Perbedaan Arti Kata Mayyitun dan Kata Maytun dalam al-Quran

oleh -261 Dilihat

Dalam al-Qur’an untuk mengungkapkan terjemah kata mati biasanya menggunakan kata ّمَيْت semisal dalam Ayat:

(أَوَمَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ)

Artinya: “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan.. (Al-An’am:122).

Dan kata ميِّتً seperti dalam Ayat:

(إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ)

Artinya: “Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula). QS. Az-Zumar: 30).

Dua kata yang hurufnya sama namun beda harkat. Kedua kata tersebut merupakan bentuk isim fa’il (kata benda pelaku) dari kata kerja “māta, yamutu” ( ُمَاتَ يَمُوْت ) yang berarti “mati”. Tetapi dalam rumus bahasa Arab, perubahan harakat (tanda baca yang menentukan pelafalan huruf) pada suatu kata dapat mengubah artinya secara signifikan.

Lalu, apakah kedua kata tersebut memiliki arti yang sama, atau malah berbeda? Berikut komentar para ulama saat menjelaskan dua kata tersebut:

قال الفراء والكسائي : الميت بالتشديد من لم يمت وسيموت والميت بالتخفيف من قد مات وفارقته الروح قال الخليل : أنشد أبو عمرو

وتسألني تفسير ميت وميت # فدونك قد فسرت إن كنت تعقل

فمن كان ذا روح فذلك ميت # وما الميت إلا من إلى القبر يحمل

Al-Farra’ dan al-Kasa’i mengatakan: “Kata “mayyitu” dengan dibaca tasydid huruf Ya’nya adalah orang yang belum meninggal dunia dan akan meninggal dunia, sedangkan kata “maytu” dengan tanpa tasydid pada huruf Ya’nya adalah orang yang telah meninggal dunia dan nyawa telah terpisah.

Imam Kholil berkata: “Abu Amr telah menembangkan:

“Engkau telah bertanya kepadaku tentang tafsiran (arti) kata mayyitu dan maytu
Maka perhatikanlah apa yang aku jelaskan, apabila kamu berakal”.

“Orang yang memiliki nyawa, maka ia disebut mayt
Dan tidaklah orang disebut mayyit kecuali ia telah dibawa ke kuburan.”

وقال: أبو العباس : لا فرق بينهما عند البصريين ، وأنشد

ليس من مات فاستراح بميت # إنما الميت ميت الأحياء
إنما الميت من يعيش ذليلاً # كاسفاً باله قليل الرجاء

Abu al-Abbas berkata: “menurut ulama Bashrah kedua kata tersebut tidak perbedaan dalam maknanya dan beliau menembangkan:

“Tidaklah orang yang mati telah beristirahat dengan kematiannya
Hanya saja orang mati, mati dari kehidupan (dunia)nya

Adapun yang disebut orang mati adalah orang yang hidup hina, putus asa jiwanya dan tidak punya harapan hidup. Wallahu A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

✍️ Abu ath-Thayyib Shiddiq bin Hasan bin Ali al-Husainiy al-Qunijiy al-Bukhari yang| Fathu al-Bayan fi Maqashidi al-Qur’an| Daru al-Kutub al-Ilmiyah, juz 6, halaman 73

✍️ Abu al-Qasim Ismail bin Muhammad bin al-Fadhal al-Qursyiy al-Ashbahaniy| I’rabu al-Qur’an| Non percetakan, halaman 76.

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.