Menurut keterangan dari sebagian santri dan muhibbin beliau, huruf “S” itu merupakan singkatan dari kata “Syaikh,” yang berarti tuan guru.
Sedangkan menurut penuturan dari sebagian keluarga besar beliau, huruf “S” itu singkatan dari kata “Shofiyullah,” sebuah nama setelah beliau haji.
Akan tetapi setelah ditanyakan kepada beliau sendiri, huruf “H” dan “S” itu singkatan dari kata “Hanya Sumtin,” karena beliau ingin ketikan nama beliau disebut nama istri tercintanya yang bernama Sumtin juga ikut disebut. Mungkin itu adalah ungkapan romantis beliau kepada sang istri.
Demikian itu pemaparan tentang tiga huruf yang ada di depan nama beliau, yang didapat dari beberapa sumber kabar, dan juga sebagaimana sebutkan oleh KH. Abdullah Hanani Basyamka dari video-video yang telah beredar.
Sementara nama yang ada di belakang nama beliau, yakni nama “Schal,” itu adalah singkatan dari bahasa Arab yang diambil dari kata “Salilul Chalil,” yang berarti keturunan dari Syaichona Moh. Cholil sang waliyullah.
Barangkali sebagai “tafaulan,” mengharap barakah dari sang kakek. Seperti Imam Syafi’i misalnya. Nama aslinya adalah Muhammad bin Idris, tapi kemudian lebih dikenal dengan sebutan Imam Syafi’i, nisbat kepada kakeknya yang bernama Syafi’ yang merupakan salah satu dari sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum.
Salah satu motivasi dan “doa” KHS. Abdullah Schal untuk santri-santrinya :
“Kancah santreh Demangan panikah tak penter hokom santreh pondhuk-pondhuk laen, tapeh mun pleman dheddhih res laresen.”
(Santri Demangan itu tidak alim seperti santri di pondok-pondok lain, tapi kalau sudah boyong, di masyarakat jadi paling laku dan bermanfaat)