Halaqah Pengasuh Pesantren Jawa Timur: SAKA PBNU dan KH Nasih Aschal Tekankan Pendekatan Psikologi dalam Pengasuhan

oleh -81 Dilihat

Pasuruan, 2 Juni 2026 – Sinergi struktural antar komponen internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kian dipererat dalam rangka memutus mata rantai tindak kekerasan di lingkungan pendidikan agama. Melalui forum strategis “Halaqah Syuriah NU dan Pengasuh Pondok Pesantren” yang diselenggarakan sebagai pilar inti dari Roadshow Gerakan Pesantrenku Aman di Ponpes Al-Yasini Pasuruan, aspek penguatan kompetensi psikologis pengurus asrama menjadi sorotan utama.

Forum halaqah bergengsi ini dihadiri oleh perwakilan pengasuh dari 42 pondok pesantren terkemuka di wilayah Jawa Timur. Langkah kolaboratif ini didasari oleh keputusan strategis dari hierarki tertinggi organisasi yang secara resmi membentuk unit taktis khusus bernama Satuan Anti Kekerasan (SAKA) Pesantren.

Mewakili Ketua SAKA PBNU Nyai Hj. Alissa Wahid, Gus H. Ulun Nuha secara lugas memaparkan landasan hukum dan mandat kelembagaan yang melatarbelakangi gerakan preventif ini di hadapan para kiai dan nyai peserta halaqah.

“Berdasarkan keputusan Rapat Syuriyah, PBNU membentuk satuan kerja yang disebut dengan SAKA yang dikomandani oleh Nyai Hj Alissa Wahid,” urai Gus Ulun Nuha dalam sambutannya.

Gus Ulun Nuha menambahkan bahwa pembentukan SAKA bertujuan untuk membangun benteng pertahanan yang inklusif bersama badan otonom dan lembaga NU lainnya.

“SAKA Pesantren bekerjasama dengan berbagai organisasi utama di internal PBNU, dalam hal ini RMI NU, mengadakan dukungan dan halaqah-halaqah serta deklarasi pesantrenku aman. PBNU memberikan mandat kepada RMI untuk mengawal santri-santri agar mendapatkan pendidikan terbaik,” jelasnya menegaskan keterpaduan program kerja tersebut.

 

Respons positif dan pemikiran aplikatif muncul dari ruang sidang halaqah. Ketua Umum Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Bangkalan, KH. Nasih Aschal, yang hadir langsung sebagai peserta aktif halaqah, menyampaikan pandangan esensial mengenai tata kelola kedisiplinan santri di era kontemporer. Menurutnya, pola pengasuhan oleh para pembina kamar (musyrif/musyrifah) harus bergeser dari sekadar penerapan sanksi fisik menuju pemahaman aspek kejiwaan anak didik.

“Musyrif atau Pengurus Pesantren perlu memahami pendidikan psikologi agar bisa memberikan rasa aman kepada santri serta bisa menangani setiap permasalahan yang dihadapi oleh santri dengan lebih tepat yang berorientasi kepada membangun dan pembinaan bukan hanya sebatas hukuman,” tegas KH. Nasih Aschal.

Puncak dari forum halaqah dan pelatihan ini ditandai dengan pembacaan bersejarah “DEKLARASI PASURUAN MEWUJUDKAN PESANTRENKU AMAN” yang mengusung tema “Menjaga Amanah, Merawat Masa Depan”. Amanah untuk membacakan ikrar ini diserahkan kepada tiga tokoh pengasuh pesantren terkemuka, yakni Ketua Umum Ponpes Syaichona Moh. Cholil Bangkalan (KH. Nasih Aschal), Pengasuh Ponpes Darul Ulum Jombang, dan Pengasuh Ponpes Darussalam Blokagung Banyuwangi.

Dalam naskah deklarasi tersebut, ditegaskan bahwa mewujudkan pesantren aman merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari khidmah pesantren dalam menjaga santri sebagai amanah Allah SWT yang dititipkan untuk dididik dan dijaga masa depannya.
Melalui deklarasi ini, seluruh elemen pesantren menyatakan lima komitmen utama, yaitu:

  1. Menguatkan Sistem Pengasuhan Berbasis Kemaslahatan Santri.
  2. Menetapkan Kebijakan dan Mekanisme Perlindungan Santri.
  3. Membentuk Satgas Pesantren Aman.
  4. Menyediakan Lingkungan, Infrastruktur, dan Saluran Pengaduan yang Aman.
  5. Membangun Partisipasi dan Budaya Pesantren Aman.

Deklarasi ini diakhiri dengan ikrar ikhtiar bersama para ulama untuk mewujudkan pesantren sebagai tempat menuntut ilmu dan membangun akhlak dalam suasana yang aman, nyaman, bermartabat, dan penuh keberkahan.

Author: Zainal Arifin

Editor: Fakhrullah

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.