Pentingnya Kehati-hatian Dalam Mengetahui Masuknya Ibadah Puasa

oleh -267 Dilihat

 

Di era yang serba canggih ini, meski sudah banyak aplikasi digital falak yang mudah didownload dan diakses dengan menu yang serba lengkap seperti kalender, jadwal masuknya waktu sholat, tarhim plus suara adzan, jadwal puasa mulia sahur, imsak hingga berbuka dan lainnya. Kita tetap dianjurkan untuk ekstra hati khusunya di bulan puasa Ramadhan dalam mengetahui waktu. Mengingat orang yang ahli falak (astronomi) sudah jarang dijumpai, aplikasi kadang eror atau jarang diup-dete secara berkala hingga tidak jarang kita dijumpai mendengar suara adzan berkumandang sebelum masuk waktu Magrib atau adzan Subuh yang kadaluarsa yang berakibat pada sah dan tidaknya puasa.

Jauh-jauh hari para ulama kita telah mengingatkan hal ini dalam karya mereka dengan menampilkan contoh anomali permasalah yang terjadi semisal:

ولو أكل باجتهاد أولا وآخرا فبان أنه أكل نهارا بطل صومه إذ لا عبرة بالظن البين خطؤه فإن لم يبن شئ: صح

“Jika seseorang berbuka karena ijtihad (dugaan) baik di awal maupun di akhir, lalu ternyata ia berbuka di siang hari, maka puasanya batal. Sebab, dugaan yang jelas-jelas salah tidak bisa dijadikan pegangan. Namun, jika tidak ada kepastian apakah benar atau salah, puasanya tetap sah.” (Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibariy, Fathu al-Mu’in bi Syarhi Qarrati al-Ain bi Muhimmati ad-din, Daru al-Kutub al-Ilmiyah, halaman 90-9).

والرابع من الشروط معرفة طرفي النهار يقينا أو ظنا لتحقق إمساك جميع النهار

تنبيه: انفرد المصنف بهذا الرابع وكأنه أخذه من قولهم: لو نوى بعد الفجر لم يصح صومه، أو أكل معتقدا أنه ليل وكان قد طلع الفجر لم يصح أيضا، وكذا لو أكل معتقدا أن الليل دخل فبان خلافه لزمه القضاء

وحاصل ذلك أنه إذا أفطر أو تسحر بلا تحر ولم يبن الحال صح في تسحره لا في إفطاره لأن الأصل بقاء الليل في الأولى والنهار في الثانية ، فإن بان الصواب فيهما صح صومهما أو الغلط فيهما لم يصح ، ولو طلع الفجر وفي فمه طعام فلم يبلع شيئا منه بأن طرحه أو أمسكه بفيه صح صومه ، أو كان طلوع الفجر مجامعا فنزع حالا صح صومه ، وإن أنزل لتولده من مباشرة مباحة

“Dan yang keempat dari syarat-syarat (puasa) adalah mengetahui penghujung siang secara yakin atau sangkaan kuat agar imsak (mencegah makan dan minum) dalam keseluruhan siang menjadi nyata.

(Peringatan): Penulis sengaja mengfokuskan pada syarat keempat ini sepertinya beliau (ingin mempertegas) apa yang telah dikutip dari para ulama, yaitu: “Bisa seseorang (yang berpuasa) niat setelah fajar, maka puasanya tidak sah atau ia makan berkeyakinan bahwa malam masih tersisa tapi ternyata fajar telah terbit, maka puasa juga tidak sah. Begitu juga jika ia makan berkeyakinan bahwa waktu malam telah masuk, lalu ternyata sebaliknya, maka ia wajib mengodhai puasanya.

Kesimpulannya, bila seseorang berbuka puasa atau sahur tanpa menyelidiki (waktu) atau tidak tahu keadaan waktu yang sesungguhnya. Maka dalam sahurnya sah tidak dalam berbukanya kerena yang asal tetapnya waktu malam dalam kasus yang pertama dan tetapnya waktu siang pada kasus yang kedua. Jika ternyata waktu tersebut benar (sesuai kenyataan) dalam dua kasus di atas, maka sah puasa kedua kasus itu. Jika ternyata keliru, maka puasa kedua kasus tersebut tidak sah. Jika saat terbit fajar dan mulutnya masih ada makanan (tidak ditelan) dengan cara dibuang atau ditahan di mulutnya, puasanya sah atau pada saat terbit fajar sedang berhubungan suami istri lalu dengan seketika sang suami menyudahi (mencabut)nya, maka puasanya juga dihukumi sah meski keluar sperma karena hal tersebut lahir dari spontanitas yang diperbolehkan.” (Syaikh Muhammad bin Ahmad al-Khatib asy-Syarbiniy, Al-Iqna’ fi Halli Alfadz Abi Syuja’, Daru al-Kutub al-Ilmiyah, juz 1, halaman 472).

