Prof. Dr. KH. Said Agil Husin Al-Munawar, M.A: Orang yang Tidur Sama Dengan Orang yang Mati

oleh -77 Dilihat

Rabu, 19 Februari 2024 Ponpes Syaichona Moh. Cholil gelar haul pertama Al-Marhumah Wal-Maghfurlaha Nyai. Hj. Muthmainnah Aschal, acara tersebut diisi dengan pembacaan sholawat Al-Habsy oleh Jam’iyah Az-Zahir yang dipimpin oleh Habib Ali Zainal Abidin

Di sela-sela acara, diisi dengan tausiyah oleh Prof. Dr. KH. Said Agil Husin Al-Munawar, M.A (mentri agama RI ke-21). Pada kesempatan itu, beliau menyampaikan dua hal penting, yaitu tentang ilmu dan tentang haul

Beliau mengatakan bahwa Ilmu adalah sesuatu yang perlu untuk dicari, makanya hukum mencarinya adalah wajib, karena dengan ilmu kita akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Beliau juga menegaskan bahwa, mencari ilmu tidak ada batas waktu, yang berarti harus tetap dicari sampai mati.

SIAPA YANG PALING BUTUH ILMU?

Seorang ulama ditanya oleh santrinya:

من أحوج الناس الى العلم ؟

“Siapa yang paling butuh ilmu pengetahuan?”

Maka jika kita yang ditanya pastinya menjawab ialah orang-orang bodoh (juhala’)

Akan tetapi ulama itu menjawab:

أحوج الناس الى العلم هم العلماء

“Yang paling butuh ilmu itu adalah ulama itu sendiri.”

Ditanya lagi mengapa demikian?

Maka dijawab:

لا تزال عالما ما كنت متعلما واذاستغميت كنت جاهلا

“Kamu tetap menyandang predikat seorang alim jika terus belajar, tapi jika sudah mandeg belajarnya, maka engkau menjadi orang yang bodoh.”

Maksudnya, yang paling butuh terhadap ilmu adalah para ulama, karena ketika ulama berhenti menuntut ilmu maka ilmunya akan semakin hilang sampai menjadi bodoh.

ORANG MATI DAN ORANG TIDUR

Haul diadakan agar menjadi sebuah keyakinan bagi kita yang masih hidup untuk berkomunikasi dan membuat hubungan kepada orang-orang yang sudah wafat.

Sayyidina Ali ketika ditanya maksud dari firman Allah QS. Az-Zumar ayat 42 yang berbunyi:

 ٱللَّهُ يَتَوَفَّى ٱلْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَٱلَّتِى لَمْ تَمُتْ فِى مَنَامِهَا ۖ فَيُمْسِكُ ٱلَّتِى قَضَىٰ عَلَيْهَا ٱلْمَوْتَ وَيُرْسِلُ ٱلْأُخْرَىٰٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍ مُّسَمًّى ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Allah yang mematikan jika dia berkendak untuk mematikan, kalau tidak, berarti ia sedang tidur. Kalau Allah kehendaki mati, maka Allah akan tahan ruhnya, dan jika dikehendaki hidup, maka akan dikembalikan lagi ruhnya.”

Maka Sayyidina Ali menjawab:

ان أرواح الأموات والأحياء تلتقي في منامها فتتعارفوا ما شاء الله لها فيمسك أرواح الأموات ويرسل أرواح الأحياء الى أجسادها

“Sesungguhnya ruh orang yang mati dan masih hidup bertemu di dalam mimpi, Allah yang menentukan batas waktunya. Jika sudah selesai, maka Allah menahan ruh orang yang mati dan mengembalikan ruh orang yang masih hidup sampai waktu yang sudah ditentukan.”

Ayat ini memberikan gambaran kepada kita bahwa, kematian bukan lah hal yang menakutkan. Kematian dan tidur itu sama, yaitu sama-sama nikmat dari Allah SWT.

Bagi orang yang beriman, kematian adalah sebuah sarana untuk mempercepat pertemuan dengan penciptanya yaitu Allah dan yang dicintainya, yaitu Rasulullah. Hanya saja kematian adalah rahasia Allah SWT.

Definisi Orang Mati

Al-Qur’an ketika menceritakan sebuah kematian itu di istilahkan menjadi 3, yaitu:

 الوفاة  الأجل  الموت

Kematian adalah sebuah rahasia, bahkan para ilmuwan sampai mengumpulkan lebih dari 20 definisi tentang kematian.

  1. Al-Maut: Kematian (mempunyai arti mati)
  2. Al-Ajal: Waktu (waktunya sudah datang)

فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ

  1. Al-Wafat: Sempurna (telah selesai sempurna kontraknya di dunia)

Jika kita membaca Hadist tentang proses penciptaan manusia, sebelum Allah menciptakan ruh, sudah ada kehidupan namanya hayah, lalu ditiupkan ruh dan dibentuk menjadi jasad, ketika sempurna telah lahir dan kemudian ia meninggal, Allah berfirman:

 كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

Dalam HR. Imam Muslim RA, Rasulullah bersabda:

ان الروح اذا قبض تبعه البصر

“Ruh ketika dicabut, maka mata akan mengikuti kepergiannya.”

Imam Nawawi RA (w. 676 H) ketika mensyarahi kitab shohih muslim, beliau berkata: “Mengapa mata menatap kepergian ruh? Karena Allah ingin memperlihatkan istana atau singgasana yang akan dihuninya ketika sudah berada di kehidupan akhirat yang kekal dan abadi.”

Maka dunia adalah perantara dua kehidupan kedepan yang disebut alam barzakh dan alam akhirat.

 وان الدار الاخرة لهي الحيوان

Sesungguhnya kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal dan abadi, kehidupan yang sudah tidak ada lagi namanya meninggal, dan untuk kesana kita memerlukan ilmu pengetahuan dan juga keimanan.

Sedangkan dunia adalah ladang akhirat:

الدنيا مزرعة الاخرة

Apa yang telah kita lakukan di dunia akan kita Terima nanti di akhirat. Jika baik, maka memperoleh pahala, dan jika tidak baik maka memperoleh adzab nanti di akhirat.

Author: Adibahkey

Editor: Fakhrullah

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.