Tujuan asal dari diperbolehkan menggunakan jasa Muballigh dalam sholat berjemaah adalah agar seluruh makmum bisa mendengar suara imam ketika suara imam tidak bisa didengar. Namun tren yang terjadi di akhir-akhir ini di sebagian masjid tetap menggunakan jasa Muballigh meski suara imam lantang terdengar oleh semua makmum, mengingat di zaman sekarang sudah ada microfon. Lalu bagaimana ulama fikih menyikapi fenomena di atas?Dalam kitab as-Sirah al-Halibiyah atau kitab Insanu al-Uyun fı Sirah al-Amin al-Makmun karya Syaikh Nuruddin Ali bin Ibrahim Ahmad al-Halibiy asy-Syafi’i disebutkan:ومن البدع رفع المؤذنين أصواتها بتبليغ التكبير لمن بعد عن الإمام من المقتدين . قال بعضهم : ولا بأس به لما فيه من النفع أي حيث لم يبلغهم صوت الإمام بخلاف ما إذا بلغهم. ففي كلام بعضهم التبليغ بدعة منكرة باتفاق الأئمة الأربعة حيث بلغ المأمومين صوت الإمام ومعنى منكرة أنها مكروهة.”Termasuk Bida’ah (praktik baru dalam ibadah yang tidak pernah dikerjakan di zaman Nabi ﷺ) adalah Mu’adzin (Muballigh) mengeraskan suara untuk menyampaikan takbir bagi makmum yang jauh dari imam. Sebagian ulama mengatakan: “tidak mengapa hal tersebut karena terdapat kemanfaatan di dalamnya yaitu ketika suara imam tidak sampai (terdengar) kepada makmum berbeda jika suara imam bisa sampai kepada mereka. Maka ditegaskan bahwa dalam pendapat sebagian ulama di atas tentang masalah Tabligh hukumnya Bid’ah Munkarah menurut kesepakatan para imam madzhab empat, sekiranya semua makmum dapat mendengar suara imam sedangkan yang di maksud Munkarah adalah Makruh.Senada dengan apa yang disampaikan Syaikh Ahmad al-Halibiy, Syaikh Ahmad Ibnu Hajar al-Haitamiy dalam kitabnya Tuhfatu al-Muhtaj bi Syarhi al-Minhaj menuliskan:قال بعضهم : إن التبليغ بدعة منكرة باتفاق الأئمة الأربعة حيث بلغ المأمومين صوت الإمام لأن السنة في حقه حينئذ أن يتولاه بنفسه ومراده بكونه بدعة منكرة أنه مكروه خلافاً لمن وهم فيه فأخذ منه أنه لا يجوز.”Sebagian ulama mengatakan: “Bahwa Tabligh (menyampaikan suara imam) hukumnya Bid’ah Munkarah menurut kesepakatan para imam madzhab empat, sekiranya semua makmum dapat mendengar suara imamnya kerena sunah baginya saat itu adalah mengeraskan suara untuk dirinya sendiri dan yang maksud Bid’ah Munkarah adalah makruh berbeda pendapat dengan ulama yang berasumsi bahwa hal itu tidak diperbolehkan (khilfu al-Aula).Sementara dalam kitab Hasyiyah al-Baijuriy, Syaikh Ibrahim al-Baijuriy menambahkan:ويجهر الإمام بسمع الله لمن حمده ويسر بربنا لك الحمد، ويسر غيره من مأموم ومنفرد بهما نعم المبلغ يجهر بما يجهر به الإمام، ويسر بما يسر به الإمامه لأنه ناقل ومبلغ ما يقول كما قاله في المجموع، فما يقع الآن من كون المبلغين يجهرون بقولهم : ربنا لك الحمد فهو ناشيء من جهلهم وجهل الأئمة حيث أقروهم على ذلك. وبالغ بعضهم في التشنيع على تارك العمل بذلك، ومحل التشنيع عليهم إن كانوا شافعية وإلا فعند الإمام مالك يجهر الإمام بالتسميع والمبلغ بالتحميد.”Dan hendaknya imam mengeraskan bacaan “Sami’allahu Liman Hamidah” dan menyamarkan bacaan “Rabbana Laka al-Hamdu”. Sedangkan yang lain yaitu makmum dan orang yang sholat sendirian hendaknya mereka membaca samar keduanya. Iya benar, bagi seorang Muballigh hendaknya mengeraskan bacaan yang dikeraskan imam dan menyamarkan bacaan yang disamarkan imam kerena status dia adalah orang yang memindah dan orang yang menyampaikan apa yang diucapkan imam hal itu sebagaimana keterangan yang terdapat dalam kitab al-Majmu’. Adapun fenomena yang terjadi sekarang, adanya para Muballigh mengeraskan bacaan “Rabbana Laka al-Hamdu” hal itu muncul dari kebodohan mereka dan kebodohan para tokoh agama yang mengajarkan mereka demikian. Sebagian ulama mengecam keras bagi orang yang tidak mengamalkan hal itu (mengeraskan bacaan yang dikeraskan imam dan menyamarkan bacaan yang disamarkan imam) namun konteks keceman keras yang diarahkan kepada mereka, jika mereka pengikut madzhab Syafi’i dan jika tidak, maka menurut Imam Malik seorang imam hendaknya mengeraskan bacaan “Sami’allahu Liman Hamidah” dan bagi Muballigh menyamarkan bacaan “Rabbana Laka al-Hamdu”.Wallahu A’lamu
Penulis: Abdul Adzim
Referensi:
✍️ Syaikh Nuruddin Ali bin Ibrahim Ahmad al-Halibiy asy-Syafi’i| As-Sirah al-Halibiyah atau kitab Insanu al-Uyun fı Sirah al-Amin al-Makmun| Daru al-Kutub al-Ilmiyah, juz 2, halaman 143.✍️ Syaikh Ahmad Ibnu Hajar al-Haitamiy| Tuhfatu al-Muhtaj bi Syarhi al-Minhaj| Daru al-Kutub al-Ilmiyah, juz 1, halaman 231.✍️ Syaikh Muhammad bin Ahmad asy-Syarbiniy al-Qahiro asy-Syafi’i| Hasyiyah al-Bujairamiy ala al-Khatib| Daru al-Kutub al-Ilmiyah, juz 2, halaman 228.✍️ Syaikh Ibrahim al-Baijuriy| Hasyiyah Ibrahim al-Baijuriy| Daru al-Kutub al-Ilmiyah, juz 1, halaman 327. .