Ibarat pepatah semakin tinggi seseorang mendaki, maka semakin kuat angin menerpa. Begitu pula semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar rasa iri hati, ingin dipuja, bangga diri dan merendahkan sesama datang menguji.
Oleh karena itu dalam kitab al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab, Syaikh Yahya bin Syaraf bin Muri bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jam’ah bin Hizam an-Nawawi ad-Dimasyqi (w. 676 h) atau yang dikenal dengan sebutan Imam Nawawi as-Syafi’i mengingatkan:
“Diantara (etika yang harus dimiliki orang yang berilmu) adalah:
الحذر من الحسد والرياء، والإعجاب واحتقار الناس وإن كانوا دونه بدرجات
Menjauhi dari (sifat tercela) seperti iri hati, pamer, bangga diri (sombong) dan menganggap remeh manusia yang lain meski status sosial mereka lebih rendah.”
Menurut beliau, penyakit-penyakit ini telah banyak menjangkit kepada orang-orang berilmu yang jiwanya kotor.
Adapun cara menghilangkan penyakit-penyakit tersebut, beliau memberikan beberapa obat berikut:
وطريقه في نفي الحسد أن يعلم أن حكمة الله – تعالى – اقتضت جعل هذا الفضل في هذا الإنسان؛ فلا يعترض، ولا يكره ما اقتضته الحكمة
Cara menghilangkan penyakit iri hati yaitu dengan menyadari bahwa hikmah Allah ﷻ yang menghendaki adanya karunia tersebut pada seseorang, maka selayaknya ia tidak menyanggah dan membenci hikmah yang telah Allah ﷻ kehendaki.
وطريقه فى نفى الرياء : أن يعلم أن الخلق لا ينفعونه ولا يضرونه حقيقة ؛ فلا يتشاغل بمراعاتهم فيتعب نفسه، ويضر دينه، ويحبط عمله، ويرتكب ما يجلب سخط الله، ويفوت رضاه
Cara menghilangkan penyakit pamer (ingin dipuja) yaitu dengan menyadari bahwa hakikat makhluk ciptaan Allah ﷻ tidak akan bisa memberi manfaat dan bahaya kepadanya. Maka hendaknya jangan sibuk memperhatikan mereka sehingga dapat melelahkan diri, membahayakan agama, menghapus amal baiknya, dibenci Allah ﷻ dan tidak mendapatkan ridhaan-Nya.
وطريقه فى نفى الإعجاب : أن يعلم أن العلم فضل من الله – تعالى – ومنة عارية فإن لله – تعالى – ما أخذ وله ما أعطى وكل شيء عنده بأجل مسمى، فينبغي ألا يعجب بشيء لم يخترعه، وليس مالكا له، ولا على يقين من دوامه
Cara menghilangkan penyakit bangga diri yaitu dengan menyadari bahwa ilmu adalah anugerah dari Allah ﷻ dan pemberian yang dipinjamkan kepadanya. Dia Allah ﷻ yang berhak mengambil dan Dia ﷻ yang berhak memberikan. Segala sesuatu yang ada pada dirinya dibatasi waktu yang telah ditentukan. Maka seharusnya ia tidak bangga diri dengan sesuatu yang tidak ia ciptakan, tidak ia miliki dan tidak meyakini keberlangsungannya.
وطريقه في نفى الاحتقار : التأدب بما أدبنا الله تعالى، قال الله تعالى ﴿فَلَا تُزَكُوا أَنفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى [النجم: ٣٢]. وقال تعالى : ﴿إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَنْقَنَكُمْ ﴾ [الحجرات : ١٣]، فربما كان هذا الذي يراه دونه أتقى الله – تعالى – وأطهر قلبا، وأخلص نية، وأزكى عملا ، ثم إنه لا يعلم ماذا يختم له به، ففى الصحيح : «إِنَّ أَحَدَكُمْ يَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ…» الحديث
Cara menghilangkan penyakit meremehkan orang lain adalah beretika dengan etika yang diajarkan Allah ﷻ kepada kita. Allah ﷻ telah berfirman:
فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ
Artinya: “Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa” (QS. An-Najm:23).
Dan Allah ﷻ berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ
Artinya: “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. (QS. Al-Hujurat: 13).
Bisa saja orang yang ia pandang rendah olehnya adalah orang yang lebih bertakwa, lebih bersih hatinya di sisi Allah ﷻ, lebih tulus niatnya dan lebih bersih amal perbuatannya. Kemudian ia tidak pernah tahu dengan perbuatan apa ia menutup akhir hidupnya. Dalam sebuah hadits shahih disebutkan:
إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إلاذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَايَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إلا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ
Artinya: Sesungguhnya salah seorang dari kalian, benar-benar beramal dengan amalan penduduk jannah (surga) sehingga jarak antara dia dengan jannah itu tinggal sehasta. Namun dia didahului oleh al kitab (catatan takdirnya) sehingga dia beramal dengan amalan penduduk neraka, maka diapun masuk ke dalamnya. Dan sunguh, salah deorang dari kalian beramal dengan amalan penduduk neraka hingga jarak antara dia dengan neraka tinggal satu hasta. Namun dia didahului oleh catatan takdir, sehingga dia beramal dengan amalan penduduk jannah, maka dia masuk ke dalamnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sebagai penutup Imam Nawawi, berdoa:
نسأل الله العافية من كل داء
“Aku memohon kepada Allah ﷻ keselamatan dari semua penyakit itu.” Amin.
Penulis: Abdul Adzim
Publisher: Fakhrul
Referensi:
✍️ Syaikh Yahya bin Syaraf bin Muri bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jam’ah bin Hizam an-Nawawi ad-Dimasyqi| Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab| Daru al-Kutub al-Ilmiyah, Juz 1, halaman 445-446.
✍️ Syaikh Syihafuddin Ahmad bin Muhammad bin Ali Ibnu Hajar al-Haitamiy| Al-Fathu al-Mubin Syarh al-Arba’in Li Imam an-Nawawi| Daru al-Kutub al-Ilmiyah, halaman 9.







