Mendengar keluh kesah sang putra, Asma’ – mengalahkan rasa ibanya, demi menjaga harga diri – menjawab dengan tegas, “Demi Allahu, anakku, engkau lebih tahu tentang dirimu. Jika menurutmu engkau berada di jalan yang benar, teruskan langkahmu. Sahabat-sahabatmu pun telah banyak yang terbunuh karena mempertahankan kebenaran itu.”
Lanjut Asma’ lagi, “Janganlah sekali-kali engkau mau dipermainkan budak-budak Bani Umayyah. Jika engkau menginginkan dunia, engkau adalah seburuk-buruk hamba yang mencelakakan dirimu sendiri dan orang-orang yang berjihad bersamamu.”
Abdullah berkata lagi, “Demi Allah, aku pun berpendapat seperti itu, ibu! Hanya saja aku khawatir orang-orang Syam itu akan menyayat-nyayat dan menyalib tubuhku bila aku terbunuh.”
Sang ibu kembali menegaskan, “Anakku, sesungguhnya kambing tidak akan merasakan sakitnya dikuliti lagi setelah disembelih. Teruskan langkahmu, dan mintalah pertolongan kepada Allah.”
Ketika keduanya berpelukan mengucapkan selamat berpisah, tangan sang bunda menyentuh baju besi yang dipakai Abdullah. Asma’ pun berkata, “Apa-apaan ini, Abdullah? Orang yang memakai ini adalah orang yang menginginkan sesuatu yang tidak engkau inginkan!”
Abdullah segera melepas baju besinya dan keluar untuk berperang dengan gagah berani. Usia Abdullah yang tak lagi muda membuatnya hanya bertahan beberapa saat sebelum akhirnya terbunuh.
Hajjaj lalu memerintahkan agar jenazah Abdullah bin Zubair disalib tinggi di sisi Ka’bah dengan harapan ibunya akan melihatnya sehingga hatinya akan melemah dan tunduk kepada pemerintah. Namun tak seperti yang diharapkan Hajjaj, ketika ibunda Abdullah bin Zubair thawaf dan melihat jasad anaknya tergantung tinggi, ia justru tersenyum dan berkata, “Aku bangga padamu, anakku. Ketika hidup, engkau lebih tinggi dari orang-orang di sekitarmu. Ketika mati pun engkau tetap lebih tinggi dari orang-orang di sekitarmu.”
Dalam riwayat lain disebutkan, Hajjaj berkata kepada Asma’ dengan angkuh, “Bagaimana pendapatmu tentang apa yang kuperbuat terhadap anakmu, wahai Asma’?”
Dengan datar Asma’ menjawab, “Engkau telah memporakporandakan dunianya, sedang dia telah memporakporandakan akhiratmu.”
Abdullah bin Zubair gugur pada 17 Jumadil Awwal 73 H, dan beberapa hari kemudian sang ibu menyusulnya berpulang ke rahmatullah. Meski wafat dalam usia hampir 100 tahun, jasad Asma’ masih terlihat cantik, dan tak ada satu pun giginya yang tanggal.
Disarikan: Majalah ALKISAH No. 12 Tahun V, Almanak Halaman 126-128.
Penulis : Harun Al Rasyid
Editor : Shoim Karim







