Pasca wafatnya Syaichona Moh. Kholil yang melanjutkan estafet kepengasuhan Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Demangan adalah KH. Muhammad Imron bin Syaikhona Muhammad Kholil. Namun, KH. Muhammad Imron menjadi penerus Syaikhona Moh. Kholil di Demangan tidak berlangsung lama, kurang lebih selama enam bulan. Hal ini karena pada saat itu KH. Muhammad Imron dalam keadaan majdub.
Riwayat Hidup KH. Muhammad Imron
Pernikahan Syaikhona Moh. Kholil dengan Nyai Raden Ayu Arbi’ah keturunan bangsawan dari Longapan, Kemayoran Bangkalan dikaruniai 2 putra, yaitu Muhammad Badawi dan Muhammad Imron. Sang Kakak Muhammad Badawi meninggal di usia 5 Bulan. Sedangkan Muhammad Imron lahir pada malam Senin, 3 Jumadil Ula 1292 H/7 Juni 1875 M. Tidak banyak diketahui tentang masa kecil KH. Muhammad Imron karena kurangnya sumber yang tepat untuk dijadikan acuan.
Setelah dewasa, KH. Muhammad Imron Menikah dengan Nyai Muthmainnah yang berasal dari Desa Sabreh, Tanjung Bumi, Bangkalan. Dari Pernikahannya beliau dikaruniai lima orang anak yaitu:
- Nyai Romlah (Ibunda KHS. Abdullah Schal)
- Nyai Aminah (Ibunda KH. Fattah Senenan)
- Nyai Nadhifah (Ibunda KH. Zubair Muntashor)
- KH. Makmun
- KH. Amin (Ayah RKH. Fuad Amin Imron).
- Muhammad Imron juga memiliki istri lain yang bernama Nyai Maimunah dan dikaruniai empat orang anak yaitu:
- KH. Munawir (Wafat di Mekkah)
- Nyai Na’imah (ibu dari KH. Ahmad Juwaini, KH. Abdul Mu’ti Kholili, dan KH. Abdul Mughni)
- Nyai Arfiyah (ibu dari Nyai Badriyah, KH. Komaruddin Rofi’i, KH. Musyaffak Rofi’i, KH. Drs. M. Syafik Rofi’i. (Wabup Bangkalan 2013-2008), KH. Abdul Kadir Rofi’i, Nyai Nafi’ah Rofi’i, dan KH. Ir. Mondir Rofi’i)
- Nyai Jamaliyah (Ibu dari Nyai Rohmah, Nyai Syarifah, KH. Uwaisul Qoroni, Nyai Kholidah,
- Muhammad Imron, Nyai Zakiyah, Nyai Sa’adatud Daroini, dan Nyai Makkatul Mukarromah).
Pendidikan KH. Muhammad Imron
Bukan menjadi rahasia lagi bahwa umumnya putra seorang kiai mendapatkan pendidikan pertamanya dari keluarganya sendiri, termasuk dalam hal ini KH. Muhammad Imron bin Syaikhona Muhammad Kholil. Tidak banyak informasi atau sumber data yang mencatat dan menceritakan perihal potret pendidikan KH. Muhammad Imron.
Menginjak dewasa, rihlah keilmuan KH. Muhammad Imron dilanjutkan di Makkah. Hal ini mengacu pada sebuah naskah berbentuk surat tulisan tangan yang ditemukan di Jengkebuan bertanggal 13 R. Awal 1315 H/12 Juli 1897 M. Surat tersebut ditulis oleh KH. Muntaha bin KH. Kaffal yang ditujukan kepada KH. Muhammad Imron bersama KH. Hasan saudaranya dan Abdul Rozak bin Sridin yang sedang mengenyam pendidikan di Makkah. Ditemukannya surat tersebut merupakan bukti konkrit bahwa KH. Muhammad Imron pernah mondok di Makkah.
