Masih seputar catatan Imam al-Ghozali tentang biografi Imam asy-Syafi’i ra, ibadah, kezuhudan, kealiman dalam segala disiplin ilmunya. Kali ini Imam al-Ghozali membuat catatan tentang kezuhudan Imam asy-Syafi’i ra, beliau menuliskan: “Adapun kezuhudan Imam asy-Syafi’i ra, sungguh beliau sendiri telah berkata:
من ادعى أنه جمع بين حب الدنيا وحب خالقها في قلبه فقد كذب
“Barangsiapa mengaku bahwa ia bisa mengumpulkan antara cinta kepada dunia dan cinta kepada Sang Pencipta dunia di dalam hatinya, maka sungguh ia itu berbohong”.
Al-Humaidiy berkata:
خرج الشافعي رحمه الله إلى اليمن مع بعض الولاة فانصرف إلى مكة بعشرة الآف درهم فضرب له خباء في موضع خارجاً من مكة فكان الناس يأتونه، فما برح من موضعه ذلك حتى فرقها كلها. وخرج من الحمام مرة فأعطى الحمامي مالاً كثيراً. وسقط سوطه من يده مرة فرفعه إنسان إليه فأعطاه جزاء عليه خمسين ديناراً وسخاوة الشافعي رحمه الله أشهر من أن تحكى ورأس الزهد السخاء، لأن من أحب شيئاً أمسكه ولم يفارق المال إلا من صغرت الدنيا في عينه وهو معنى الزهد
“Imam Asy-Syafi’i ra pernah pergi ke Yaman bersama beberapa orang pembesar negeri. Lalu ia berangkat ke Makkah dengan membawa uang sepuluh ribu dirham. Di luar kota Makkah beliau dibangunkan sebuah tempat tinggal. Lantas berdatanganlah orang-orang berkunjung kepada beliau. Beliau tidak pernah beranjak dari tempat itu hingga semua uang beliau habis dibagi-bagikan. Pada suatu hari, Imam asy-Syafi’i ra keluar dari pemandian umum, lalu beliau diberikan uang yang banyak kepada penjaga pemandian itu. Dan pada suatu hari tongkat beliau jatuh dari tangan beliau, lalu ada seseorang yang mengambilkan tongkat itu dan diserahkan orang kepada beliau. Maka untuk berterima kasih kepada orang itu, Imam asy-Syafi’i ra memberikannya uang sebesar 50 dinar. Kedermawanan Imam asy-Syafi’i ra, lebih terkenal dari apa yang diceritakan. Adapun pangkal zuhud adalah kedermawanan karena orang yang mencintai sesuatu, maka ia akan menahannya dan tidak ingin berpisah dari harta kecuali dunia (harta) yang paling kecil (remeh) di matanya.
Menurut catatan Imam al-Ghozali: “Adapun sesuatu yang membuktikan kuatnya zuhud, sangatnya takut kepada Allah ﷻ dan besarnya tekad beliau pada urusan akhirat, adalah kisah yang telah diriwayatkan Sufyan bin Uyainah dalam kitab ar-Raqaiq saat terdengar berita pingsannya Imam asy-Syafi’i. Lalu ada orang yang berkata kepadanya:
“Imam asy-Syafi’i telah meninggal dunia”.
Mendengar berita itu Sufyan bin Uyainah berkata:
إن مات فقد مات أفضل زمانه
“Jika beliau telah meninggal dunia, maka sungguh telah wafat orang yang paling utama di zamannya.”
Dan kisah yang diceritakan Abdullah bin Muhammad al-Balawiy, ia berkata: “Pada suatu hari aku dan Umar bin Nabatah duduk-duduk sembari memperbincangkan orang-orang yang ahli ibadah dan orang-orang yang zuhud. Lantas Umar berkata kepadaku:
ما رأيت أورع ولا أفصح من محمد بن إدريس الشافعي له
“Belum pernah aku melihat orang yang lebih wara’ dan fasih dibanding Muhammad bin Idris asy-Syafi’i ra.”
Masih cerita Abdullah bin Muhammad al-Balawiy, ia berkata: “Di suatu hari aku dan beliau (Imam asy-Syafi’i) serta al-Harits bin Labid menuju bukit Shifa, di mana al-Harits adalah murid dari Syaikh Sholeh bin al-Mariy, lalu al-Harits yang kenal memiliki suara indah membaca dua ayat dari surat al-Mursalat:
هَذَا يَوْمُ لَا يَنطِقُونَ، وَلَا يُؤْذَنُ لَهُمْ فَيَعْتَذِرُونَ
Artinya: “Ini adalah hari, yang mereka tidak dapat berbicara, dan tidak diizinkan (berbicara) sehingga (dapat) meminta maaf. (QS. Al-Mursalat: 35-36).
