Dhemarrah (Lampu) Demangan

oleh -174 Dilihat

Tahun 1925 M. Syaikhana Moh. Kholil wafat, kepemimpinan Pondok Demangan diasuh oleh RKH. Imron bin Syaikhana Muhammad Khalil. RKH. Imron bin KH. Moh. Kholil termasuk ulama majdzub yang sempurna (tidak mengenal orang dan hanya fokus kepada Allah), mirip seperti al-Marhum KH. Khalilurrahman (Ra Lilur).

Beliau tidak pernah menemui santri, tamu-tamu dan siapapun di pesantren. Akan tetapi beliau sering ditemui orang di pesisir-pesisir pantai, daerah Bangkalan sampai ke timur daerah Sumenep.

Lantaran itu di pesisir-pesisir pantai itu banyak ditemukan petilasan-petilasan yang pernah dibangun oleh RKH. Imron bin KH. Mih. Kholil. Dan bahkan beliau juga wafatnya di daerah pesisir kecamatan Sepuluh Bangkalan.

Dalam keadaan seperti itu, maka Pondok Pesantren ditangani oleh menantu beliau yang bernama KH. Muntasor bin Muhammad yang mempunyai istri Nyai Hj. Nadhifah dan mempunya putra KH. Zubair Muntasor (Pengasuh PP Nurul Cholil).

Waktu sekitar kurang satu tahun dari wafatnya KH. Imron, beliau berkata kepada salah satu khaddamnya, “Tang dhemar koni’ih.” (Tolong lampu saya diambilkan). Oleh khaddamnya diambilkan lampu minyak teplok. “Benni riah tang dhemar, tang dhemar ghik bedeh e laoeh tasek, ghik bedeh neng Jhebeh.” (Bukan itu lampu saya, lampu saya masih ada di selatannya lautan, masih ada di Surabaya) jawab KH. Imron.

Ternyata yang dimaksud lampu oleh KH. Imron adalah KHS. Abdullah Schal, terbukti setelah itu beliau datang dari pondok (boyong). Setelah datang dari pondok, KHS. Abdullah Schal disuruh sowan ke daerah Sepuluh kepada kakeknya KH. Imron.

Saat itu, kepemimpinan pondok sudah tidak dipegang KH. Imron lagi, tapi dipasrahi kepada KH. Fathur Rozi bin KH. Zahrowi, kakak dari KHS. Abdullah Schal.

Ketika sowan ke daerah Sepuluh, KHS. Abdullah Schal dipanggil oleh KH. Imron, “Makeh andik lomari genteng mun lok eyangghui ghebei apah. Angghui lomarinah, mareh amanfaat, aghunah.” (Meskipun punya lemari bagus, kalau tidak dipakai buat apa. Pakai lemarinya, biar bermanfaat dan berguna) tutur KH. Imron seraya menasihati. Tapi KH. Abdullah Schal belum mengerti maksud perkataan KH. Imron tadi. Hingga akhirnya ditegaskan kembali oleh KH. Imron, “Mun la bedeh lomarinah, esse’eh. Ghuna’aghih angghui, male amanfaat.” (Kalau sudah ada lemarinya, disisi. Gunakan, dan dipakai biar bermanfaat).

Pulang dari Sepuluh ke Demangan, KHS. Abdullah Schal langsung matur kepada KH. Fathur Rozi sebagai kakak, sekaligus pengasuh pesantren waktu itu. “Ghi mun sanikah, kak, toreh kuleh pa biniin.” (Ya kalau seperi itu, kak. Ayo saya carikan seorang istri) “Iyeh, be’eh la abinih ayuh.” (Iya, ayo silahkan kamu beristri) Jawab Kyai Fathur Rozi.

Oleh : Shofiyullah El-Adnany

Publisher : Fakhrul

Semoga kita dan anak cucu mendapatkan barakah beliau. Aamiin…

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.