Perbedaan Rasa Hati Orang Mukmin dan Orang Kafir Saat Menyikapi Dosa yang Diperbuat

oleh -195 Dilihat

Ketika seseorang terjerumus dalam lembah dosa sekecil apapun dosa itu, lalu ia diliputi rasa takut dan cemas yang amat karena dosa yang telah diperbuatnya. Maka orang itu tandanya masih punya keimanan yang kuat di hatinya.

Sebaliknya jika ia sudah tidak punya rasa takut dan cemas bahkan menganggap perbuatan dosa yang diperbuat seperti lalat yang hinggap dihidungnya, itu tandanya keimanan orang tersebut sudah sangat lemah dalam hatinya. Maka waspadalah, jika mati tidak membawa iman. Na’udzubillah min dzalik.

Syaikh al-Hafidz Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al-Marawaziy dalam kitab ar-Raqaiq menjelaskan:

– أَخْبَرَنَا فِطْرٌ ، عن أبي إسْحَاقَ، عَن أبي الأَحْوَصِ، عَنْ عَبدِ اللهِ، قَالَ: إِنَّ المُؤْمِنَ لِيَرَى ذَنْبَهُ كَأَنَّهُ تَحْتَ صَخْرَةٍ يَخَافُ أَنْ تَقَعَ عَليهِ، وَإِنَّ الكَافِرَ ليَرَى ذَنْبَهُ كَأَنَّهُ ذُبَابٌ مَرَّ على أَنْفِهِ (رواه ابن أبي شيبة في المُصنّف ۲۹۲/۱۳، بإسناده إلى فطر بن خليفة به. وأبو إسحاق هو عمرو بن عبد الله السبيعي، وأبو الأحوص هو عوف بن مالك الجسمي وعبد الله هو ابن مسعود)

“Fithar telah mengabarkan kepada kami dari Abi Ishak dari Abi al-Akhwash dari Abdullah ra, beliau berkata: “Sesungguhnya orang beriman memandang dosanya seperti berada di bawah batu besar yang takut menimpanya, dan sesungguhnya orang kafir memandang dosa seperti lalat yang hinggap di hidungnya. (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam kitab al-Mushonnaf: 13/292 melalui jalur Fithor bin Khalifah, Abu Ishak yaitu Amr bin Abdullah as-Sabi’iy, Abu al-Khawwash yaitu ‘Auf bin Malik al-Jasimiy dan Abdullah yaitu Abdullah bin Mas’ud).

أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ، عَنْ سُلَيْمَانَ، عَنِ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيُّ، عَنِ الْحَارِثِ بْنِ سُوَيْدٍ، عَنِ ابنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: إِنَّ المُؤْمِنَ لَيَرى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ جَالِسٌ فِي أَصْلِ جَبَلٍ يَخْشَى أنْ يَنْقَلِبَ عليهِ، وَإِنَّ الفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذَّبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ، فَقَالَ لَهُ هَكَذَا. (رواه أحمد في المسند ۱ / ۳۸۳ ، وأبو نعيم في الحلية ٤ / ۱۲۹ ، بإسنادهما إلى سليمان الأعمش به ورواه البخاري (٥٩٤٩)، والترمذي (٢٤٩٧)، وأبو يعلى في المسند ٣٦/٩ ، بإسنادهم إلى الحارث بن سويد به.)

“Sufyan telah mengabarkan kepada kami dari Sulaiman dari Ibrahim at-Taimiy dari al-Harits bin Suwaidi dari Ibnu Mas’ud ra, beliau berkata: Sesungguhnya orang beriman memandang dosa-dosanya seperti ia duduk di bawah gunung dan takut gunung itu akan jatuh menimpanya. Dan sesungguhnya orang yang fajir (banyak melakukan maksiat) memandang dosa seperti lalat yang hinggap di hidungnya. Ia lalu berkata karenanya begini.” (HR. Ahmad dalam kitab Musnad 1/383, Abu Nu’im dalam kitab al-Hiliyah 4/129 keduanya melalui jalur Sulaiman al-A’masy, al-Bukhariy 5949, at-Tirmidzi 2497, Abi Ya’la dalam kitab Musnad 9/36 semuanya melalui jalur al-Harits bin Suwaidi).

Menurut Syaikh al-Hafidz Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al-Marawaziy yang di maksud kalimat “Seperti lalat” bahwa dosa bagi orang yang kafir dan orang yang banyak melakukan maksiat adalah suatu yang mudah, ia tidak menganggap bahwa dosa tersebut dapat menyebabkan dosa besar yang membahayakannya sebagaimana seekor lalat yang hinggap di hidungnya yang dianggap tidak begitu membahayakan dan mudah disingkirkan.

Penyebab hal itu karena hati orang yang fajir (banyak melakukan maksiat) telah gelap gulita hingga dosa yang diperbuat dianggap ringan dan oleh karena itu jangan heran jika ada orang yang melakukan maksiat, lalu ia diingatkan tidak berdampak kepadanya.

Ibnu Abi Jamrah mengatakan: “Adapun penyebab reaksi orang yang beriman bisa demikian karena hatinya bersinar, maka jika ia melihat ada sesuatu yang bertentangan dengan cahaya hatinya. Ia menganggap hal tersebut suatu yang besar yang menjadi beban hatinya. Sedangkan hikmah dibalik mengumpamakan gunung dalan hadits tersebut adalah karena sesuatu selain gunung dari perkara yang merusak lainnya kadang masih menghindar dan selamat, berbeda dengan gunung jika seseorang kejatuhan gunung dipastikan ia tidak akan selamat.

Kesimpulannya dari semua itu bahwa orang yang beriman hatinya pasti akan merasakan takut dan cemas saat tergelincir dalam perbuatan dosa karena kekuatan iman di hatinya, ia senantiasa teringat akan siksa akibat perbuatan dosa yang dilakukannya. Begitulah keadaan orang yang beriman, ia selalu dihantui rasa takut dan waspada. Amal kebajikan yang diperbuat, di matanya tampak kecil tidak berarti sebaliknya ia selalu merasa takut dari sekecil apapun kejelekan yang pernah diperbuat. (Lihat: Fathu al-Bari 11/105 dan ‘umdatu al-Qari 22/ 280). Waallahu A’lamu.

Penulis: Abdul Adzim

Publisher: Fakhrul

Referensi:

✍️ Syaikh al-Hafidz Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al-Marawaziy| Kitab ar-Raqaiq| Mamlakatu al-Kutub Bahrain, jilid 2, halaman 30-31.

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.