Melangkah dengan Ilmu: Pembekalan Guru Tugas sebagai Gerbang Pengabdian

oleh -154 Dilihat

Pembekalan Guru Tugas (GT) yang dilaksanakan pada Kamis malam, 29 Ramadhan 1447 H/19 Maret 2026 M, bertempat di kediaman KH. Ismail Al-Ascholy, menjadi momentum penting bagi para santriwati yang akan memasuki masa pengabdian. Kegiatan ini tidak hanya sebagai persiapan teknis, tetapi juga sebagai proses evaluasi kesiapan mental dan keilmuan sebelum benar-benar terjun ke tengah masyarakat.

Acara yang dimulai sekitar pukul 00.30 tersebut diisi langsung oleh KH. Moh. Ismail Al-Ascholy dengan suasana yang hangat namun penuh makna. Dalam pembukaannya, beliau menyapa para peserta dengan ungkapan yang tak terduga, “Assalamu’alaikum, calon-calon ustadzah keren!” Sapaan ini seketika mencairkan suasana sekaligus menanamkan rasa percaya diri, seolah menjadi isyarat bahwa para santriwati telah dipandang mampu mengemban amanah besar sebagai pendidik.

Meski sempat muncul rasa tegang, terlebih ketika para peserta menggenggam kitab masing-masing dengan bayangan akan diuji satu per satu, kekhawatiran itu sirna setelah beliau menyampaikan dawuh:

اَلْعَالِمُ يَكْفِيهِ بِالْإِشَارَةِ

“Orang yang berilmu cukup diberi isyarat.”

Pesan ini menegaskan bahwa proses pembelajaran tidak harus selalu diwarnai tekanan. Sebaliknya, pendekatan yang lembut namun tepat sasaran justru menjadi kunci keberhasilan dalam mengajar.

Mengapa diwajibkan mengabdi dengan mengajar?

Dalam taujihatnya, KH. Moh. Ismail Al-Ascholy menekankan pentingnya masa pengabdian sebagai kelanjutan dari proses belajar. Setelah menempuh fase menuntut ilmu, seorang santri dituntut untuk memasuki tahap pengamalan dengan cara mengajar. Hal ini sejalan dengan ungkapan Imam Malik:

طَلَبْتُ الْعِلْمَ لِنَفْسِي، فَلَمَّا عَلِمْتُهُ أَرَدْتُ أَنْ أَعْمَلَ بِهِ، فَلَمَّا عَمِلْتُ بِهِ أَرَدْتُ أَنْ أُعَلِّمَهُ النَّاسَ

“Aku menuntut ilmu untuk diriku sendiri. Ketika aku telah mengetahuinya, aku ingin mengamalkannya. Dan ketika aku telah mengamalkannya, aku ingin mengajarkannya kepada manusia.”

Beliau juga mengingatkan bahwa niat mencari ilmu karena Allah bukanlah hal yang mudah, sehingga dapat diawali dengan niat untuk memperbaiki diri. Dari sana, ilmu akan berkembang menjadi amal, dan akhirnya dibagikan kepada orang lain.

Ilmu itu untuk diri sendiri atau harus dibagikan?

Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa ilmu tidak boleh berhenti pada diri sendiri. Sebagaimana firman Allah:

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah engkau menyebut-nyebutnya.”

Ilmu merupakan nikmat yang harus disebarkan, agar manfaatnya meluas dan tidak terhenti pada individu semata.

Bagaimana menyesuaikan metode dengan generasi?

Dalam konteks pendidikan, beliau menyoroti pentingnya menyesuaikan metode pengajaran dengan perkembangan zaman.

Anak milenial yang hidup di era modern, tidak bisa diajar dengan metode yang sama seperti anak kolonial pada masa penjajahan. Proses pembelajaran harus menggunakan cara yang menarik dan relevan dengan zaman mereka. Guru perlu menyesuaikan metode dan gaya penyampaian agar murid mudah memahami dan tertarik belajar.

Generasi saat ini tidak dapat dididik dengan pendekatan yang sama seperti generasi terdahulu. Mengutip perkataan Sayyidina Ali:

لَا تُؤَدِّبُوا أَوْلَادَكُم بِأَخْلَاقِكُمْ فَإِنَّهُمْ خُلِقُوا لِزَمَانٍ غَيْرِ زَمَانِكُمْ

“Jangan mendidik anak-anakmu dengan akhlakmu, karena mereka hidup di zaman yang berbeda.”

Namun demikian, pembaruan metode bukan berarti meninggalkan nilai-nilai pesantren. Yang perlu diperbarui adalah cara penyampaian, agar lebih relevan, menarik, dan efektif.

Makna menjadi ustadzah?

Menjadi seorang ustadzah, menurut beliau, adalah amanah besar sekaligus kemuliaan. Ustadzah adalah penyambung lidah para masyayikh, yang bertugas menjaga kesinambungan ilmu. Oleh karena itu, kegagalan dalam menyampaikan ilmu kepada murid merupakan bentuk pengkhianatan terhadap amanah tersebut. Namun di sisi lain, posisi ini adalah kebanggaan karena telah melewati proses panjang dalam menuntut ilmu.

