
(30/07/25) Malam Kamis Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil menyelenggarakan acara Bahtsul Masail Triwulan se-Madura. Kegiatan unggulan ini dihelat oleh Majlis Munadhoroh wal Maktabah (M3) sebagai wadah diskusi masalah-masalah keagamaan aktual bagi pesantren se-Pulau Madura.
Sebanyak 25 pondok pesantren diundang dan berpartisipasi dalam acara tersebut. Pelaksanaan berlangsung di Aula Lantai Dasar Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil. Acara terbagi dalam dua jalsah: jalsah pertama berlangsung pada malam Kamis pukul 19.30 WIB hingga 00.00 WIB, dilanjutkan dengan jalsah kedua pada pagi hari Jumat, 31 Juli 2025, mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai.
Acara secara resmi dibuka oleh RKH. Muhammad Ismail Yahya Al-Ascholy selaku Ketua I Bidang Madrosiyah Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil. Pembukaan ini menandai dimulainya forum diskusi ilmiah yang melibatkan perwakilan pesantren se-Madura.
Taufiqur Rahman, mewakili Ketua Panitia, menyampaikan ucapan terima kasih atas kehadiran seluruh undangan. Ia juga memohon maaf jika terdapat kekeliruan dalam sikap maupun kekurangan pada hidangan yang disajikan. Dengan merendah hati, panitia mengibaratkan pelaksanaan acara ini dengan peribahasa, “maksud hati ingin memeluk gunung, tapi apalah daya tangan tak sampai,” yang menggambarkan upaya maksimal meski menyadari kemungkinan kekurangan.
Sambutan kedua disampaikan oleh Ustad Zainal Arifin, M.Pd., selaku Sekretaris Umum Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil, mewakili Ketua II yang berhalangan hadir. Beliau menegaskan pentingnya Bahtsul Masail sebagai sarana untuk tidak menerima informasi secara mentah-mentah. “Adanya ajang bahtsul masail ini termasuk salah satu momentum agar bagaimana sebenarnya kita ketika dihadapkan dengan sebuah ibaroh tidak telan mentah-mentah tapi kita bisa pahami, telisik dan kita amalkan sesuai dengan aturan syariat,” ujarnya.
Ustad Zainal Arifin juga menyampaikan harapan kepada pengurus pesantren, khususnya Majlis Munadhoroh wal Maktabah (M3). Beliau berpesan agar M3 terus berkarya dalam mempertajam pemahaman santri, sehingga kita semua pantas atau setidaknya memantaskan diri untuk bisa diakui sebagai santrinya Syaichona Moh. Cholil dan semoga kita bisa diakui sebagai santrinya Syaichona Moh. Cholil.”* Harapan ini menekankan komitmen untuk menjaga tradisi keilmuan dan identitas sebagai penerus ulama besar tersebut.
Yang menjadi perumus dalam acara ini adalah Ustad Syafi’i Junaidi, S. Pd, Ustad Zainal Arifin, M. Pd, Ustad Ahmadi, S. Pd, Ustad Mufti Shohib, M. H sedangkan Mushohhih adalah KH. Mauridi masyhudi, Ust. Moh. Tuba, S. Pd
Reporter: Abdussalam






