aspirasi rakyat.

Menurutnya, terdapat hubungan yang alamiah antara ulama, pemerintah, TNI, dan Polri karena seluruh elemen tersebut berasal dari rakyat dan memiliki tanggung jawab yang sama dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Menjaga Amanat Konstitusi dan Kepentingan Rakyat

Pada kesempatan itu, Pak Prabowo berbicara panjang mengenai komitmennya menjalankan amanat konstitusi setelah dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia pada 20 Oktober 2024.

Ia mengaku menemukan berbagai persoalan mendasar dalam tata kelola kekayaan negara yang menurutnya telah berlangsung selama bertahun-tahun.

“Saya merasa terlalu banyak penyimpangan yang selama ini dibiarkan. Akibatnya, banyak kekayaan bangsa yang hilang dan tidak dinikmati rakyat, bahkan mengalir ke luar negeri,” tegasnya.

Prabowo mengatakan, dirinya tidak sedang mencari pihak yang harus disalahkan. Namun sebagai kepala negara, ia merasa berkewajiban melakukan perbaikan agar kekayaan nasional dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat.

Mencegah Kebocoran Kekayaan Negara dan Penertiban Sumber Daya Alam

Ia mencontohkan pembangunan jalan daerah sepanjang 1.151 kilometer yang baru saja diresmikan yang berpusat di ruas Kedungdung-Bringkoning, Desa Lar lar, Banyuates Sampang dengan anggaran Rp5,4 triliun. Menurutnya, apabila kebocoran anggaran dapat ditekan, maka lebih banyak infrastruktur, sekolah, dan fasilitas publik yang bisa dibangun.

Presiden juga mengungkapkan bahwa pemerintah telah menindak berbagai pelanggaran di sektor sumber daya alam, termasuk perkebunan sawit dan pertambangan ilegal.

“Ratusan tambang tanpa izin telah kita tutup. Ada tambang yang beroperasi bertahun-tahun tanpa izin dan menghasilkan ratusan miliar rupiah setiap bulan,” ujarnya.

Ia menambahkan, pemerintah juga terus berupaya memberantas penyelundupan sumber daya alam yang masih terjadi meskipun aparat TNI AL, Bea Cukai, dan instansi terkait telah dikerahkan.

Menurutnya, kunci utama kemajuan Indonesia adalah pemerintahan yang bersih dan bebas dari korupsi.

“Negara kita besar, luas, dan sangat kaya. Tetapi syaratnya pemerintah harus bersih dan tidak boleh ada korupsi,” katanya.

Pertumbuhan Ekonomi dan Upaya Mewujudkan Keadilan Sosial

Dalam pidatonya, Presiden juga menyinggung paradoks pertumbuhan ekonomi nasional. Ia menilai bahwa selama beberapa tahun terakhir pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

“Kalau ekonomi tumbuh, tetapi jumlah penduduk miskin masih bertambah dan kelas menengah justru menurun, maka ada sesuatu yang harus kita perbaiki,” ujarnya.

Pak Prabowo menegaskan bahwa tujuan kemerdekaan Indonesia adalah menghadirkan keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat, bukan hanya dinikmati oleh segelintir kelompok.

Ia juga mengungkapkan sejumlah data yang menurutnya menunjukkan besarnya aliran kekayaan nasional ke luar negeri selama puluhan tahun terakhir. Karena itu, pemerintah saat ini fokus memperbaiki tata kelola ekonomi, menekan kebocoran, serta memastikan hasil pembangunan dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Penataan BUMN dan Harapan Peran Ulama dalam Menjelaskan Kebijakan Pemerintah

Pak Prabowo menyampaikan bahwa pemerintah telah melakukan evaluasi terhadap sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) yang dinilai tidak produktif.

“Ada banyak perusahaan yang selama ini tidak memberikan manfaat dan terus merugi. Kita melakukan penataan agar pengelolaan keuangan negara menjadi lebih efisien dan tepat sasaran,” katanya.

Melalui forum yang dihadiri para ulama dan tokoh NU dari seluruh Indonesia tersebut, Pak Prabowo berharap para kiai dapat turut menjelaskan kepada masyarakat mengenai berbagai langkah perbaikan yang sedang dilakukan pemerintah demi menjaga kepentingan bangsa dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Author: Fakhrullah

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.