Keutamaan Puasa Hari Asyura’ dan Kisah Inspiratifnya

oleh -34 Dilihat

Bicara kemuliaan hari Asyura’ dengan beberapa keutamaannya, setidaknya ada sepuluh keutamaan yang di anjurkan ulama di dalamnya.

Syaikh Syaikh Sulaiman bin Mansur al-‘Ujaili al-Mishri asy-Syafi’i dalam Hasyiyah al-Jamal ala Syahri al-Minhaj dan Syaikh Muhammad Habibullah bin Abdullah Al-Syanqithi al-Maliki dalam Zada al-Muslim fima Ittafaqa alaihi al-Bukhari wa al-Muslim mengatakan:

 قال الحطاب وقد ذكروا فيما يفعل يوم عاشوراء اثنتى عشرة خصلة وهي : الصلاة والصوم والصدقة والاغتسال والاكتحال وزيارة عالم وعيادة المريض ومسح رأس اليتيم والتوسعة على العيال وتقليم الأظافر وقراءة سورة الاخلاص ألف مرة وصلة  الرحم وقد نظمها بعضهم فقال

في يوم عاشوراء عشر يتصل • بها اثنتــــــــــــــــان فلها فضل نقل

صم صل زر عالماً عد واكتحل • رأس اليتيم إمسح تصدق واغتسل

وســــع على العيال قلم ظفرا • وســـــــورة الإخلاص قل ألفاً تصل

“Al-Haththab berkata: “Sungguh para ulama telah menuturkan tentang keutamaan yang dianjurkan di hari Asyura’ sebanyak 12 amalan, yaitu: Sholat, Puasa, Sedekah, Mandi, Memakai Celak Mata, Berkunjung Kepada Orang Alim Ulama, Menjenguk Orang Sakit, Mengusap Kepala Anak Yatim, Membahagiakan Keluarga, Memotong Kuku, Membaca Surat al-Ikhlas sebanyak 1000 kali dan Silaturrahim.” Dan sebagian ulama telah merangkumnya dalam beberapa bait berikut:

Dalam hari Asyura’ ada 10 amalan yang diteruskan • dengan 2 amalan yang memiliki keutamaan yang telah dikutip.

Puasalah, Silaturrahim, berkunjung pada alim ulama, menjenguk orang sakit dan bercelak • mengusap kepala anak yatim, bersedekah dan mandi.

Membahagiakan keluarga, memotong kuku • dan surat al-Ikhalas bacalah sebanyak 1000 kali secara.

Sementara Syaikh al-Husain bin Yahya az-Zindawistiy al-Hanafiy dalam Raudhatu al-Ulama’ wa Nazhati al-Fudhala’ menambahkan beberapa kisah inspiratif berkaitan dengan keutamaan hari Asyura’ di antaranya:

عن الفضيل بن عياض الله قال : كان رجلاً مغنيا يتخذ الضيافة في كل يوم عاشوراء ويدعو ضعفاء بلده إلى ضيافته، فلما توفي رأيته في المنام فقلت : يا فلان ما فعل الله بك ؟ قال : غفر لي . قلت : بماذا ؟ قال : بضيافتي كل يوم عاشوراء

قال الفضيل : فما تركت الضيافة بعد ذلك يوم عاشوراء حتى عامي هذا

“Dari al-Fudhail bin ‘iyadhillah, beliau mengisahkan: “Ada seorang pria yang kaya raya, saat tiba hari Asyura’ ia selalu menyedikan hidangan untuk para tamu yang datang dan mengundang orang-orang yang tidak mampu di negerinya untuk makan hidangan yang disediakannya. Tatkala pria kaya itu meninggal dunia, ia datang dalam mimpi al-Fudhail bin ‘iyadhillah. Dalam mimpi itu al-Fudhail bertanya kepada pria itu: “Wahai Kisanak, apa yang dilakukan Allah ﷻ kepadamu? Pria kaya itu menjawab: “Allah ﷻ telah mengampuni dosaku. Lantas al-Fudhail bertanya lagi: “Dengan apa Allah ﷻ mengampuni dosamu?” Pria kaya itu menjawab: ” Dengan menyuguhkan makanan di setiap hari Asyura’.”

” Setelah mimpi itu, aku tidak pernah meninggalkan menyedikan makanan di hari Asyura’ hingga tahun ini.” Kata al-Fudhail.

قال : سمعت أن أسيرا هرب من الكفار يوم عاشوراء، فركبوا في طلبه، فلما رأى الفارسين خلفه وعلم أنه مأخوذ فرفع يديه إلى السماء وقال : اللهم بحق هذا اليوم المبارك أسألك أن تنجيني منهم قال : فأعمى الله أبصارهم جميعاً حتى نجي منهم، وبقي الأسير صائما تعظيما لهذا اليوم شكرا لما وجد من الكرامة، فلما أمسى ما وجد شيئا يفطر به فنام وهو صائم، فأطعم وسقي في المنام، فعاش بعد ذلك عشرين سنة لم يكن له حاجة في الطعام والشراب ببركة هذا اليوم

“Al-Fudhail bin ‘iyadhillah berkata: “Aku pernah mendengar sebuah kisah: Bahwa ada seorang tawanan muslim yang lari dari orang-orang kafir di hari Asyura’. Lalu mereka mengejarnya. Ketika tawanan tersebut melihat ada dua orang yang menunggang kuda mengejar di belakangnya. Tawanan itu menengadahkan kedua tangannya ke langit sembari berdoa: Ya Allah, dengan kemuliaan hari yang barokah ini. Aku memohon kepada-Mu selamatkan aku dari mereka.”

Al-Fudhail melanjutkan kisahnya: “setelah tawanan itu berdoa, Allah ﷻ membutakan penglihatan mereka semua hingga akhirnya tawan muslim itu bisa selamat.”

Pasca kejadian itu, tawanan tersebut tetap berpuasa sebagai bentuk pengagungan ada hari ini (hari Asyura’) dan bersyukur terhadap kekeramatan yang diperoleh. Saat sore hari, ketika tiba waktunya berbuka tawanan itu tidak menemukan makanan untuk dibuat berbuka puasa. Tawanan itu akhirnya memutuskan tidur dengan perut yang kelaparan dan dalam tidurnya ia bermimpi telah makan dan minum. Setelah terbangun ia bisa hidup selama 20 tahun tanpa membutuhkan makan dan minum berkah puasa di hari Asyura’. Waallahu A’lamu

Penulis: Abdul Adzim

Referensi:

✍🏻 Syaikh Muhammad Habibullah bin Abdullah Al-Syanqithi al-Maliki| Zada al-Muslim fima Ittafaqa alaihi al-Bukhari wa al-Muslim| Daru Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyah, juz 4, halaman 491.

✍🏻 Hasyiyah al-Jamal ala Syahri al-Minhaj| Syaikh Sulaiman bin Mansur al-‘Ujaili al-Mishri asy-Syafi’i| Daru al-Kutub al-Ilmiyah, juz 3, halaman 465.

✍🏻Syaikh al-Husain bin Yahya az-Zindawistiy al-Hanafiy| Raudhatu al-Ulama’ wa Nazhati al-Fudhala’| Daru al-Kutub al-Ilmiyah, halaman 353.

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.