Pengaruh Deklinasi Terhadap Cuaca

oleh -86 Dilihat

Dalam ilmu falak atau astronomi, terdapat istilah mā’il asy-syamsi atau deklinasi matahari. Secara kasat mata, kita dapat menyaksikan bahwa posisi matahari tampak bergeser—kadang condong ke utara, kadang ke selatan, dan sesekali tepat berada di atas kepala kita (zenit). Pergeseran inilah yang disebut deklinasi, dan ia terjadi karena bumi berputar mengelilingi matahari (revolusi), sementara sumbu bumi miring sekitar 23,5° terhadap bidang orbitnya (ekliptika).

Dampak deklinasi ini tidak kecil. Ia menjadi penyebab utama terjadinya pergantian musim—musim panas, dingin, semi, dan gugur—di berbagai belahan bumi. Nilai deklinasi berubah dari hari ke hari sepanjang tahun, dengan titik-titik penting sebagai berikut:

Sekitar 21 Maret: matahari tepat di atas garis khatulistiwa.
Sekitar 21 Juni: matahari mencapai titik paling utara (+23,5° dari khatulistiwa).
Sekitar 23 September: matahari kembali ke posisi tepat di atas khatulistiwa.
Sekitar 21 Desember: matahari mencapai titik paling selatan (-23,5° dari khatulistiwa).

Pergeseran ini tidak hanya berdampak pada panjang siang dan malam, tetapi juga turut memengaruhi pola angin global. Secara ringkas, rantai pengaruhnya seperti ini:

  1. Deklinasi matahari → menyebabkan matahari bergeser ke utara dan selatan sepanjang tahun.
  2. Pergeseran posisi matahari → memicu perbedaan intensitas penyinaran di berbagai wilayah bumi.
  3. Daratan lebih cepat menyerap dan melepas panas dibanding lautan.
  4. Akibatnya, terjadi perbedaan tekanan udara antara daratan dan lautan.
  5. Perbedaan tekanan udara inilah yang menggerakkan angin dalam skala besar → dikenal sebagai angin muson (monsun).

Kita dapat merasakan dampak nyata dari siklus ini. Misalnya, di wilayah Bangkalan dan sekitarnya yang terletak sekitar 7° di selatan khatulistiwa, udara terasa lebih sejuk pada bulan Juni–Juli. Ini karena matahari berada di belahan utara (sekitar 23,5° LU), jauh dari wilayah kita, sehingga intensitas penyinaran berkurang. Ditambah lagi, angin muson timur yang bertiup dari Australia—yang sedang musim dingin—membawa udara sejuk ke arah kita.

Sebaliknya, pada sekitar bulan Oktober, udara terasa sangat panas. Ini karena deklinasi matahari berada di sekitar 7° LS—tepat di atas wilayah kita—sehingga penyinaran berlangsung secara langsung dan intens.

Selain deklinasi, ada pula fenomena tahunan bernama aphelion (saat bumi berada di titik terjauh dari matahari) dan perihelion (saat bumi berada di titik terdekat). Hal ini terjadi karena orbit bumi berbentuk elips, bukan lingkaran sempurna. Namun, perbedaan jarak ini tidak terlalu berdampak pada suhu cuaca. Bahkan saat aphelion, meski bumi lebih jauh dari matahari, belahan bumi utara justru mengalami musim panas—karena saat itu matahari sedang berada di deklinasi utara.

Kesimpulannya, suhu panas atau dingin yang kita rasakan bukan ditentukan oleh jarak bumi ke matahari, melainkan lebih banyak dipengaruhi oleh kemiringan sumbu bumi dan posisi deklinasi matahari sepanjang tahun.

Penulis: Ust. Moh Tuba, Ketua LF PCNU Bangkalan

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.