Seorang tokoh di kampung saya bercerita, bahwa dulu pernah suatu ketika KH. Amin Imron memanggil beberapa orang kiai di kampung tersebut untuk menghadap beliau.
Pasalnya, ada sebuah masalah yang harus diselesaikan, dan beberapa kiai tersebut juga mengajak seorang pemuda yang kelak dia akan menjadi seorang tokoh yang berpengaruh.
Sampai di kediaman KH. Amin Imron, acara pertemuan pun dimulai. Di tengah-tengah acara pertemuan, KH. Amin Imron menanyakan suatu hal, tapi para kiai terdiam tidak ada yang berani menjawab. Tiba-tiba pemuda tersebut memberanikan diri untuk menjawab, karena melihat yang lain pada diam.
KH. Amin Imron tanpa diduga mendekati pemuda tersebut, lalu menamparnya dengan keras, sembari mengatakan, “O mataoh, beeh.” (Sok tau, kamu).
Singkat cerita, selepas acara pertemuan tersebut, si pemuda itu merasa khawatir, hatinya gelisah dan merasa bersalah.
Di tengah-tengah kebingungannya, akhirnya si pemuda itu mendatangi seorang kiai sepuh, untuk menanyakan dan meminta nasihat sekaligus solusi dari masalahnya itu.
Kata kiai sepuh yang ia datangi, “Doh, bhejjreh, beeh, cong, e santap Kiai Amin. Baroka jiah, cong.” (Duh, beruntung, kamu, nak, ditampar Kiai Amin. Itu barokah, nak.)
Meski kurang bisa dimengerti apa maksud perkataan kiai sepuh yang ia datangi, tapi pemuda itu merasa lega dan senang.
Dan pada akhirnya dia menyadari setelah sekarang menjadi seorang tokoh berpengaruh di daerahnya, bahwa mungkin itu yang dimaksud barokah ditampar oleh KH. Amin bin KH. Imron bin Syaichona Moh. Cholil.
Oleh : Shofiyullah el_Adnany
Semoga kita semua mendapatakan barokah KH. Amin bin KH. Imron bin Syaichona Moh. Cholil. Aamiin.









