Orang Buta Mengingkari Kata Majaz dan Isti’rah dalam al-Quran

oleh -148 Dilihat

Al-Quran adalah kalamullah (firman Allah ﷻ) yang diturunkan dengan gaya bahasa yang indah penuh sastra dan diakui semua kalangan, bahkan oleh sastrawan masa itu hingga sekarang. Keindahan bahasa al-Quran ini tidak hanya terletak pada susunan kalimatnya yang menawan, tetapi juga pada penggunaan gaya bahasa seperti tasybih (penyerupaan), kinayah (kiasan), majaz dan isti’arah (metafora) yang memperkaya makna dan memberikan kesan mendalam bagi pembaca dan pendengarnya.

Namun ada saja orang yang mengatakan bahwa dalam al-Qur’an tidak ada bahasa majaz dan isti’arah (metafora) hingga membutuhkan takwil atau tafsir. Entah apa kerena ia terlalu pinter atau pengetahuannya yang kebilinger.

Penulis jadi teringat akan anekdot yang pernah disampaikan Syaikh Ali ash-Shabuniy dalam kitab tafsir karya beliau:

ذكر أن عالماً ممن ينكر المجاز والاستعارة في القرآن الكريم جاء إلى شيخ فاضل عالم منكراً عليه دعوى المجاز – وكان ذلك السائل المنكر أعمى – فقال له الشيخ ما تقول في قوله تعالى ومن كان في هذه أعمى فهو في الآخرة أعمى وأضل سبيلا هل المراد بالعمى الحقيقة وهو عمى البصر ، أم المراد به المجاز وهو عمي البصيرة ؟ فبهت السائل وانقطعت حجته.

“Dikisahkan, bahwa ada seorang yang mengingkari kata-kata majaz dan isti’arah dalam al-Qur’an mendatangi Syaikh yang alim, kebetulan orang ingkar tersebut tunanetra. Lantas Syaikh itu berkata kepada orang tersebut: “Apa pendapat Anda tentang firman Allah ﷻ:

وَمَنْ كَانَ فِيْ هٰذِهٖٓ اَعْمٰى فَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ اَعْمٰى وَاَضَلُّ سَبِيْلًا ﴿الإسراء:۷

Artinya: “Dan barang siapa buta (hatinya) di dunia ini, maka diakhirat dia akan buta dan tersesat jauh dari jalan (yang benar)”. (QS. Al-Isra’: 72).

Apakah yang dimaksud kata “buta” dalam Ayat tersebut adalah pemaknaan secara hakikat (kebalikan majaz), yaitu buta mata? Atau yang dimaksud kata “buta” dalam Ayat tersebut adalah pemaknaan secara majaz, yaitu buta mata hatinya?

(Mendengar pertanyaan Syaikh itu) orang tersebut menjadi pucat pasi dan menyatakan kalah. Wallahu A’lamu.

Penulis: Abdul Adzim

Publisher: Fakhrul

Referensi:

✍️ Syaikh Ahmad bin Muhammad ash-Shawiy| Hasisyah ash-Shawiy ala Tafsir al-Jalalain| Daru al-Kutub al-Ilmiyah, juz 2, halaman 174.

banner 700x350

No More Posts Available.

No more pages to load.