Keluasan Ilmu dan Ketajaman Isyarat Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan

oleh -540 Dilihat

Siapa yang tidak mengenal Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan? Nama beliau hampir selalu disebut ketika membicarakan sejarah ulama Nusantara. Hal ini tidak mengherankan, sebab sebagian besar ulama Nusantara memiliki hubungan keilmuan dengan beliau, baik sebagai murid secara langsung maupun melalui perantara guru.

Selain dikenal karena kekeramatan dan kewaliannya, Syaikhona Kholil juga masyhur karena keluasan ilmu serta kecerdasan intelektualnya. Banyak kisah yang menggambarkan kedalaman wawasan beliau, bahkan dalam perkara yang tampak sederhana sekalipun.

Salah satu kisah yang sering diceritakan adalah ketika beliau ditanya mengenai hukum makan menggunakan sendok. Pada masa itu, penggunaan sendok masih dianggap sesuatu yang asing oleh sebagian masyarakat. Menanggapi pertanyaan tersebut, Syaikhona Kholil justru menjawab dengan mengutip salah satu bait dari Alfiyah Ibnu Malik:

وَفِي اخْتِيَارٍ لَا يَجِيءُ الْمُنْفَصِلْ
إِذَا تَأَتَّى أَنْ يَجِيءَ الْمُتَّصِلْ

Secara bahasa, bait tersebut menjelaskan bahwa sesuatu yang terpisah (munfaṣil) tidak dipilih apabila masih memungkinkan menggunakan sesuatu yang bersambung (muttaṣil).

Melalui isyarat halus ini, Syaikhona Kholil menjelaskan bahwa yang dimaksud muttaṣil dalam konteks tersebut adalah makan dengan tangan yang langsung bersambung dengan badan. Adapun munfaṣil diibaratkan sebagai alat yang terpisah dari badan, seperti sendok.

Dalam kesempatan lain, diceritakan bahwa suatu hari ada rombongan masyarakat yang hendak sowan kepada Syaikhona Kholil. Sebagaimana kebiasaan masyarakat Madura ketika mengunjungi seorang kiai atau ulama, mereka datang sambil membawa hadiah atau sejumlah uang sebagai bentuk bisyārah atau tanda penghormatan.

Satu per satu dari mereka maju untuk bersalaman dengan beliau sambil menyerahkan uang yang dibawa. Namun, di antara rombongan itu terdapat seorang lelaki fakir yang tidak membawa apa pun. Keadaan tersebut membuatnya merasa malu dan ragu untuk maju menghadap Syaikhona Kholil.

Akan tetapi, ketika akhirnya ia memberanikan diri untuk maju dan mencium tangan beliau, Syaikhona Kholil justru tersenyum. Beliau kemudian melantunkan salah satu bait dari Alfiyah Ibnu Malik:

وَالْمُفْرَدُ الْجَامِدُ فَارِغٌ، وَإِنْ
يُشْتَقُّ فَهُوَ ذُو ضَمِيرٍ مُسْتَكِنٍّ

Melalui isyarat dalam bait tersebut, Syaikhona Kholil seakan menjelaskan bahwa di antara rombongan itu memang ada seseorang yang tampak kosong secara lahiriah karena tidak membawa apa-apa. Namun, jika dibuka isi hatinya, akan terlihat bahwa di dalam dirinya tersimpan hati yang penuh dengan ta‘ẓīm, kerendahan hati, dan keikhlasan.

Orang tersebut tidak memiliki rasa ujub maupun kesombongan. Justru hatinya dipenuhi adab dan penghormatan yang tulus kepada seorang guru.

Kisah ini memberikan pelajaran berharga bahwa nilai seseorang di hadapan para ulama tidak ditentukan oleh apa yang dibawanya di tangan, melainkan oleh apa yang tersimpan di dalam hatinya.

Bahkan bukan hanya itu. Dalam sebuah riwayat yang diceritakan oleh salah satu cicit beliau, yaitu KH. Muhammad Kholil bin Yasin Kepang Bangkalan, dikisahkan bahwa KH. Hasyim Asy’ari setelah selesai menimba ilmu di berbagai pesantren di Jawa kemudian melanjutkan rihlah ilmiahnya ke Madura untuk berguru kepada Syaikhona Kholil.

KH. Hasyim Asy’ari memiliki banyak isykāl (permasalahan keilmuan) dalam berbagai fan ilmu. Ketika beliau mengalami isykāl dalam masalah hadis lalu menanyakannya kepada Syaikhona Kholil, maka Syaikhona Kholil menjawabnya dengan bait-bait Alfiyah. Bahkan bukan hanya dalam fan tersebut, melainkan juga dalam fan fikih, tasawuf, tauhid, mantiq, dan berbagai disiplin ilmu lainnya.

Hal ini menunjukkan betapa luasnya penguasaan ilmu Syaikhona Kholil, sehingga beliau mampu mengaitkan berbagai persoalan keilmuan dengan kaidah-kaidah yang terkandung dalam bait-bait Alfiyah. Tidak mengherankan jika kemudian beliau dikenal sebagai salah satu ulama besar yang menjadi poros keilmuan bagi banyak ulama Nusantara.

Author: Fakhrullah
Referensi: Majadzib at-Tafānī fī Manāqib Syaikhinā Muhammad Kholil al-Bangkalānī karya KH. Muhammad Ismail Al-Ascholy

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.