Dikisahkan bahwa selama berada di Makkah KH. Muhammad Imron adalah sosok yang sangat tekun dan gigih dalam belajar (mujahadah fi at-tholab). Hal ini beliau lakukan karena ingin mengikuti jejak langkah sang ayah, yakni Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan.
di Selama keberadaannya dikabarkan bahwa KH. Muhammad Imron sempat mulang (mengajar) kitab di Demangan, tetapi beliau lakukan secara sembunyi-sembunyi. Pada saat itu yang ikut mengaji kitab kepada KH. Muhammad Imron hanya santri-santri tertentu, diantaranya adalah KH. Yasin Kepang. Kemudian suatu ketika pengajian yang diasuh KH. Muhammad Imron tersebut diketahui oleh santri-santri yang lain dimana mereka juga berkeinginan mengaji kepada beliau.
Konon santri dari Jawa yang dulunya pernah mengaji kepada Syaikhona Moh. Kholil juga berbondong-bondong ke Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Demangan karena ingin mengaji kepada KH. Muhammad Imron.
Bermula dari kejadian itulah, KH. Muhammad Imron tidak kerso (mau) lagi mulang kitab di Demangan dan kemudian pindah ke Jengkebuan, pondok pertama yang didirikan oleh Syaikhona Moh. Kholil Selama di Pondok Jengkebuan KH. Muhammad Imron juga dikabarkan mulang (mengajar) kitab terhadap keponakannya. Diantara yang ikut mengaji saat itu adalah KHS. Abdullah Schal.
Menurut penuturan H. Hafidz, Pondok Demangan sewaktu ditinggal oleh Syaikhona Moh. Kholil, secara resmi tidak ada pengasuhnya. KH. Muhammad Imron yang menjadi putra laki-laki tidak begitu aktif. Namun ada juga santri yang bacaan al-Qur’annya disimak langsung oleh KH. Muhammad Imron.
Rihlah dari Pesantren
Selang beberapa waktu setelah wafatnya Syaikhona Moh. Kholil, KH. Muhammad Imron tidak lagi menetap di Pondok Pesantren Jengkebuan maupun Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Demangan. Beliau malah lebih sering ada di luar, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain khususnya daerah pesisir. Seperti Desa Gebang Arosbaya, Sabreh Tanjung Bumi, Prancak Sepuluh, Nepa Banyuates, bahkan sampai Ambunten Sumenep dan Pulau Masalembu Sumenep.
Salah satu ciri kemajdzub-an beliau sewaktu berada di Desa Gebang Arosbaya yaitu kesehariannya yang jarang menggunakan baju, bahkan pernah sampai telanjang. Namun, lisannya tak henti-henti berdzikir “Ya Allah…”. Hal ini menunjukan bahwa telah hilang kesadaran diri dan sudah sampai pada tahap dimana individu beliau telah melebur dengan Ilahi sehingga tidak lagi menghiraukan keadaan dzahirnya.
Keberadaan KH. Muhammad Imron di Desa Gebang sering kali di-sowani oleh masyarakat setempat. Bahkan ada yang dari luar kota datang untuk sowan kepada KH. Muhamamd Imron yang tujuannya tidak lain untuk tabarrukan (meminta berkah).
Dikisahkan suatu ketika KH. Muhammad Imron pernah diminta oleh salah satu masyarakat guna memimpin acara tahlilan dan beliau meng-iyakan tanda berkenan hadir. Namun, beliau memimpin tahlil cukup dengan membaca Basmalah dan memerintah para jamaah tahlil untuk langsung menikmati hidangan yang telah disediakan oleh tuan rumah, setelah itu beliau langsung pulang.
Dikisahkan bahwa semasa KH. Muhammad Imron berada di Desa Gebang, pernah terjadi kebakaran yang melahap hampir seluruh pemukiman masyarakat desa. Namun anehnya dhalem KH. Muhammad Imron dan bangunan sekitarnya tidak sedikitpun tersentuh api, sehingga pasca kejadian banyak yang terheran-heran dan berkeyakinan bahwa hal tersebut merupakan karomah KH. Muhammad Imron. Saat ini dhalem beliau dijadikan langghar (musholla) dan sering digunakan untuk pagelaran acara atau pengajian,
Muhammad Imron menetap di Desa Gebang selama 2 tahun, yaitu mulai dari tahun 1959 M sampai tahun 1961 M. Selama di Desa Gebang KH. Muhammad Imron juga banyak berinteraksi dengan masyarakat setempat yang saat itu masih terbilang awam sekali. Tak heran jika pada waktu itu banyak masyarakat yang tidak shalat dan marak sekali perjudian. Baru kemudian pada tahun 1967-an masyarakat desa tersebut mulai tercerahkan dengan nilai-nilai Islam.
Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa KH. Muhammad Imron dalam perjalanan hidupnya sering kali melancong dari satu tempat ke tempat lainnya. Adapun persinggahan terakhir KH. Muhammad Imron hingga menghembuskan nafas terakhirnya ialah di dhalem Kiai Muhammad Kholil Sadriyo” yang berada di Desa Prancak Kecamatan Sepulu Bangkalan.
Kisah awal mula KH. Muhammad Imron berkenan menetap di Desa Prancak hingga akhir hayatnya, bermula dari perjalanan beliau dari Pulau Masalembu Sumenep menuju pesisir pantai Desa Gebang dengan menumpangi perahu. Anehnya, di tengah perjalanan, tepatnya di tengah pantai Desa Prancak, perahu yang ditumpangi KH. Muhammad Imron enggan terus berlayar meski nahkoda perahu telah memeriksa perahu yang ditumpanginya. Penyebabnya pun tak kunjung ditemukan.
Akhirnya nahkoda meminta persetujuan para penumpang untuk menepi ke pesisir pantai. Setelah berlabuh, para penumpang langsung turun, begitu pula KH. Muhammad Imron. Beliau langsung menuju dhalem KH. Muhammad Kholil Sadriyo, tidak jauh dari tempat bertepinya perahu. Kedatangan KH. Muhammad Imron di dhalem KH. Muhammad Kholil Sadriyo bukanlah yang pertama kalinya, karena sebelum itu KH. Muhammad Imron sudah sering singgah di dhalem tersebut meski tidak menetap.
Sejak saat itulah tepatnya pada tahun 1961 M, KH. Muhammad Imron tinggal di dhalem KH. Muhammad Kholil Sadriyo di Desa Prancak Kecamatan Sepulu. Pada waktu itu pula KH. Muhammad Imron berhenti dari aktivitas melancong dari satu tempat ke tempat yang lain sebagaimana kebiasaan beliau (lok kasokan yos-miyosan pole) dan menetap di sana.
Di dhalem KH. Muhammad Kholil Sadriyo, KH. Muhammad Imron juga sering di-sowani banyak tamu dari berbagai daerah seantero Madura dan Jawa, bahkan ada yang dari luar Jawa. Setiap kali ada yang ingin (sowan) kepada KH. Muhammad Imron, tamu tersebut harus melalui KH. Muhammad Kholil Sadriyo terlebih dahulu, baru kemudian diantar ke kamar KH. Muhammad Imron. Batas maksimal tamu yang diperbolehkan masuk ke kamar KH. Muhammad Imron adalah 3 orang, karena ukuran kamar yang sangat sempit serta kursi yang disediakan hanya cukup untuk 3 orang.
Namun, meski telah dihaturkan oleh KH. Muhammad Kholil Sadriyo, KH. Muhammad Imron tetap tidak merespon tamu tersebut. KH. Muhammad Imron tetap dengan posisi tidur miring menghadap dinding. Setelah dirasa cukup lama menunggu dan beliaupun tak kunjung merespon, akhirnya KH. Muhammad Kholil Sadriyo memegang tangan KH. Muhammad Imron lalu mengulurkannya kepada tamu sembari mempersilahkan agar mencium tangan KH. Muhammad Imron.
Sikap KH. Muhammad Imron yang demikian tidak hanya terjadi kepada orang luar, bahkan terhadap keluarga beliaupun juga demikian. Sebagaimana yang pernah dialami oleh KHS. Abdullah Schal ketika hendak sowan kepada KH. Muhammad Imron di saat liburan pondok bersama Kiai Khoirussholeh yang merupakan putra dari KH. Muhammad Kholil Sadriyo.
