Peringatan Bagi Penceramah yang Melucus

oleh -79 Dilihat

Sudah menjadi kegemaran masyarakat, mencari muballigh atau seorang dai yang pandai melucu untuk dijadikan sebagai pengisi ceramah agama dalam sebuah acara.

Oleh karena ceramah atau pidato yang tidak diselingi dengan bahasa-bahasa jenaka atau cerita anekdot yang mengundang tawa, membuat ceramahnya jadi monoton dan membosankan untuk didengar.

Padahal ketika kita senang melawak, Rasulullah ﷺ memberi peringatan dalam sabdanya :

إن الرجل ليتكلم بالكلمة يضحك بها جلساءه يهوى بها أبعد من الثريا

“Seorang laki-laki mengatakan suatu kalimat yang dengannya ia ingin menjadi bahan tertawaan orang-orang di sekelilingnya, maka ia akan masuk ke dalam neraka sejauh bintang-bintang di langit.” (HR. Ahmad)

Menurut al-Hafidz Ibnu Jauzi, hadits tersebut masih ihtimal. Ada kemungkinan orang yang dimaksud dalam hadits itu berkata atau bercerita bohong, karena ada hadits lain sebagai tafsiran dari hadits di atas yang berbunyi :

ويل للذي يحدث الناس فيكذب ليحضك الناس

“Celaka bagi siapa yang berbicara dan berbohong, hanya agar manusia tertawa.”

Masih menurut Ibnu Jauzi, boleh hukumnya bagi seseorang melucu agar orang lain tertawa, asal tidak berbohong, tidak berlebihan dan tidak menjadi kebiasaan. Sebagaimana hadits dari Sayidina Umar radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata :

لأكلمن رسول الله لعله يضحك، قال : قلت : لو رأيت أبنة زيد أمرأة عمر سألتنى النفقة فوجأت عنقها، فضحك رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Aku akan bicara kepada Rasulullah dengan kalimat yang dapat membuatnya tertawa. Aku katakan kepadanya, ‘Ya Rasulullah, kalau kau lihat anak perempuan Zaid–istri Umar–meminta nafkah kepadaku, akan kupukul lehernya.’ Rasulullah ﷺ tertawa mendengarnya.”

Akan tetapi makruh bagi seseorang membiasakan diri dengan selalu melucu di depan orang-orang, karena banyak tertawa dapat mematikan hati sebagaimana dijelaskan dalam hadits. Kalau hanya kadang-kadang, maka boleh, sebab tertawa yang tidak berlebihan bukan dianggap hina. Karena Rasulullah pun pernah tertawa, hingga terlihat gigi gerahamnya.

Wallahu A’lam

Referensi : Akhbarul Hamqa wal Mughaffalin | al-Hafidz Ibnu Jauzi | Halaman 19

Oleh : Shofiyullah El-Adnany

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.