Lalu aku melihat kepada Imam asy-Syafi’i, dan sungguh berubah warna wajah beliau, badan beliau bergetar hebat lalu jatuh pingsan. Ketika beliau telah siuman, beliau berkata (berdoa):
أعوذ بك من مقام الكاذبين وإعراض الغافلين، اللهم لك خضعت قلوب العارفين وذلت لك رقاب المشتاقين، إلهي هب لي جودك وجللني بسترك واعف عن تقصيري بكرم وجهك
“Aku berlindung kepada-Mu dari kedudukan orang-orang yang berdusta dan penyelewengan orang-orang yang lalai. Ya Allah, kepada-Mu patuh hati para Arifin (orang yang mengenal Allah ﷻ) dan kepada-Mu tunduk leher para musytaqin (orang-orang yang rindu kepada Allah ﷻ). Tuhanku! Anugerahilah kepadaku kedermawanan-Mu, Muliakanlah aku dengan lindungan-Mu, Ampunilah keteledoranku dengan kemurahan dari sisi-Mu”.
Abdullah bin Muhammad Al-Balawiy berkata: “Kemudian beliau pergi dan kami pun ikut pergi. Tatkala aku memasuki Bagdad dan Imam asy-Syafi’i ra tinggal di Irak. Aku duduk di tepi sungai berwudhu untuk melakukan sholat. Tiba-tiba ada seorang pria lewat disampingku, seraya berkata kepadaku: “Wahai anak muda! Berwudlulah dengan baik, niscaya Allah ﷻ akan memberikan kebaikan kepadamu di dunia dan di akhirat”. Lalu aku menoleh, ternyata aku menemukan seorang pria yang diikuti oleh banyak orang. Maka aku bergegas menyelesaikan wudhu dan mengikutinya dari belakang. Setelah itu pria itu memandang ke arahku sembari bertanya:
“Apakah Anda punya keperluan?”.
“Iya!”, jawabku.
“Ajarilah aku tentang pengetahuan yang dianugerahi Allah ﷻ kepadamu”.
Lalu orang itu menjawab:
اعلم أن من صدق الله نجا، ومن أشفق على دينه سلم من الردى، ومن زهد في الدنيا قرت عيناه بما يراه من ثواب الله تعالى غدا، أفلا أزيدك؟
“Ketahuilah! Orang yang membenarkan Allah ﷻ niscaya ia akan selamat dan barang siapa yang sayang kepada agamanya, niscaya ia akan selamat dari kehinaan. Barang siapa yang zuhud pada dunia, niscaya ia hatinya merasakan kesejukan dengan apa yang ia yakini berupa pahala dari Allah ﷻ kelak. Apakah mau aku tambahkan lagi?”.
“Iya!”, jawabku.
Lalu orang itu melanjutkan perkataannya:
من كان فيه ثلاث خصال فقد استكمل الإيمان : من أمر بالمعروف وانتمر ونهى عن المنكر وانتهى، وحافظ على حدود الله تعالى، ألا أزيدك ؟
“Barang siapa berada dalam tiga keadaan, maka imannya telah sempurna: “Orang yang mengajak kebaikan (pada orang lain) dan ia melakukan perintah itu, orang yang melarang kemungkaran (pada orang lain) dan ia menjauhi larang itu, orang yang menjaga batas-batas yang ditentukan Allah ﷻ.
Apakah mau aku tambahkan lagi?”. Tanya orang itu.
“Iya!”, jawabku.
Lalu orang itu melanjutkan perkataannya:
كن في الدنيا زاهداً وفي الآخرة راغباً واصدق الله تعالى في جميع أمورك تنج مع الناجين
“Hendaklah kamu zuhud di dunia, gemar ke akhirat dan membenarkan (menghadirkan) Allah ﷻ dalam segala urusanmu, niscaya engkau akan selamat bersama dengan orang-orang selamat.”
Setelah itu orang itu berlalu, lalu bertanya siapakah orang itu?
Mereka menjawab: “Dia Imam asy-Syafi’i.”
Imam al-Ghozali mencatat: “Lihatlah! Saat beliau (Imam asy-Syafi’i) jatuh pingsan, kemudian renungkan nasehat-nasehat beliau. Betapa semua itu menunjukan kezuhudan beliau, puncak Khan (rasa takut kepada Allah ﷻ) beliau dan khauf serta zuhud itu tidak akan bisa diperoleh kecuali dari ma’rifat kepada Allah ﷻ. Sesungguhnya:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Artinya, “Hanya saja yang takut kepada Allah dari sekian hamba-Nya adalah ulama,” (QS. Fathir: 28).
Bukanlah khauf dan zuhud didapat dari ilmu bab akan Salam (pesanan), akan Ijarah (sewa) dan bab-bab ilmu fikih bahkan didapat dari ilmu-ilmu akhirat yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadits karena hukum ulama-ulama terdahulu dan kemudian terkandung di dalam keduanya. Waallahu A’lam
Penulis: Abdul Adzim
Publisher: Fakhrul
Referensi:
✍️ Al-Imam Abu Hamid bin Muhammad al-Ghozali| Ihya Ulumiddin| Daru al-Fikr, juz 1, halaman 21-22.