و الرابع على من افطر ظانا الغروب فبان خلافه ايضا كما يقع الان كثيرا بسبب جهل الميقاتية قاله الشرقاوى

“Yang keempat adalah orang yang berbuka karena menyangka matahari sudah terbenam, lalu ternyata keliru. Hal ini banyak terjadi saat ini karena ketidaktahuan tentang batas waktu yang benar.” (Syaikh Muhammad bin Umar Nawawi al-Jawi, Kasyifatu asy-Saja fi Syarhi Safinatu an-Naja, Daru al-Kutub al-Ilmiyah, halaman 250).

Di halaman sebelumnya dalam kitab yang sama Syaikh Muhammad bin Umar Nawawi al-Jawi al-Bantaniy mengingatkan:

ثم اعلم أن مراتب معرفة دخول الوقت ثلاثة، الأولى: العلم بنفسه أو بأخبار الثقة عن معاينة أو برؤية المزاول الصحيحة والمناكب الصحيحة والساعات المجرية وبيت الإبرة لعارف به وفي معناه أذان المؤذن العارف في الصحو. الثانية: الاجتهاد بورد من قرآن أو درس أو مطالعة علم أو نحو ذلك كخياطة وصوت ديك أو نحوه كحمار مجرب، ومعنى الاجتهاد بذلك أن يتأمل فيه كأن يتأمل في الخياطة هل أسرع فيها أو لا؟ وفي أذان الديك هل هو قبل عادته أو لا؟ وهكذا، ولا يجوز أن يصلي مستنداً لديكٍ من غير اجتهاد فيه. الثالثة: تقليد ثقة عارف عن اجتهاد فلا يقلد إذا قدر على الاجتهاد هذا في حق البصير، وأما الأعمى فله تقليد المجتهد ولو مع القدرة على الاجتهاد لأن شأنه العجز عنه

“Kemudian ketahuilah, bahwa tingkatan mengetahui masuknya waktu ada tiga: “Pertama, dengan pengetahuan sendiri, informasi yang bisa dipercaya dan nyata, dengan melihat Mazawil (jam yang berdasarkan bayangan sinar matahari) yang akurat, peredaran bintang-bintang, alat-alat lain yang sah yang berfungsi untuk mengetahui waktu atau jam-jam berlaku di masanya, atau kompas waktu bagi orang memahaminya. Termasuk tingkatan ini adalah berpedoman pada adzan muadzin yang tahu masuknya pada saat cuaca cerah.

Kedua, dengan cara ijtihad melalui aktivitas membaca al-Quran, belajar, mengkaji ilmu atau lainnya semisal menjahit, suara ayam jago, atau yang lain seperti suara Himar yang teruji. Adapun pengertian ijtihad melalui perkara-perkara tersebut adalah berangan-angan (memprediksi) pada saat melakukan salah satu perkara tersebut, misalnya; dalam hal menjahit, ia berangan-angan apakah masuknya waktu sholat itu ketika aku selesai menjahit dengan ayunan jahitan yang cepat atau pelan, atau dalam hal suara ayam jago, apakah masuknya waktu sholat itu biasanya sebelum ayam berkokok atau tidak dan seterusnya. Tidak diperbolehkan bagi orang yang melaksanakan sholat dengan cara berpedoman pada suara ayam tanpa melakukan ijtihad terlebih dahulu.

Ketiga, dengan bertaqlid (ikut) kepada orang lain yang dipercaya bisa mengetahui masuknya waktu dengan cara ijtihad. Oleh karena itu, orang yang sholat tidak boleh bertaqlid (ikut) kepada orang lain ketika ia mampu melakukan ijtihad sendiri dengan catatan apabila ia adalah orang yang tidak buta, tetapi apabila ia tergolong orang yang buta, maka ia boleh bertaqlid kepada orang lain, meskipun ia yang buta tersebut mampu berijtihad, karena ia dihukumi sebagai orang yang tidak mampu melakukan ijtihad. (Syaikh Muhammad bin Umar Nawawi al-Jawi, Kasyifatu asy-Saja fi Syarhi Safinatu an-Naja, Daru al-Kutub al-Ilmiyah, halaman 105).

Waallahu A’lamu.

Penulis: Abdul Adzim

Publisher: Fakhrul

Referensi:

✍️ Syaikh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibariy, Fathu al-Mu’in bi Syarhi Qarrati al-Ain bi Muhimmati ad-din, Daru al-Kutub al-Ilmiyah, halaman 90-91.

✍️ Syaikh Muhammad bin Ahmad al-Khatib asy-Syarbiniy, Al-Iqna’ fi Halli Alfadz Abi Syuja’, Daru al-Kutub al-Ilmiyah, juz 1, halaman 472.

✍️ Syaikh Muhammad bin Umar Nawawi al-Jawi, Kasyifatu asy-Saja fi Syarhi Safinatu an-Naja, Daru al-Kutub al-Ilmiyah, halaman 105, 250.

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.