Apakah memberi ilmu kecil kepada orang lain tetap berarti?

Beliau juga menegaskan bahwa mengajarkan hal kecil tetap memiliki nilai besar. Bahkan, ada ungkapan yang dinisbatkan kepada Ibnu Abbas:“Lebih aku sukai mengajarkan satu masalah kecil daripada mengajarkan banyak masalah besar.” Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan harus dimulai dari hal-hal mendasar yang berdampak nyata dalam kehidupan.

Prinsip ini diperkuat dengan firman Allah tentang pentingnya menjadi pribadi rabbani, yaitu pendidik yang mengajarkan ilmu secara bertahap, dimulai dari yang kecil menuju yang lebih besar.

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ

“Tidaklah pantas bagi seseorang yang diberi Kitab, hikmah, dan kenabian oleh Allah, lalu dia berkata kepada manusia: ‘Jadilah kalian penyembahku selain Allah.’ Akan tetapi (dia berkata): ‘Jadilah kalian orang-orang rabbani, karena kalian selalu mengajarkan Kitab dan mempelajarinya.’”

Rabbani adalah orang yang mendidik manusia dengan ilmu, dimulai dari yang kecil sebelum yang besar.

Bagaimana cara mengajar yang efektif menurut Syaikhona Kholil?

Dalam aspek metodologi, KH. Moh. Ismail Al-Ascholy menjelaskan tahapan mengajar yang efektif: dimulai dari isyarat, dilanjutkan dengan penjelasan, dan diakhiri dengan ketegasan. Namun, beliau menekankan bahwa ketegasan tidak harus berupa tindakan fisik, melainkan cukup dengan nasihat dan pendekatan edukatif. Jika metode keras dianggap perlu, maka yang harus dievaluasi adalah cara penyampaian guru itu sendiri.

Syaikhona Kholil dalam syi’irnya mengatakan:

إِذَا مَا شِئْتَ عَلِّمْ بِالْإِشَارَةِ * وَإِنْ لَمْ يَنْتَبِهْ فَزِدِ الْعِبَارَةَ

وَإِنْ لَمْ يَنْتَبِهْ مِنْ ذَا وَلَا ذَاكَ * فَاضْرِبْهُ بِمِسْوَقَةِ الْحِمَارَةِ

“Jika engkau ingin mengajar, maka ajarkanlah dengan isyarat. Jika belum paham, tambahkan penjelasan. Dan jika masih belum paham juga, maka pukullah dengan tongkat keledai (kiasan untuk tindakan tegas).”

Bagaiamana seharusnya sikap seorang ustadzah?

Selain itu, beliau mengingatkan agar para calon ustadzah tidak menjadi pribadi yang mudah terpengaruh (imma‘ah). Seorang guru harus teguh pada prinsip kebaikan, tidak membalas perlakuan buruk dengan keburukan, serta tetap menjaga adab dalam segala kondisi.

Rasulullah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:لا تَكونوا إمَّعةً، تقولونَ: إن أحسنَ النَّاسُ أحسنَّا، وإن ظلموا ظلَمنا، ولَكن وطِّنوا أنفسَكم، إن أحسنَ النَّاسُ أن تُحسِنوا، وإن أساءوا فلا تظلِموا

“Janganlah kalian menjadi imma‘ah (orang yang selalu ikut-ikutan), sampai kalian berkata: ‘Jika orang lain berbuat baik, kami pun berbuat baik, dan jika mereka berbuat zalim, kami pun zalim.’ Tetapi teguhkanlah diri kalian sendiri: jika orang lain berbuat baik, hendaklah kalian berbuat baik, dan jika mereka berbuat buruk, janganlah kalian berbuat zalim.”

Menutup taujihatnya, beliau memberikan peringatan penting agar pesan-pesan yang telah disampaikan tidak dilupakan setelah masa liburan. Konsistensi dalam menjaga semangat dan nilai-nilai yang telah ditanamkan menjadi kunci agar tidak perlu mengulang pembekalan di kemudian hari.

Beliau juga menyampaikan pesan yang menyentuh, bahwa kekecewaan terbesar justru datang dari orang terdekat. Dalam konteks ini, seorang ustadzah sebagai bagian dari lingkar terdekat pengasuh harus menjaga sikap dan amanah dengan sebaik-baiknya.

“Yang paling menyakitkan itu bukan kata-kata atau perbuatan orang jauh, tapi orang yang dekat dengan kita,” dauh KH. Ismail Al-Ascholy

Artinya, seorang pengasuh akan merasa lebih sakit jika seorang ustadzah—yang merupakan orang terdekat  dalam mendidik—melanggar aturan atau berperilaku kurang baik, dibandingkan jika murid (yang lebih jauh hubungannya) yang melanggar aturan.

Pembekalan ini bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan gerbang awal bagi para santriwati untuk melangkah dengan ilmu, mengabdi dengan keikhlasan, dan menjadi penerus estafet keilmuan para ulama.

 

Author: Yulia Al-Hasany

Editor: Fakhrullah

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.