Merupakan kebiasaan KHS. Abdullah Schal setiap kali pulang dari pesantren untuk sowan terlebih dahulu kepada kakeknya, yaitu KH. Muhammad Imron di Desa Prancak. Pernah pada suatu kesempatan, KHS. Abdullah Schal menghadap pada KH. Muhammad Imron dan kali ini terjadi hal yang berbeda. Dalam kesempatan ini KHS. Abdullah Schal mendapatkan wejangan dari KH. Muhammad Imron. Tentu hal ini merupakan momen yang tidak biasa dan membuat KHS. Abdullah Schal penasaran, karena biasanya KH. Muhammad Imron tidak merespon sama sekali meski telah dihaturkan oleh KH. Muhammad Kholil Sadriyo bahwa yang ingin sowan adalah cucunya sendiri.
Berikut adalah nasehat KH. Muhammad Imron kepada KHS. Abdullah Schal; “Oreng jiah, dik andik en mun lok eangghuy, mon lok e pataoh dek oreng, lok kerah etemmoh bik oreng jhek reng soghi”. (orang itu, yang ia miliki tidak dipakai, tidak diperlihatkan ke orang lain, tidak mungkin ada yang tau bahwa ia orang kaya).
Mendengar perkataan tersebut, KHS. Abdullah-pun tertegun, sebab perkataan KH. Muhammad Imron tersebut tidak sekedar nasehat melainkan semacam sindiran terhadap dirinya yang enggan mengisi pengajian kitab di asrama pondoknya (Sidogiri). Karena serasa telah mendapatkan angin segar, sekembalinya ke Pondok Pesantren Sidogiri, KHS. Abdullah Schal berkenan dan semangat sekali berbagi ilmu lewat pengajian di asrama Pondok Pesantren Sidogiri.
Hal serupa juga pernah dialami KH. Fathurrozi sewaktu pulang dari Kota Makkah. Beliau tidak langsung ke Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Demangan, melainkan sowan terlebih dahulu kepada kakeknya KH. Muhammad Imron di desa Prancak dan mendapatkan perlakukan sebagaimana KHS. Abdullah Schal
Wafatnya KH. Muhammad Imron
Berdasarkan salinan tulisan tangan KH. Muhammad Kholil Sadriyo menyebutkan sebagaimana berikut;
Maklumat
Telah wafat al-Maghfurlah KH. Muhammad Imron bin Kiai Muhammad Kholil Demangan Bangkalan.
Hari: Senin Kliwon
Tanggal : 17 R. Awwal 1384 H (27 Juli 1964 M)
Jam 15:30 Waktu Ashar
Tempat: Rumahnya H. Kholil Sadriyo, Desa Prancak Sepulu Bangkalan
Dipindah ke Demangan malam selasa manis
Jam: 19.00 Waktu Isya’
Dimakamkan Hariselasa, Jam 15:30 di Martajasah Bangkalan
Penulis: al-Faqir H. Muhammad Kholil Sadriyo
Menurut penuturan RKH. Fakhruddin Aschal, KH. Muhammad Imron sebelum wafat pernah berwasiat jika nanti meninggal dunia agar dimakamkan di Desa Prancak Sepulu Bangkalan. Namun, saat mendengar kabar dari Desa Prancak bahwa KH. Muhammad Imron telah wafat dan akan dikebumikan di sana. Nyai Romlah adalah satu-satunya yang tidak setuju dan meminta agar KH. Muhammad Imron dibawa ke Pondok Demangan dan dimakamkan di Pasarean Martajasah. Bahkan Nyai Romlah sendiri yang akan membawa jenazah KH. Muhammad Imron ke Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Demangan jika tidak ada satupun yang setuju untuk memindahkan KH. Muhammad Imron.
Makam KH. Muhammad Imron di Komplek Pemakaman Martajasah di samping ayahnya Syaikhona Moh. Kholil.\
Publisher: Fakhrul




