Pekan berikutnya, ketika KH. Ismail Al-Ascholy menjelaskan ayat:
قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنثَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنثَى
Artinya: “(Maryam, ibunda Isa) berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkan seorang anak perempuan.’ Dan Allah lebih mengetahui apa yang ia lahirkan. Dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan.” (QS. Ali Imran: 36)
Beliau menyampaikan bahwa para nabi ketika berdoa kepada Allah tidak menggunakan huruf nida.
الأنبياء والصالحون في القرآن إذا نادوا الله تعالى إنما قالوا: (رب)، وحذفوا آلة النداء لشعورهم بقرب الله منهم
Artinya: “Para nabi dan orang-orang saleh dalam Al-Qur’an ketika memanggil Allah, mereka hanya mengatakan ‘Rabb’ (Wahai Tuhan ku) dan tidak menggunakan huruf nida karena mereka merasa Allah sangat dekat dengan mereka.”
Seperti dalam ayat:
رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي
Artinya: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada-Mu apa yang ada dalam kandunganku.” (QS. Ali Imran: 35)
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201)
رَبَّنَا آتِنَا مِن لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
Artinya: “(Wahai Tuhan kami), berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan mudahkanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.” (QS. Al-Kahf: 10)
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي، رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
Artinya: “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap mendirikan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40)
Namun, setan juga memanggil Allah dengan cara demikian, seperti dalam ayat:
قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
Artinya: “(Iblis) berkata, ‘Ya Tuhanku, oleh karena Engkau telah menyesatkan aku, sungguh aku akan menghiasi (kejahatan) bagi mereka di bumi dan aku akan menyesatkan mereka semuanya.’” (QS. Al-Hijr: 39)
Menurut KH. Ismail, setan mengatakan rabbi tanpa huruf nida karena ia merasa dekat dengan Allah SWT, berbeda dengan para nabi yang melakukannya karena Allah-lah yang dekat dengan mereka.
Namun, dalam Al-Qur’an ada satu nabi yang memanggil Allah dengan huruf nida, yaitu Nabi Muhammad saw, sebagaimana ayat:
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
Artinya: “Dan Rasul berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang tidak diacuhkan.’” (QS. Al-Furqan: 30)
Menurut para ulama, dalam ayat ini, Nabi Muhammad saw. ketika melihat umatnya tidak membaca Al-Qur’an, beliau merasa gagal menjalankan misi dari Allah Swt. Sebagaimana orang yang gagal melaksanakan amanah, ia akan merasa takut ketika harus melapor kepada atasannya.
Jika Nabi melihat umatnya tidak membaca Al-Qur’an, hal itu membuat beliau sedih. Dan orang yang membuat Nabi terluka termasuk dalam firman Allah:
إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah melaknat mereka di dunia dan di akhirat dan menyediakan bagi mereka azab yang menghinakan.” (QS. Al-Ahzab: 57)
Maka hendaknya membaca dan mempelajari Al-Qur’an agar diberi ilmu yang luas oleh Allah Swt, bahkan bukan hanya ilmu, akan tetapi juga kemuliaan. Seperti dawuh Imam Syafi’i:
مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ عَظُمَتْ قِيمَتُهُ، وَمَنْ تَعَلَّمَ الْحَدِيثَ قَوِيَتْ حُجَّتُهُ، وَمَنْ تَعَلَّمَ الْفِقْهَ نَبُلَ رَأْيُهُ، وَمَنْ تَعَلَّمَ اللُّغَةَ رَقَّ طَبْعُهُ
Artinya: “Barangsiapa mempelajari Al-Qur’an, maka nilainya akan tinggi. Barangsiapa mempelajari hadis, maka hujjahnya akan kuat. Barangsiapa mempelajari fikih, maka pendapatnya menjadi unik. Dan barangsiapa mempelajari bahasa Arab, maka akhlaknya menjadi lembut.”
وقال: المحرر: رجل عالم، وهو من كان قلبه حرا من علاقات الدنيا
Artinya: “KH. Maimun Zubair berkata, ‘Al-Muharrar (dalam surah ‘Ali Imran ayat 35) adalah seorang yang alim, yaitu orang yang hatinya bebas dari ikatan-ikatan dunia.'”
وقال: إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ : ربنا سبحانه ذكر قولها وأنها هي التي قالت داعية إليه تعالى تنبيها لنا أن المهمة في صلاح الولد دعاء الأم له
Artinya: “KH. Maimun Zubair berkata: ‘(pada ayat yang bermakna) Ketika istri Imran berkata….’ Allah Swt. menyebutkan ucapannya (Maryam) -yang mana, dialah yang berdoa kepada-Nya- Hal itu menjadi peringatan bagi kita bahwa faktor terpenting dalam kebaikan seorang anak adalah doa seorang ibu.”
Di sini Allah menyebut istri Imran yang berdoa, karena untuk mengingatkan kita bahwa yang memengaruhi keshalehan anak adalah doa seorang ibu. Maka, hendaknya mencari istri yang salehah dan rajin salat, agar memiliki anak yang shaleh-shaleha.
وقال: الإيمان يمان والحكمة يمانية : أي كل بلاد العرب كان قد حدثت فيه غزوة تشكك الإيمان ولا يقع ذلك في اليمن
Artinya: “KH. Maimun Zubair berkata, ‘Iman itu Yamani dan hikmah itu (juga) Yamani.’ Artinya: di seluruh negeri Arab pernah terjadi peperangan yang dapat mengguncang keimanan, namun hal itu tidak terjadi di Yaman.’”
Maknanya, standar keimanan adalah keimanan orang Yaman, demikian pula standar ilmu hikmah. Dan Yaman termasuk negeri yang didoakan Nabi:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وبَارِكْ لَنَا فِي يَمَنِنَا
Artinya: “Ya Allah, berkahilah Syam dan Yaman kami.”
Akhirnya, berkat doa Nabi, hingga kini Yaman menjadi standar keimanan.
Karena setiap kebaikan memiliki konsekuensi, maka setiap negeri yang didoakan kebaikan oleh nabi mengalami peperangan. Orang yang baik pasti ujiannya juga besar.
وقال: حكي : أن موسى السلام كان في صغره يلطم وجه فرعون فحينئذ أسرت آسية امرأة فرعون في سرها أن : لو كان في صغره يستطيع أن يؤلم فرعون فكيف بكبره
Artinya: “Dikisahkan bahwa ketika masih kecil, Nabi Musa pernah menampar wajah Fir’aun. Maka Asiyah (istri Fir’aun) berkata dalam hatinya, ‘Jika saat kecil saja ia bisa menyakiti Fir’aun, bagaimana nanti ketika ia dewasa?’”
Author: Fakhrullah







